Who Is Adam?

Who Is Adam?
Menikmati Sunset



Sore ini Adam, Arkana dan juga Laila sudah berada di Battery Park. Taman umum seluas dua puluh lima hektar are ini terletak di ujung selatan pulau Manhattan, karna letak nya yang menghadap pelabuhan, mereka dapat melihat kapal ferry yang berlalu lalang .


Dan yang pasti Adam mengajak ke dua orang tua nya ke sana bukan hanya karna itu, tapi dia ingin melihat matahari tenggelam di sana.


Saat pertama datang, Adam mengajak ke Dua orang tua nya untuk menikmati keindahan taman di sana. Sekitar pukul lima sore, Adam mengajak ke dua orang tua nya untuk melihat sunset.


Tentu nya Adam selalu mengabadikan momen kebersamaan mereka lewat camera ponsel nya, dia juga selalu langsung mengirim hasil jepretan nya pada sang paman Devano dan kepada kakek dan nenek nya.


Mata Adam seakan tak mampu untuk berkedip saat melihat keindahan yang berada di depan mata nya, sedangkan Laila dan Arkana kini saling memeluk sambil menikmati matahari tenggelam.


Sesekali Arkana mencium pipi Laila, bahkan kadang dia mengecup bibir Laila. Tentu nya sambil curi pandang, karna takut ketahuan oleh putra nya.


Sedangkan Laila terlihat memelotot kan mata nya, dan terkadang memberikan cubitan di tangan Arkana. Namun pria itu seakan tak perduli, dan tetap saja mengulang nya lagi.


Langit mulai gelap, kini tiba saat nya untuk mereka kembali ke hotel. Mereka seakan masih ingin di sana, tapi mereka ingat, jika mereka masih mempunyai kewajiban terhadap sang maha pencipta.


Sampai di hotel mereka pun langsung melaksanakan kewajiban mereka terhadap sang khalik, setelah itu mereka pun menikmati makan malam bersama.


Senyum dari bibir Adam selalu mengembang, bahkan anak itu terlihat begitu menikmati masa liburan nya. Bahkan Adam hanya sesekali melihat laptop nya, jika ada pesan email dari langganan nya pun, Adam selalu membalas nya dengan kata,"Saya sedang beelibur, jika anda masih setia menunggu hasil karya saya, tunggu lah sekitar satu minggu lagi. Terimakasih atas pengertian nya."


Ya itu lah Adam, si anak jenius yang tak hanya kecerdasan dalam berpikir nya yang mempuni. Tapi tutur bahasa nya pun begitu mampu menghipnotis siapa pun yang mendengar nya, bahkan yang mengagum kan dari nya ,dia sudah menguasai sembilan bahasa dengan pasih.


Laila pun terkadang merasa bingung, kapan anak itu belajar tentang bahasa asing? Karna setahu nya, Adam tak pernah terlihat serius dalam belajar.


Adam terkesan santai, Adam hanya terlihat serius saat mengerjakan hal yang dia sangat sukai. Seperti menciptakan sebuah maha karya baru dari barang bekas, dan tentu nya membuat desain yang begitu indah.


Malam ini Adam terlihat begitu lelah, kini Adam sedang merebahkan tubuh nya sambil memeluk guling nya. Mata nya sudah mulai terpejam, tapi dia merasa masih ingin mengobrol dengan ibu nya.


"Bu, "Panggil Adam.


Laila yang mendengar panggilan anak nya pun langsung menghampiri nya, Laila pun langsung merebahkan tubuh nya dan memeluk Adam dengan erat.


"Ada apa sayang? "


Tanya Laila seraya mengecupi puncak kepala Adam, Laila merasa sangat gemas saat melihat Adam yang mata nya sudah terpejam tapi otak nya seakan menolak untuk tidur.


"Besok aku akan berlomba dan bersaing dengan seratus enam orang peserta lain nya Bu, lima puluh orang bergelar S. Ars, lima puluh empat orang bergelar M. Ars, dan dua orang remaja yang berasal dari Austria .Apa kah Adam bisa menang Bu? "


Laila pun langsung tersenyum mendengar ucapan putra nya, tak bisa di pungkiri memang, walaupun Adam memang sangat lah pandai, tapi dia hanya anak kecil berusia lima tahun tujuh bulan.


Pasti akan banyak rasa khawatir yang melimpir di hati nya, pasti ada juga rasa kurang percaya diri saat melihat daftar siapa para pesing nya.


"Kamu harus optimis sayang, jangan memikir kan hal yang akan membebani pikiran. Yang penting kamu berkarya saja dengan baik, urusan menang atau kalah itu urusan belakangan."Ucap Laila.


"Ibu benar, kalau begitu Adam tidur dulu."Ucap Adam dengan suara yang makin melemah.


Laila pun tersenyum seraya mengelus kepala putra nya, dia pun selalu berdo'a semoga Allah memberikan yang terbaik pada putra nya.


Ini adalah lomba, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Hanya saja, Laila berharap jika Adam tak menang semoga anak itu bisa berlapang dada.


waktu masih menunjuk kan pukul delapan malam, tapi Adam sudah terlelap dalam tidur nya. Setelah melihat putra nya yang sudah terlelap, Laila pun menghampiri Arkana yang sedang menikmati secangkir kopi di kursi malas yang ada di balkon.


Laila pun kini langsung duduk di samping Arkana, Arkana yang melihat kehadiran istri nya langsung menyimpan kopi nya dan memeluk istri nya .


"Mas,, "Panggil Laila.


"Sudah, Adam sudah tidur. Tadi aku sempat mendengar nada khawatir dari Adam, Aku jadi kasihan pada nya."


Laila pun membalas pelukan Arkana dan menyandarkan kepala nya di dada bidang milik suami nya, Arkana pun berdecak senang.


"Itu hal yang wajar sayang, karna dia memang masih sangat kecil. Tapi aku selalu bangga pada nya, karna daya pikir nya benar benar melebihi orang dewasa."


Laila pun langsung terkekeh, Laila mengakui apa yang di ucap kan oleh Arkana itu memang benar ada nya.


"Kamu benar Mas, cuma kadang aku suka ngga tega sama dia .Adam selalu berusaha untuk membahagiakan ku dari dulu, dia selalu bekerja keras dan berusaha untuk membuat desain dengan daya jual tinggi."


Tangan Arkana pun mulai turun dan mengelus paha istri nya yang terbungkus baju tidur tipis di atas paha,Laila pun menepis tangan nakal itu.


"Kenapa sih Yang? Mas cuma megang aja. Ngga berani macem macem, "Ucap Arkana.


"Iya aku tahu, Mas ngga berani macem macem tapi cuma satu macem aja . Dan hal itu ngga jauh dari itu,"Ucap Laila dengan raut kesal nya.


Arkana pun terkekeh, dia begitu suka melihat wajah istri nya yang cemberut karna kesal pada nya.


"Jangan marah dong sayang,, kan kamu juga suka saat Mas sedang bekerja dengan keras nya."


Laila terlihat mengerutkan kening nya,"Bekerja keras?"


"Yes Babby, kalau aku tidak bekerja keras. Aku takut kamu ngga akan puas,"Ucap Arkana.


Laila pun langsung tersipu, dia pun langsung memukul paha Arkana.


''Mas nakal, aku mau masuk dulu."


Laila pun bangun dari duduk nya, tapi dengan cepat Arkana menarik nya hingga Laila jatuh tepat di pangkuan suami nya.


"Mas,,,!! "Kesal Laila.


"Suut,, jangan berisik. Kamu ngga mau nyoba main di sini? "Tanya Arkana dengan tatapan nakal nya.


"Dalam mimpi kamu Mas, "Ucap Laila seraya bangun dan meninggalkan suami nya.


Arkana pun langsung terkekeh, dia memang hanya bercanda. Tapi kalau Laila mau, apa salah nya mencoba.


+


+


+


jangan lupa like , vote ,koment, kritik ,saran dan hadiah nya yang banyak ya..


💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓se kebon buat Kaleyan semua..


Spesial double up, besok satu bab aja ya..


TBC