Who Is Adam?

Who Is Adam?
Penjelasan Al



"Ayah, Ibu. Kata pelayan Ibu pingsan, Ibu kenapa, Yah?" Al tiba-tiba saja datang dengan wajah khawatirnya.


melihat kedatangan Al, rahang Arkana terlihat mengeras. Tatapan matanya menggambarkan kilatan marah di sana.


Al jadi bingung dibuatnya.


Al hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri Arkana dan juga Laila, namun... dia sedikit ragu saat melihat kemarahan di wajah Ayahnya.


Seingatnya dia tak melakukan kesalahan apa pun, dia baru pulang sekolah dan langsung melakukan les agar bisa lulus dengan nilai yang bagus.


Walaupun dia sangat suka berpacaran, itu hanya dia jadikan sebagai hiburan. Pelajaran sekolah tetaplah nomor satu untuknya.


Arkana memang memiliki dua putra, namun Adam sudah memiliki usahanya sendiri. Dari situ Al pun bisa memperkirakan, jika dia harus bisa mengelola bisnis Ayahnya setelah dia lulus kuliah nanti.


"Bu, Yah." Al menatap wajah Arkana dan Laila secara bergantian, Arkana terlihat ingin sekali memarahi Al. Bahkan tangannya sudah mengepal dengan sempurna, namun Laila berusaha menenangkan Arkana dengan mengusao lembut tangan suaminya.


"Jelaskan pada Ayah dan ibu, apa hubungan kamu sama Bella!" suara Arkana menggema di dalam seluruh ruangan kamar.


Al pun paham. pada akhirnya, kenapa Arkana dan Laila terlihat begitu marah padanya. Namun, dia belum paham dengan apa yang telah dilakukan oleh Bella terhadap kedua orang tuanya.


"Kami sempat berpacaran, Yah. Tapi, kami sudah putus ka--"


Arkana yang sudah tak sabar langsung memotong ucapan Al, dia merasa kesal terhadap putranya itu.


"Oh, jadi benar yang Bella katakan. Kalian putus karena kamu tak mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan?!" tanya Arkana.


Al langsung mengernyitkan dahinya, apa katanya? Bella? Jadi di nyai kunti itu datang ke sini untuk mengadu begitu?


Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Ayahnya itu, namun Al harus hati-hati karena Arkana terlihat begitu murka padanya.


Beruntung Al mempunyai luapan emosi yang stabil, tak seperti Arkana yang siap meletakan emosinya kapan saja. Mungkin karena pengaruh ketidak serabutan emosi yang pernah dia derita dulu, hal itu terkadang membuat Arkana terlihat kesulitan untuk mengontrol emosinya.


Laila berusaha untuk bangun dan memeluk Arkana, dia takut penyakit suaminya akan. kambuh karena tekanan yang dia rasakan saat ini.


"Mas', duduk. Mas harus sabar, biarkan Al mengutarakan semuanya menurut versinya. Kita tidak boleh hanya mendengarkan ucapan dari satu sisi saja." Laila berusaha untuk menenangkan hati suaminya.


Arkana terlihat mengambil napas dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Kamu benar, Sayang." Arkana memgambil air putih di atas nakas lalu meminumnya hingga tandas.


"Sekarang jelaskan sama Ibu, Al." Kata Laila dengan nada memerintah.


"Al memang sempat pacaran sama Bella, Bu. Tapi ngga sampe tidur bareng, kemarin dia bilang hamil. Bilangnya anak Al, tapi Al berani jamin jika Al ngga pernah nidurin Bella." Ucap Al.


Arkana terlihat sangat kesal, dia langsung bangun dan keluar dari kamar utama. Al terlihat sangat kaget dan juga takut, karena melihat Kilatan amarah dan juga benci secara bersamaan di wajah sang Ayah.


Al menghampiri Laila dan langsung duduk di samping ibunya, dia juga memeluk Laila sebagai tanda jika dia butuh dukungan.


Laila hanya bisa mengelus lembut puncak kepala putranya, dia tak bisa marah tapi juga tak bisa percaya begitu saja pada putranya.


"Kamu serius tidak pernah tidur dengan Bella? Jelaskan sama Ayah, apa maksudnya semua ini?"


Arkana tiba-tiba datang dengan melemparkan foto-foto yang diberikan oleh Bella tadi, Bahkan foto-foto tersebut mendarat dengan sempurna di wajah Al.


Apa dia tak malu, jika akan banyak orang nantinya yang melihat foto mereka yang sedang berbuat hal yang tidak baik seperti itu?


"Aku akui memang aku pernah bermesraan dengan Bella, Ayah. Namun, aku tak pernah tidur dengannya." Jelas Al tegas.


"Apa ucapan kamu bisa dipercaya?" tanya Arkana.


"Tentu saja, aku tidak pernah berbohong." Jelas Al.


"Kalau begitu, pergi cari buktinya jika kamu memang tak pernah meniduri Bella. Cari bukti yang mengatakan jika kamu bukan Ayah dari janin yang Bella kandung." Tantang Arkana.


"Oke!" Jawab Al tegas.


Al merekat pelukannya, dia lalu menatap wajah Laila dengan lekat.


"Ibu harus percaya sama Al, Al akan pergi untuk buktiin sama Ayah sama Ibu. Kalau Al ngga bersalah, Babby yang dikandung oleh Bella bukan milik Al." Al mengecup kening Laila, lalu dia mencium punggung tangan Arkana dan berlalu dari sana.


"Assalamualaikum..." pamitnya.


Entah mau kemana anak itu, Arkana menjadi khawatir dibuatnya. Dia memang marah pada Al, namun dia juga tak bisa membiarkan putranya sendirian. pergi entah kemana.


Arkana Lalu menelpon Tuan Arley, dia menceritakan semua yang terjadi terhadap putranya tersebut. Dia juga meminta bantuan untuk mengirimkan beberapa Bodyguard untuk mengawasi Al.


Taun Arley pun mengiyakan, dia juga berjanji akan mengusut sampai tuntas masalah yang menimpa Al.


Jika di kediaman Arkana sedang memanas, kini Adam dan Sisil sedang menikmati keindahan langit di kala sore hari. Sisil dan Adam sedang duduk di bibir pantai sambil menikmati langit yang sudah mulai berubah warna menjadi jingga.


Adam terlihat memeluk Sisil dengan erat, begitupun dengan Sisil. Dia memeluk Adam dengan posesif, kepalanya dia sandarkan pada dada bidang suaminya.


Sesekali terlihat Adam mengecup puncak kepala Sisil, dia benar-benar menikmati kebersamaan mereka sebagai pasangan pengantin baru.


"Terus lah seperti ini, Sayang. Mas suka melihat kamu yang merengek minta hal yang kamu pengen, Mas merasa dibutuhkan sebagai seorang pria." Adam kembali mengecupi puncak kepala Sisil.


Sisil tak menjawab ucapan Adam, dia malah mengeratkan pelukannya.


Saat mereka sedang asik menikmati keindahan langit senja, ada seekor anak kucing anggora yang begitu lucu. Kucing itu langsung naik ke atas pangkuan Sisil, Sisil langsung tertawa melihat tingkah kucing tersebut.


"Mas', kucingnya lucu." Ucap Sisil seraya mengusap sayang kucing tersebut.


"Hem...ada kalungnya, Sayang. Sepertinya dia ada pemiliknya," ucap Adam.


Sisil pun melihat kalung yang kucing imut itu pakai, ada inisial AE yang tergantung di kalung tersebut.


"Punya siapa ya, Mas?" tanya Sisil.


"Mas ngga tahu, Sayang." Jawab Adam.


"Maaf, itu kucing milik saya." Kata seorang pria yang kini sudah berada tepat di belakang Adam dan Sisil.


Adam dan Sisil pun sontak langsung menoleh ke arah asal suara, Sisil terlihat terkejut. Karena pria yang kini dia lihat adalah pria asing yang sempat mendekati Sisil saat pertama dia datang ke Bali.