
Siang ini Laila sudah berada di depan gerbang sekolah, Laila sedang menunggu putra nya. Dan seperti biasa nya, dia memakai sepeda lusuh nya.
Tak lama ada seorang pria yang terlihat sangat tampan, dia baru saja turun dari mobil mewah nya dan menghampiri Laila.
"Maaf Nona, apa anda mengenal seorang anak yang bernama Adam Putra Pratama? "
Laila pun mengernyit, untuk apa pikir nya seorang pria matang mencari anak kecil.
"Maaf tuan, memang nya tuan ada perlu apa dengan anak saya? "
"Oh,, maaf. Jadi anda ibu nya ?Saya pikir anda masih singel ,soal nya penampilan anda seperti wanita yang belum menikah."
Laila pun memperhatikan apa yang dia pakai, bagaiman bisa seseorang menyimpulkan kan jika dia seorang singel hanya dengan penampilan nya saja?
Laila sungguh tak paham, memang pada dasar nya Laila sangat suka memakai kemeja panjang dan celana jeans panjang dengan warna yang kalem.
"Maaf Nyonya, saya tidak bermaksud menyinggung penampilan anda. "
Ucap lelaki itu seraya menampilkan senyum manis nya, untuk sesaat Laila begitu terpana melihat nya, tapi dengan cepat Laila menepis nya.
"Ah, tidak apa apa tuan. Oh iya,, anda ada perlu apa menanyakan anak saya? "
"Hanya ingin memesan desain miniatur sebuah gedung yang akan saya bangun, kemarin saya melihat desain punya kakak saya. Saya sangat suka, jadi saya sengaja ke sini untuk bertemu langsung dengan putra Ibu. Boleh? "
"Tentu tuan, sebentar lagi jam pelajaran selsai, Anda tunggu saja sebentar."
Lelaki itu pun nampak duduk di bangku tunggu tepat di samping Laila, tak lama terlihat lah si tampan Adam yang langsung memeluk Ibu nya.
"Selamat siang Ibu ku sayang.."
Sapa Adam seraya menghujani wajah ibu nya dengan ciuman, Laila pun tersenyum senang dengan perlakuan manis putra nya.
"Selamat siang anak Ibu yang tampan, bagaimana pelajaran hari ini apa menyenangkan? "
"Seperti biasa Bu, membosankan."
Laila mengernyit heran,"Kok membosankan?"
"Karna pelajaran nya terlalu mudah, jadi nya aku bosan."
Laila pun mengelus lembut rambut putra nya, dia tahu jika Adam sangat jenius. Pekerjaan orang dewasa saja bisa dia kerjakan dengan cepat, apa lagi cuma pelajaran anak kelas satu SD sudah pasti sangat gampang untuk nya.
"Bu,,, boleh tidak aku minta di beliin ponsel sama laptop? "
"Untuk? "
"Untuk mempermudah pekerjaan ku, boleh?"
"Ehm,, "
Laila dan Adam pun menoleh ke arah sumber suara, Laila pun langsung teringat jika lelaki itu sedang mencari anak nya
"Maaf tuan, saya jadi melupakan anda.Perkenal kan tuan, ini anak saya Adam."
"Saya Devano Alkahfi, saya ingin mengobrol dengan nak Adam boleh? "
Ucap Devano seraya mengulurkan tangan nya, Adam pun dengan cepat membalas uluran tangan Devano dan mencium punggung tangan nya.
"Saya Adam Om, Om ada perlu apa nyari saya?"
"Om perlu bantuan kamu, kalau kamu mau bantu Om. Om bakalan beliin kamu ponsel sama laptop yang kamu mau, Om juga bakal bayar mahal untuk hasil kerja kamu."
Tawar Devano, dan Adam pun terlihat sangat senang.
"Kerjaan apa Om? Kalau Adam bisa mengerjakan nya, dengan senang hati Adam mau bantu Om."
"Baiklah, kalau begitu kita makan siang dulu. Setelah itu kita baru membicarakan tentang pekerjaan, Bisa?"
"Bu,,, "
Adam pun menatap penuh permohonan pada ibu nya, Laila pun tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
''Yesss ,, "Ucap Adam
Laila dan Devano pun langsung tersenyum melihat tingkah Adam, sedangkan Adam nampak tertawa senang.
Laila pun mengangguk setuju, dengan cepat Laila pun menghampiri security dan menitip kan sepeda nya. Setelah itu Laila, Adam dan Devano langsung naik ke mobil.
Mereka bertiga duduk di bangku penumpang, karna memang di depan ada supir dan asisten peribadi Devano.
Selama perjalanan menuju resto,mereka hanya terdiam. Tak ada yang mau mengawali pembicaraan, semua nya terasa sangat canggung.
Apa lagi selama ini Laila sudah tak pernah lagi berdekatan dengan lelaki manapun, hanya Arkana lelaki berhasil mendekati nya kala itu.
Mobil pun berhenti, mereka pun langsung turun dan masuk ke sebuah restoran mewah. Adam pun berdecak senang, sedangkan Laila terlihat biasa saja.
Kini mereka sudah duduk bersama, mereka juga sudah memesan makanan dan sedang menikmati nya. Adam makan dengan lahap, bahkan Laila sesekali harus mengusap sudut bibir Adam yang terlihat blepotan.
Setelah selsai makan, Devano meminta pelayan untuk merapikan meja nya. Setelah itu, Devano pun langsung membicarakan niatan nya.
"Jadi begini, Om berencana akan membuat sebuah perumahan elite di daerah pusat kota. Om mau kamu membuatkan miniatur perumahan elite yang bisa menarik banyak peminat,kalau hasil nya bagus Om akan membayar mahal."
"Akan saya usaha kan Om, Om mau nya yang seperti apa? "
Tanya Adam, Devano pun nampak menerang kan perumahan apa yang ingin dia bangun. Dia juga menjelaskan hayalan nya tentang perumahan impian nya, yang tentu nya ingin dia wujud kan di dalam kenyataan nya.
Adam pun nampak menganggukan kepala nya berkali kali pertanda Adam mengerti, Devano pun tersenyum melihat tingkah Adam yang seperti orang dewasa.
"Bagaimana? Sanggup? "
"Insya Allah Om, tapi saya minta waktu satu minggu."
"Satu minggu?! "
Tanya Devano dengan raut kaget nya, karna biasa nya seorang arsitek terkenal saja membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk satu proyek perumahan.
"Kenapa Om kaget begitu? Terlalu lama ya?"
Tanya Adam lesu, Devano langsung menyahuti.
"Tentu tidak, justru seminggu adalah waktu yang sangat singkat. Baiklah,, Deal?? "
Ucap Devano seraya mengulurkan tangan kanan nya, Adam pun langsung menerima uluran tangan nya Devano.
"Deal Om,, "Ucap Adam yakin
"Baiklah, kalau begitu. Sebagai DP nya Om akan belikan kamu ponsel dan laptop yang kamu suka, mau?"
Wajah Adam pun langsung berbinar,"Mau Om.."
Ucap Adam seraya meloncat dari kursi, Laila pun langsung bangun takut nya Adam terjatuh. Sedangkan Devano nampak tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya.
Devano tahu jika Adam mempunyai kemampuan yang lebih di usia nya yang terbilang masih kecil, tapi Devano juga sadar jika Adam tetap lah anak kecil yang suka jika di iming imingi hal yang dia suka.
Devano pun langsung mengajak Laila dan Adam ke sebuah konter terbesar yang ada di pusat kota, Adam pun dengan senang hati memilih ponsel dan laptop yang dia suka.
Devano bahkan sempat berdecak kagum saat Adam memilih ponsel dan laptop yang fiture nya sudah canggih, ternyata Adam memang pandai dalam menentukan pilihan yang terbaik.
Siang itu Devano mengeluarkan uang hampir seratus juta untuk Adam, tapi dia merasa tak keberatan sama sekali. Justru dia merasa sangat senang bisa pergi bersama Adam dan ibu nya, setelah selsai Devano pun menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang.
Dengan senang hati Adam pun menerima nya, Devano pun langsung mengantarkan Adam dan Laila ke rumah baru mereka .
Karna memang Adam ingin melakukan sesuatu di sana, saat sampai di rumah baru Adam. Devano sempat bertanya dalam hati, kenapa Laila begitu terlihat nyaman pergi dengan sepeda butut nya.
Padahal jika di lihat dari keahlian yang Adam punya, dan di lihat dari rumah mereka, Laila terlihat mempunyai banyak uang.
Devano pun langsung berpamitan pada Laila dan Adam, dia pun berjanji seminggu lagi akan datang ke sana menagih hasil kerja nya Adam.
Adam pun setuju, setelah kepergian Devano, Adam dan Laila langsung pergi ke mushola karna mereka belum melaksanakan shalat dzuhur. Beruntung waktu masih menunjukan pukul dua siang, jadi dengan segera mereka pun melaksanakan kewajiban nya terhadap sang khalik.
+
+
+
TBC