
"Harus sabar, harus pelan, harus membuat Sisil merasa nyaman. Ingat Adam, jangan terburu-buru." Adam terus saja mensugesti dirinya.
Setelah serangkaian acara pemanasan dilakukan, dengan perlahan Adam memasukan miliknya ke dalam liang kelembutan milik istrinya.
Sisil sempat memekik, dia terlihat sangat kesakitan. Bahkan Adam sempat mencabut miliknya, akan tetapi... Adam merasa sedikit kecewa. Karena dia tak menemukan noda darah pada milik Sisil.
Adam langsung bangun dari tubuh istrinya, lalu dia duduk di tepian tempat tidur. Sisil jadi bingung dibuatnya, seingatnya dia tidak melakukan kesalahan.
Lalu, kenapa raut wajah Adam jadi berubah?
Sisil yang sudah dalam keadaan polos langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai sebatas dada, sakit diantara kedua pangkal pahanya tak dia rasakan.
Dia berusaha untuk menggeser tubuhnya lalu memeluk Adam dari belakang.
"Mas... " panggil Sisil.
"Hem..." jawab Adam tanpa menoleh ke arah Sisil, rasa kecewa masih menyelimuti hatinya.
"Kenapa berhenti? Rasanya memang sangat sakit, tapi aku rela merasakan sakit itu. Karena itu memang biasa dirasakan oleh setiap wanita," kata Sisil.
Sisil menyangka, Adam merasa kasihan padanya karena dia terlihat kesakitan saat milik Adam yang masuk ke dalam liang kelembutan miliknya.
Alasannya bukanlah itu, Adam merasa dilema. Adam merasa kecewa saat melihat milik Sisil yang tidak mengeluarkan darah sama sekali.
Adam pun jadi bertanya-tanya, apakah Sisil sudah tidak perawan? Jika memang sudah tidak perawan, kenapa saat milik Adam hendak masuk terasa begitu sulit.
Kenyataannya milik Adam dalam keadaan sangat siap, terlihat berdiri dengan begitu tegak. Bahkan Adam sudah melakukan pemanasan terlebih dahulu, harusnya akan lebih mudah untuk masuk bukan?
Kenyataannya, menerobos milik Sisil terasa sangat sulit. Banyak sekali pertanyaan yang terlintas di dalam pikiran Adam.
"Tidurlah, Aku keluar sebentar." Ucap Adam tanpa menoleh sama sekali.
Adam melerai pelukan istrinya, lalu mengambil handuk dan melilitkannya di pinggangnya, kemudian dia mengambil ponselnya dan duduk di balkon kamar.
Dia duduk termenung sambil memutarkan ponselnya, tak ada niatan sama sekali untuk memainkan ponselnya. Sesekali terdengar helaan napas berat, dia seakan tak percaya jika di malam pertamanya dia akan menrima kekecewaan.
Sedangkan di dalam kamar, Sisil terlihat bingung dengan tingkah suaminya. Bukankah selama satu minggu ini dia kelihatan tidak sabar? Lalu kenapa malah berhenti di saat sudah mulai masuk menembus dinding keperawanannya?
Pikiran Sisil berkecamuk, banyak sekali pertanyaan dalam benaknya. Akan tetapi, dia terus berusaha berpikir positif. Tak mungkin bukan, jika Adam akan berbuat hal yang tak baik atau mungkin berpikiran aneh terhadapnya?
"Mending aku tidur saja, mungkin Mas Adam cape." Sisil lalu menarik selimutnya hingga sebatas leher, membaca do'a lalu berusaha untuk masuk ke alam mimpinya.
Jika Sisil kini telah tertidur dengan pulas, berbeda dengan Adam yang terlihat masih duduk di sofa balkon. Dia masih setia memikirkan kejadian tadi, semburat kecewa masih terlihat jelas di wajahnya.
Sudah hampir 2 jam pria yang baru saja mengganti statusnya menjadi suami itu hanya bengonng saja, dia menatap langit dengan tatapan nanarnya.
Tiba-tiba saja bayangan Abigail si Dokter muda yang selalu mengejar cintanya terlintas di benaknya, dia pun memutuskan untuk menelponya saja.
"Ah... dia kan Dokter, pasti tahu kenapa. Tapi, dia pasti sedang bekerja. Secara di sana kan masih jam sepuluh siang," ucap Adam bermonolog sendiri.
Adam berpikir kembali, rasanya tak enak jika harus menganggu wanita yang selalu mengemis cinta padanya itu. Akan tetapi, rasa penasarannya mengalahkan rasa penasarannya.
"Bodo ah, gue harus segera tahu jawabannya." Kata Adam, dengan cepat dia menekan tombol panggil pada nama Abigail.
"Halo pujaan hati gue, lelaki yang mampu menggetarkan hati gue, lelaki tampan yang dengan teganya menolak pesona gue. Untuk apa elu telpon gue, mau pamer karena sudah nikah?" cecar Abigail, Adam langsung terkekeh.
"Ngga gitu, gue cuma mau nanya." Kata Adam.
Tut..
Sambungan terputus Adam sampai kaget dibuatnya, akan tetapi tak lama kemudian panggilan Video Call dilakukan Abigail. Adam langsung menggelengkan kepalanya, namun tetap mengangkat panggilan tersebut.
Saat Adam mengangkat panggilan tersebut, wajah cantik Abigail langsung memenuhi layar ponsel Adam.
"Hai tampan," sapanya. Abigail memperhatikan penampilan Adam yang hanya bertelanjang dada," Wow! Udah MP, ya? Bikin iri!" ucap Abigail sambil memukul meja kerjanya.
Adam sampai berjenggit, lalu dia menatap tubuhnya yang memang hanya memakai handuk yang dia lilitkan di pinggang.
"Belum, gue belum melakukan itu. Justru gue mau nanya, pribadi." Kata Adam.
"Apa?" tanya Abigail dengan kerut keningnya yang terlihat dalam.
"Sore tadi, gue nyoba masukin milik gue. Tapi, kewanitaan bini gue ngga berdarah." Adu Adam pada Dokter muda itu, Abigail langsung tersenyum kecut.
"Trus... elu nyangka kalau bini elu udah ngga perawan?" Adam langsung menganggukkan kepalanya, Abigail langsung memggelengkan kepalanya. " Elu genius, tapi bodoh dalam soal perempuan. Ngga semua perempuan yang diperawanin itu berdarah, karena kondisi kewanitaan perempuan itu berbeda-beda dan kegiatannya juga berbeda." Ungkap Abigail.
"Memang kegiatan mempengaruhi juga?" tanya Adam.
"Tentu, misalkan atlet sepeda. Lagian kata siapa perawan pasti berdarah saat MP?" tanya Abigail.
"Gue lihat di flm biru," jawab Adam seraya nyengir kuda.
"Astaga! Orang genius kaya elu nonton flm gituan, jaman sekarang tinggal konsultasi sama Dokter. Secara online pun gampang," ucap Abigail seraya menepuk jidatnya.
"Ngga kepikiran kesitu gue, makasih atas penjelasannya. " Ucap Adam.
"Hem, ngomong-ngomong selamat ya atas pernikahan elu. Sekarang elu samperin bini elu, minta maaf sama dia karena udah nuduh yang ngga-ngga." Ucap saran Abigail.
"Pasti, terima kasih atas pencerahannya. Gue jadi paham," ucap Adam.
"Iya," ucap Abigail yang langsung memutuskan sambungan Video Call'nya.
Adam hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dia langsung berlari masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Lalu, Adam merebahkan tubuhnya di samping Sisil yang terlihat tidur dengan posisi membelakanginya.
Adam langsung mengelus lembut puncak kepala Sisil dan mengecupi pundak Sisil.
"Maaf, Sayang. Karena Mas, sudah salah sangka." Ucap Adam penuh sesal, Adam masuk ke dalam selimut yang Sisil pakai lalu menempelkan tubuhnya.
Miliknya kini kembali menegang, Adam mengecupi setiap inci tubuh istrinya. Lalu, tanganya mulai meremat dan memainkan puncak dada istrinya.
Sisil yang sedang bermain di alam mimpinya, langsung terbangun. Tubuhnya seakan meremang, bahkan aliran listrik seakan menyengat tubuhnya. Saat Adam terus saja bermain di setiap inci tubuhnya.
"Mas," panggil Sisil yang sudah mulai tak tahan.
"Mas boleh kan, Sayang?" tanya Adam, Sisil hanya bisa mengangguk patuh.