Who Is Adam?

Who Is Adam?
Lomba Di Mulai



Di sini lah sekarang Adam berada, di sebuah gedung Aula perusahaan BAC Corp beserta seratus enam peserta lain nya.


Para peserta sudah duduk di bangku sesuai dengan no peserta, Sedangkan para orang tua kini duduk di belakang para peserta.


Suasana begitu hening, hanya deru napas yang terdengar dan detak jantung yang terasa berdetak dengan kencang, karna memang peraturan nya tak boleh ada yang bersuara.


Tak lama Nona Abrail Adrienne pun naik ke atas panggung, karna memang wanita itu kini bertugas sebagai pembawa acara.


"Selamat pagi semua nya, semoga kalian semua selalu berada dalam lindungan yang maha kuasa. Untuk memulai acara kita kali ini, mari kita berdo'a sesuai dengan kepercayaan masing masing.Berdo'a mulai,, "Ucap Abrail memulai acara.


Semua yang ada di sana pun kompak menunduk kan kepala sambil berdo'a, tentu saja mereka berdo'a untuk kemenangan dari lomba yang mereka ikuti.


"Berdo'a selsai, "Ucap Abrail mengakhiri.


Seluruh peserta dan juga wali mereka pun mengangkat wajah mereka ,menandakan do'a yang mereka panjatkan telah selsai.


"Baiklah karna acara telah di mulai, mari kita minta Tuan Barayev Arley Caldwell selaku pemilik perusahaan untuk memberikan sambutan nya."Ucap Abrail.


Tuan Barayev Arley Caldwell pun langsung naik ke atas panggung, dia berjalan dengan sangat gagah .Bahkan di usia nya yang sudah berumur lima puluh tahun itu masih terlihat aura ketampanan nya ,dia masih terlihat gagah dan berwibawa.


Tuan Arley pun kini sudah berdiri di depan seluruh para peserta dan wali pendamping, dia nampak mengedarkan pandangan nya.


Mata nya kini melihat sosok Adam ,tampan dan terlihat aura kejeniusan nya. Mirip sekali dengan nya di waktu kecil, bahkan anak itu pun memiliki rasa percaya diri yang tinggi sama seperti nya.


"Bocah itu benar benar mirip dengan ku, setelah acara ini selsai tak akan ku biarkan dia lolos begitu saja."


Tuan Arley pun lantas berdehem beberapa kali untuk menstabilkan perasaan nya.


"Selamat pagi buat seratus tujuh peserta berbakat yang mengikuti lomba tahunan yang selalu rutin kami laksanakan, semoga kalian selalu dalam lindungan nya dan semoga kalian selalu bersemangat dalam mengikuti acara lomba kali ini."


Tuan Arley nampak menghela napas panjang, dia pun mengedarkan kembali pandangan nya. Kali ini mata nya bersitatap dengan Arkana,mata nya pun membulat sempurna.


Tapi dengan cepat dia memutus kan pandangan nya,dia juga berdehem kembali, agar suasana hati nya cepat terasa setabil kembali.


"Lomba kali ini akan di lakukan secara bertahap, tahap satu untuk seleksi menuju lima puluh besar. Tahap ke dua untuk seleksi menuju sepuluh besar,dan untuk tahap ke tiga untuk penentuan pemenang nya."


Para peserta dan wali pendamping yang ada di sana pun nampak antusias dan bertepuk tangan, Tuan Arley pun tersenyum, setelah nya dia melanjutkan kembali ucapan nya.


"Lomba akan di mulai dalam waktu sepuluh menit lagi, seleksi pertama kalian di beri waktu satu jam. Begitupun dengan tahap ke dua dan ke tiga, jadi saya harap kalian semua segera bersiap. Saya ucap kan terima kasih atas partisipasi kalian dalam mengikuti lomba kali ini, terimakasih."


Tuan Arley pun mengakhiri sambutan nya, semua orang yang ada di sana pun langsung bertepuk tangan. Sedangkan Tuan Arley langsung turun dari panggung dan duduk di tempat penjurian bersama Fernandez dan Juga juga Nona Abigail ,salah satu desain interior ternama yang ada di kota New York.


Setelah Tuan Arley turun, Nona Abrail pun langsung mengomando para peserta.


"Baiklah, Satu jam ke depan kalian akan bersaing untuk membuat desain yang paling bagus . Keluarkan semua kemampuan terbaik kalian, bersiap lah untuk menjadi pemenang selanjut nya.Lomba akan di mulai dalam hitungan ke tiga, satu,, dua,,, tiga,,,"Abrail berucap dengan lantang.


Para peserta pun langsung mulai menyalakan laptop yang tersedia di depan mereka, setelah itu mereka pun begitu fokus dalam menuang kan semua ide yang ada di kepala mereka.


Tuan Arley begitu fokus memperhatikan setiap peserta, kadang raut wajah nya terlihat begitu sulit untuk di artikan saat mata nya menatap wajah Adam.


Karna di lihat dari sisi mana pun, Arkana terlihat begitu mirip dengan nya saat muda. Sedangkan Arkana seolah pura pura tak tahu, karna memang kenyataan nya dia tak ingin dekat dengan lelaki yang telah berjasa menghadirkan nya ke dunia ini.


Satu jam telah berlalu, semua peserta di instruksi kan untuk berhenti dan mengangkat tangan nya ke atas. Semua peserta pun patuh, mereka pun langsung berhenti beraktifitas.


Abrail pun naik ke atas panggung dan menyerukan suara nya kembali.


"Baiklah semua nya, karna waktu satu jam yang kami berikan sudah habis, maka sekarang izin kan kami untuk memeriksa hasil desain kalian. Dan tentu nya ke tiga juri kita yang akan langsung menilai hasil karya kalian, untuk para juri silahkan maju ke depan."Ujar Abrail.


Tuan Arley, Fernandez dan juga Nona Abigail langsung maju ke depan dengan memegang tablet di tangan mereka .Mereka pun dengan teliti memeriksa hasil karya mereka, setelah itu mereka pun mencantum kan nilai pada setiap nama peserta yang tertera di tablet mereka.


Saat Tuan Arley melihat Adam, dia malah diam terpaku. Dia merasa bingung harus bersikap seperti apa, sedang kan Fernandez dan Nona Abigail malah saling pandang.


Mereka pun jadi berpikir jika Tuan Arley benar benar punya anak dari salah satu wanita yang pernah di tiduri nya.


"Ehm,, Tuan Arley.."Panggil Fernandez.


"Ah, maaf aku sedikit melamun .Karya mu sangat bagus Boy ,aku sangat suka."Ucap Tuan Arley.


"Terimakasih grandpa,"Ucap Adam.


"What? Kau panggil aku apa?"


"Grandpa, bukan kah panggilan itu sesuai dengan umur anda grandpa? "Goda Adam.


"Ck,, baru saja aku memuji mu. Tapi ternyata kamu sangat menyebal kan, aku bahkan belum pernah menikah, tapi dengan tega nya kau memanggil ku grandpa."Kesal Tuan Arley.


"Dasar kakek kakek tak sadar umur, "Ucap Adam lirih.


"What? Kakek kakek tak sadar umur? "Tanya Tuan Arley tak percaya.


Semua yang ada di sana nampak saling bertukar pandang, ternyata Adam tak hanya pandai dalam berkarya tapi juga pandai dalam berbicara.


"Ck, tak ada kah cermin di rumah mu? Pria kaya seperti mu harus nya mempunyai banyak cermin, sorry grandpa sebaik nya cepat selsai kan penilaian nya. Kalau tidak, kita tidak akan pulang."Ucap Adam.


Semua yang ada di sana hanya bisa melongo di buat nya, tentu nya termasuk Tuan Arley sendiri. Dia tak menyangka jika anak genius itu mampu meledek nya, dia pun menghela nafas dan pergi meninggal kan Adam begitu saja.


+


+


+


Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak Yes.. ๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“untuk Kaleyan semua..


TBC