Who Is Adam?

Who Is Adam?
Mencari Keberadaan Cindy



Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Mahendra, dia sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan informasi tentang keberadaan istrinya tersebut.


Hanya membutuhkan waktu 15 menit saja, dia pun kini sudah berada di depan rumah Mahendra.


Setelah memarkirkan mobilnya, Leo pun segera masuk ke dalam rumah Mahendra. Ternyata, Mahendra sudah berada di ruang tamu bersama beberapa anak buahnya.


Di sana juga Leo melihat ada beberapa anak buah tuan Arley, Leo sempat merasa heran kenapa mereka ada di sana.


"Duduklah! Mereka sengaja dikirimkan oleh Mister Arley untuk membantu pengejaran Istrimu," kata Mahendra.


Leo mengangguk patuh, Leo langsung duduk tepat di samping Mahendra. Dia memperhatikan Mahendra yang terlihat serius dengan laptopnya.


Tak lama kemudian, Mahendra pun tersenyum tipis. Leo tahu jika itu artinya adalah hal yang bagus.


"Deanandra Adijaya, seorang pria berusia dua puluh lima tahun. Bekerja di perusahaan X, bagian divisi pemasaran. Dia membawa istrimu ke arah luar kota, sepertinya tujuannya adalah penginapan yang ada di pinggir pantai." Setelah menjelaskan, Mahendra nampak menutup laptopnya.


Mendengar penuturan dari Mahendra, Leo pun dengan tidak sabarnya mengajak semua anak buah Mahendra dan juga orang yang dikirimkan oleh Tuan Arley untuk mencari keberadaan istrinya.


Enam mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi menuju luar kota, Mahendra setia menatap layar laptopnya, sedangkan Leo fokus dalam menyetir.


"Percuma saja Mister mengirimkan banyak anak buahnya," kata Mahendra seraya menggelengkan kepalanya.


Mendengarkan kata Mahendra, Leo mengerutkan dahinya. Lalu, dia sempat memalingkan wajahnya dan kembali fokus kepada jalanan.


"Memangnya kenapa?" tanya Leo.


"Deanandra mengajak para preman pasar untuk menculik istrimu, mereka sengaja menggunakan obat bius yang banyak untuk melumpuhkan semua penjaga di rumah mertuamu," ucap Mahendra seraya tertawa.


Leo sempat melirik kearah Mahendra yang terlihat tertawa dengan puas, baru kali ini dia melihat Mahendra seakan menertawakan kekonyolan seseorang.


"Kenapa malah tertawa? Aku sedang panik," kata Leo.


"Lucu! Enggak punya duit tapi punya modal nekat," kembali Mahendra tertawa dengan terbahak-bahak.


Leo makin kesal dibuatnya, padahal dia sedang sangat mengkhawatirkan istrinya. Dia takut jika istrinya akan diapa-apakan oleh mantan pacarnya tersebut, namun Mahendra malah tertawa dengan lepas seperti itu.


"Diam! Ngga usah tertawa," kata Leo kesal.


"Ngga usah takut, lawan kita tidak sebanding dengan orang-orang yang kita bawa." Mahendra terlihat menepuk pundak Leo tanda menenangkan.


Leo berusaha percaya, dia pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Terjadi keheningan di antara Leo dan juga Mahendra, mereka saling diam dan kembali fokus kepada pekerjaan masing-masing.


Tak lama kemudian, Mahendra pun berseru. Hal itu sempat membuat Leo kaget.


"Tepat sesuai dugaanku, dia berhenti di penginapan yang ada di pinggir pantai," kata Mahendra.


Leo semakin was-was dibuatnya saat mendengar Deandra berhenti di penginapan, dia takut jika Deanandra akan memperkosa istrinya.


"Berapa lama lagi waktu yang kita butuhkan untuk sampai ke sana?" tanya Leo.


"Lima belas menit lagi," ucap Mahendra.


Ternyata, tak sampai lima belas menit mereka sudah sampai di penginapan yang berada di pinggir pantai tersebut.


Saat Leo dan Mahendra turun dari mobil, mereka melihat banyak pria bertubuh besar yang sedang berkumpul di area penginapan.


Ada sekitar 10 orang yang ada di sana, mereka nampak sedang ngopi sambil bermain catur.


Leo dan Mahendra nampak menggelengkan kepalanya, mungkin inilah perbedaannya preman pasar dengan Bodyguard yang terlatih dengan khusus.


Para anak buah Mahendra dan juga Bodyguard kiriman dari Tuhan Arley, nampak belum ada yang turun dari mobil. Karena, mereka masih menunggu instruksi dari Mahendra.


"Kita harus bagaimana?" tanya Leo kepada Mahendra.


"Sepertinya kita tidak begitu memerlukan bantuan dari anak buah kita," ucap Mahendra.


"Lalu?" tanya Leo seraya mengernyitkan dahinya.


"Butuh deh, tapi hanya sedikit. Itu juga tak perlu adu jotos," kata Mahendra lagi.


Untuk sesaat Mahendra nampak terdiam, dia memperhatikan sekeliling penginapan tersebut. Tak jauh dari sana, dia melihat sebuah warung remang-remang.


Di sana ada 3 orang wanita seksi yang menjadi pelayan di warung tersebut, Mahendra pun langsung melihat ke arah Leo seraya tersenyum.


"Jangan melihatku seperti itu!" kata Leo.


"Ck! Aku punya ide," ucapnya.


"Apa?" tanya Leo.


"Sudah! Jangan berisik," kata Mahendra.


Mahendra lalu melangkahkan kakinya menuju warung remang-remang tersebut, Leo pun mau tak mau mengikuti langkah Mahendra.


Setibanya di warung remang-remang tersebut, Mahendra langsung memesan 10 cangkir kopi untuk para preman pasar yang sedang berjaga di depan penginapan tersebut.


"Ndra, please jangan main-main. Istri aku lagi terancam keadaannya," kata Leo tak sabar.


"Sudah jangan berisik, kamu tinggal menunggu saja. Sebentar lagi juga beres," kata Mahendra.


Setelah 10 cangkir kopi tersedia, Mahendra pun langsung memasukkan obat ke dalam kopi tersebut.


Kemudian, Mahendra pun meminta ketiga wanita cantik itu untuk mengantarkan kopinya. Tak lupa Mahendra pun berpesan agar kopi tersebut harus diminum oleh para preman pasar tersebut.


Tentu saja ketiga wanita cantik itu mau, apa lagi kala Mahendra mengeluarkan uang lembaran merah dan menyelipkannya di saku rok mini ketiga wanita itu.


"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Leo.


"Diam dan perhatikan, jangan banyak bicara," kata Mahendra.


Setelah mengatakan hal itu, Mahendra langsung mengetik pesan untuk para anak buahnya.


Tak lama kemudia,n para anak buahnya pun langsung keluar dan berpencar. Leo semakin bingung dibuatnya.