Who Is Adam?

Who Is Adam?
Hanya Teman



Selepas makan malam, Adam dan Sisil memutuskan untuk pulang menuju ibu kota. Adam terlihat memeluk tubuh mungil Sisil, sesekali dia terlihat mengecupi kening istrinya.


Sisil yang sedari tadi penasaran akan sosok wanita yang terlihat begitu mengagumi Adam pun, langsung bertanya pada Adam.


"Mas! Aku boleh nanya sesuatu nggak sama Mas," tanya Sisil.


Mendengar pertanyaan dari istrinya, Adam pun langsung terkekeh. Dia lalu menunduk lalu mengecup bibir istrinya.


"Mau tanya apa?"


Adam mengangkat dagu Sisil dan menautkan bibirnya, rasanya Adam sangat suka saat menikmati manisnya bibir istrinya.


"Mas, ih! Ada Pak Sopir," kata Sisil.


"Ngga apa-apa, dia ngga lihat." Adam kembali menunduk, namun Sisil langsung menghindar.


"Kenapa?" tanya Adam.


"Siapa perempuan yang bernama Reina itu? Kenapa dia terlihat begitu mencintai kamu, Mas?" tanya Sisil.


Sisil yang sudah merasa tak sabar pun langsung menanyakan hal tersebut, dia ingin segera tahu siapa wanita yang bernama Reina itu.


Adam langsung tersenyum, kemudian dia pun mengelus lembut pipi sisil dan mengecup keningnya dengan penuh cinta.


"Namanya Reinata Adijaya, teman kuliah waktu Mas berada di negara A. Usianya lebih tua 3 tahun dari Mas, kami mengambil jurusan yang sama dan kami pun sering nongkrong bareng di Caffe. Tentunya dengan teman-teman yang lainnya juga," jawab Adam.


"Teman kuliah atau mantan pacar?" tanya Sisil penuh selidik.


Adam langsung tertawa mendengar perkataan Sisil, dia lalu mengangkat tubuh Sisil ke atas pangkuannya.


Sisil terlihat enggan, namun dia pun tak menolak. Dia menurut dan duduk dengan wajah yang terlihat ditekuk.


"Jangan marah, Sayang. Aku tak pernah berpacaran dengannya, karena di hati aku sudah ada Pricilia Gunandari. Wanita luar biasa yang mau menjadi istri dari seorang Adam," jawab Adam.


"Kalau kalian tidak pernah berpacaran, kenapa wanita yang bernama Reinata itu menatap kamu dengan tatapan penuh cinta?" tanya Sisil dengan tatapan matanya yang tajam.


Namun tak lama kemudian, Adam tersenyum. Lalu, dia mulai menceritakan tentang Reina.


"Dulu, kami selalu bersama kemana pun kami pergi. Aku hanya menganggap dia sebagai teman saja, namun ternyata kedekatan kami dia salah artikan. Dia sempat menyatakan cintanya padaku," kata Adam.


"Mas terima?" tanya Sisil.


Adam terlihat menggelengkan kepalanya, tentu saja tak dia terima. Karena da sudah mencintai gadis kecil yang memberikannya semangat dikala dia gundah.


"Tidak!" jawab Adam.


"Kenapa?"


"karena hati Mas sudah terpaut pada gadis kecil yang memakai kursi roda, dia terlihat cantik dan sangat manis. Aku mencintai cara pandangnya tentang hidup, aku mencintai wajah cantiknya dan aku mencintai semua yang ada pada gadis kecil itu." Adam langsung mendongakkan kepalanya dan menautkan bibirnya ke bibir istrinya.


"I love you, My wife." Kembali Adam mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.


Sisil pun menunduk untuk membalas ciuman dari suaminya, walaupun hatinya masih merasa ada yang mengganjal.


Namun Sisil bisa melihat dari mata Adam, jika Adam mengatakan hal yang sebenarnya. Hal yang dia katakan jujur adanya, isi dari hatinya yang paling dalam.


"Sudah percaya?" tanya Adam seraya menatap Sisil dengan lekat.


"Aku percaya pada kamu, Mas. Tapi tidak pada wanita itu, dia terlihat sangat ingin memiliki kamu walaupun hanya sekedar--"


Sisil tak meneruskan ucapannya, dia malah memeluk Adam dengan sangat erat. Dia merasa tak pantas untuk mengatakan hal itu kepada Adam.


Sisil memeluk erat tubuh Adam, seolah dia takut kehilangan Adam dari sisinya. Bahkan air matanya pun sampai menetes, namun dengan cepat sisil menyusut air mata tersebut.


Sebenarnya Adam masih ingin menyahuti ucapan dari Sisil, namun dia tak ingin membuat istri kecilnya tersinggung.


Adam pun membalas pelukan Sisil dan mengelus lembut punggung sisil, dia berusaha meyakinkan Sisil jika dirinya hanyalah milik Sisil seutuhnya dengan cara memberikan dekapan hangat penuh cinta kepada istrinya tersebut.


Tak lama kemudian, Sisil terlihat terlelap dalam pangkuan Adam. Kaki Adam memang terasa kebas dan keram, namun Adam tetap saja mempertahankan posisi ternyaman untuk istrinya tersebut.