Who Is Adam?

Who Is Adam?
Merajuk



Adam terlihat menggeliatkan tubuhnya, rasanya tidurnya sudah cukup mengobati rasa lelah dan juga rasa kantuk yang menyerangnya sejak pagi.


Perlahan Adam pun membuka kedua matanya, sinar Matahari yang begitu terang menyilaukan pandangan matanya. Sehingga Adam pun menyipitkan matanya.


Adam segera melihat jam mewah yang melingkar di tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Adam langsung bangun dan segera masuk ke kamar mandi, karena memang dia belum melaksanakan salat zuhur.


15 menit kemudian, Adam pun sudah selesai melakukan kewajibannya terhadap sang khalik. Setelah itu, Adam memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya.


Pandangan matanya lalu menyisir setiap ruangan yang ada di dalam Villa tersebut, dia sudah merindukan sosok istri kecilnya, Pricilia Gunandari.


Adam sudah mencari Sisil di mana-mana, akan tetapi dia tak menemukannya. Adam pun memutuskan untuk pergi ke dapur, siapa tahu Sisil sedang di sana, pikirnya.


Ternyata tebakan Adam sangat benar adanya, karena Sisil sedang menata makanan diatas meja makan saat Adam sampai di dapur.


Adam langsung menghampiri Sisil dan memeluknya dari belakang, tak lupa dia juga memberikan kecupan kecupan hangat di pipi dan di kening istrinya itu.


Bibi yang menemani Sisil pun sampai ******** dibuatnya, dia langsung menundukkan kepalanya karena tak berani melihat kemesraan antara Tuan dan Nona mudanya.


" Maaf, Tuan, Nona. Pekerjaan saya sudah selesai, saya permisi." Ucapnya dengan wajah yang merona.


Adam dan Sisil pun hanya tersenyum melihat perubahan raut wajah dari Bibi, padahal usianya sudah sekitar 40 tahunan. Akan tetapi, dia terlihat malu-malu saat melihat kemesraan Adam dan juga Sisil.


"Sayang, kenapa Mas'nya ditinggal?" tanya Adam.


Sisil tersenyum, lalu dia membalikan badannya dan menatap wajah Adam dengan lekat.


"Bagaimana tidak aku tinggal, Mas. Kamu dari sampai di sini tidur dengan lelap. Aku bosan kalau harus di kamar terus, apa kah Ij harus nunggu Mas sampai kelar bobo." Jawab Sisil.


Adam langsung terkekeh mendengar penuturan istrinya, karena itu memang benar adanya.


"Kita kesini untuk berbulan madu, Mas. Untuk menikmati suasana Bali, masa iya aku harus di kamar terus. Rugi dong, Mas." Kata Sisil seraya mencubit gemas pipi Adam.


"Ya... terserah apa katamu, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan, lakukan saja. Oiya... apa saja yang sudah kamu kerjakan tadi? Kemana saja kamu pergi?" tanya Adam posesif.


"Aku tadi melihat-lihat suasana pantai, Mas. Aku juga menikmati suasana pantai, Mas." Jawab Sisil.


Dahi Adam terlihat berkerut, kata Sisil tadi dia menikmati keindahan pantai. Lalu, dengan siapa Sisil pergi? Adam pun merasa sangat khawatir jika Sisil nekat untuk pergi sendiri.


"Kamu sama siapa ke pantainya?" tanya Adam.


"Aku sendiri, Mas. Akan tetapi, ada pengawal yang menjaga aku terus menerus." Jawab Sisil.


Dia tidak mau jika membuat Adam merasa khawatir, karena Sisil tahu, Adam akan bersikap posesif jika Sisil pergi sendirian.


"Oh... bagus deh kalau begitu, terus ini siapa yang masak?" tanya Adam lagi.


"Tentu saja hamba yang memasak untuk baginda Raja, hamba membuatnya dengan bumbu cinta. Hamba yakin paduka Raja pasti menyukainya," jawab Sisil sambil membungkuk hormat.


Adam terlihat sangat gemas saat mendengarkan penuturan Sisil, Adam pun langsung menggigit pelan hidung Sisil. Hal itu membuat Sisil mengaduh, karena sepelan apapun gigitan Adam, tetap saja menimbulkan rasa sakit di hidung minimalis miliknya.


"Maaf, kalau begitu kita makan bersama." Kata Adam.


Akhirnya Adam dan Sisil pun makan siang bersama, sesekali terdengar suara Sisil dan juga Adam yang tertawa dengan riang.


Adam dan Sisil benar-benar terlihat sangat bahagia, bahkan Adam dan Sisil saling menyuapi saat mereka makan. Mereka benar-benar terlihat sangat romantis, dan begitu menikmati peran mereka sebagai pengantin baru.


Setelah makan siang bersama, Adam mengajak Sisil untuk menikmati keindahan pantai dari atas balkon. Karena menurutnya, ini adalah waktu tempat untuk bersantai sambil bermanja-manja.


Sisil pun menurut, Sisil duduk di kursi malas dengan Adam yang terus saja memeluknya sesekali ada melabuhkan ciuman hangat di bibir istrinya. Adam seolah tak mau lepas dari Sisil.


Jika Adam dan Sisil terlihat sangat bahagia, berbeda dengan Al. Di kediaman Arkana, Al sedang merajuk karena anak itu tetap Ingin menyusul Adam ke Bali.


Padahal, apa yang dia inginkan sudah diberikan oleh Tuan Arley. Akan tetapi, saat dia melihat Villa yang di sewa oleh Tuan Arley untuk Adam dan Sisil. Dia merajuk dan ingin segera menyusul ke Bali.


Namun sayangnya Laila dan juga Arkana tak mengizinkan, karena itu adalah acara bulan madu. Jadi, Al tidak boleh ikut ke sana.


Apalagi harus melihat kemesraan antara Sisil dan juga Adam, tentu itu itu tidak baik untuk perkembangan psikis Al sendiri.


Akhirnya, sore itu Al pun memutuskan untuk pergi ke rumah pacarnya. Wanita yang sudah 3 bulan ini, dia pacari seorang anak kuliahan yang terpaut usia 5 tahun dengan Al.


Sebenarnya Laila dan Arkana tidak setuju jika Al memacari wanita yang lebih tua darinya, mereka takut jika Al akan diajari hal yang belum pantas dia lakukan.


Al baru saja berulang tahun yang ke enam belas tahun, rasanya kurang pantas jika berpacaran dengan wanita yang berumur dua puluh satu tahun.


Akan tetapi, ini hanya cinta monyet pikir mereka. Tak apalah yang penting Al bisa menjaga diri dari godaan si hawa nafsu.


Al memutuskan untuk menaiki motor sport yang sudah dibelikan oleh Tuan Arley, padahal Arkana sudah berkata jika Al belum boleh memakai motor sport tersebut.


Karena dia belum cukup umur, bahkan SIM pun belum punya. Akan tetapi, anak itu tetap saja nekat untuk pergi ke rumah pacarnya.


Niat hati, ingin mengajak pacarnya untuk berjalan-jalan. Namun, saat dia tiba di depan rumah pacarnya dia terlihat sangat kaget karena Al melihat pacarnya Bella sedang duduk di teras sambil menangis.


Tangisannya terdengar begitu pilu, membuat Al Tak tega saat mendengarnya. Al segera menepikan motornya, lalu dia pun menghampiri pacarnya Bella, wanita yang terpaut usia 5 tahun lebih tua darinya.


"Bella, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis sendirian di depan rumah? Bukankah tidak enak jika dilihat oleh para tetangga?" Cecar Al.


Al lalu menuntun Bella untuk masuk ke dalam rumahnya, setelah sampai di ruang tamu Al langsung mendudukkan Bella di salah satu sofa yang ada di ruang tamu tersebut.


Kemudian, Al pun memeluk Bella dan mengelus lembut puncak kepalanya.


"Bilang sama gue, elu kenapa?" tanya Al.


Bella melerai pelukannya, kemudian dia menatap wajah dengan Intens.


"Al, gue hamil." Kata Bella.