Who Is Adam?

Who Is Adam?
Berpikir



"Maafkan saya, Tuan. Tapi, kalau untuk urusan hati kami tidak bisa langsung berkata iya. Anda harus langsung menanyakannya pada Adisha," terang Haidar.


Adisha nampak tertunduk, bukan lamaran seperti ini yang dia inginkan, pikirnya. Adisha sangat menginginkan di lamar oleh seorang lelaki impian dengan sangat romantis, tak perlu kata cinta, baginya.


Karena memang, usia Adisha yang memang sudah tidak muda lagi. Baginya, ada yang melamarnya dan mengajaknya untuk berumah tangga dengan serius, itu sudah sangat cukup.


Mendengar ucapan Haidar, Tuan Arley pun langsung menatap Adisha dengan intens. Yang ditatap hanya tertunduk lesu, Tuan Arley pun jadi penasaran.


"Kamu ngga mau ya, nikah sama aku?" tanya Tuan Arley.


"Eh,,, bukan begitu, Mister." Adisha menggelengkan kepalanya dengan cepat," tapi, lamarannya ngga romantis." Adisha berucap dengan sangat pelan, tapi Tuan Arley masih bisa mendengarnya.


"Kalau kamu mau jadi istriku, nanti aku akan melamar kamu secara resmi." ucap Tuan Arley.


Adisha langsung mendongakan kepalanya, dia memberanikan diri untuk menatap Tuan Arley.


"Kenapa memilih saya? Bukankah banyak wanita cantik dan sederajat dengan, Mister?" tanya Adisha.


"Kamu benar, banyak wanita cantik di luar sana. Tapi, aku sukanya sama kamu. Gimana dong?" tanya Tuan Arley.


Adisha nampak tertunduk malu, sedangkan Haidar dan Rena nampak tersenyum melihat kegigihan Tuan Arley dalam meyakinkan Adisha.


"Aku ini sudah tua, aku ingin menikmati hari-hariku dengan penuh kebahagiaan. Tentunya dengan seorang wanita yang rela hidup bersama lelaki paruh baya seperti ku," ucap Tuan Arley.


Adisha langsung menatap Tuan Arley," Anda tidak terlalu tua, Mister. Malah anda terlihat lebih muda dari usia anda."


Mendengar ucapan Adisha, baik Tuan Arley, Rena ataupun Haidar, langsung tertawa terbahak-bahak.


"Kalau begitu, menikahlah dengan ku. Insya Allah, aku masih sanggup untuk memberikan nafkah lahir atau pun nafkah batin." ucap Tuan Arley.


"Issh, bukan itu. Kasih aku waktu, untuk berfikir. Ok?!" pinta Adisha dengan wajah memelas.


"Ok, sekarang kita harus segera kembali ke kantor. Nanti kamu bisa di marahi oleh Hasni." ajak Tuan Arley.


"Baiklah, kita berangkat sekarang." ucap Adisha.


Adisha langsung bangun, lalu memeluk Om dan Tantenya.


"Aku pamit ya, Om, Tante." ucap Adisha.


"Hati-hati, Sayang. Pikirkan baik-baik lamaran dari Tuan Arley, kamu pantas bahagia, kamu sudah cukup mengorbankan masa mudamu untuk mengurusi ke empat adik kamu." ucap Haidar.


"Lagi pula, Tuan Arley, pria yang baik. Tante sangat kenal dengan beliau," ucap Rena menimpali.


Adisha nampak menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Om nya.


"Aku pergi dulu, Haidar." ucap Tuan Arley sambil menyimpan beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja.


"Silahkan, Tuan. Saya titip, keponakan saya."


Tuan Arley nampak menganggukan kepalanya, kemudian dia pun merangkul pundak Adisha dan mengajaknya untuk pergi.


Adisha hanya bisa menatap tangan Tuan Arley yang bertengger cantik di pundaknya, sedangkan Tuan Arley nampak tersenyum senang karena tak mendapatkan penolakan dari Adisha.


Selama perjalanan menuju kantor, Tuan Arley terus saja menggenggam tangan Adisha. Hal itu membuat Adisha risih, tapi dia tak berani protes.


Saat tiba di lantai dua puluh lima, Tuan Arley pun ikut keluar dari kurung besi tersebut.


"Maaf, Mister. Saya mau bekerja, nanti Bu Hasni marah." Adisha mencari alasan, karena dia merasa tak enak hati.


"Ck, justru aku akan membantu kamu." Tuan Arley menjawil dagu Adisha, Adisha langsung tertunduk malu.


Tuan Arley merangkul pundak Adisha, kemudian menuntunnya menuju ruangan Divisi pemasaran. Saat pintu terbuka, nampak lah ke tiga teman Adisha yang sedang terbengong melihat Adisha yang datang bersama dengan Tuan Arley.


Bahkan yang membuat mereka kaget, saat melihat tangan Tuan Arley yang terlihat sedang merangkul Adisha.


Tuan Arley nampak tak menghiraukan mereka, Tuan Arley, langsung mendorong tubuh Adisha menuju ruangan Bu Hasni.


Bu Hasni sempat kaget karena pintu ruangannya terbuka begitu saja, tapi saat melihat Tuan Arley, yang masuk, Bu Hasni pun langsung bangun dan tersenyum.


"Ada apa, Mister? Apa Adisha membuat kesalahan?" tanya Bu Hasni khawatir.


"No, Hasni. Saya cuma mau nitipin calon istri saya sama kamu," ucap Tuan Arley.


Adisha dan Bu Hasni langsung kaget mendengar ucapan Tuan Arley, Arisan langsung memberanikan diri untuk menatap Tuan Arley.


"Saya kan belum jawab iya, Mister !!" kesal Adisha.


Tuan Arley langsung menarik pinggang Adisha, hingga tubuh mereka menempel sempurna.


"Jangan banyak protes," ucap Tuan Arley.


Adisha nampak mencebik kesal, dia tak pernah dekat dengan laki-laki, sekali di dekatin cowok, sudah seperti terikat.


Adisha berusaha melepaskan diri, tapi Tuan Arley malah memeluknya.


"Kalau membantah lagi, aku akan nikahan kamu sekarang juga. Ngga ada kata mikirin dulu !!" Tuan Arley mengancam, Adisha pun langsung terdiam.


Bu Hasni nampak bingung melihat mereka berdua, lalu dia pun memberanikan diri untuk berbicara.


"Jadi, yang benar bagaimana, Mister? "


Tuan Arley langsung melerai pelukannya dengan Adisha," Adisha adalah calon istri saya, mulai sekarang, kamu tidak boleh memberikan pekerjaan yang berat untuknya."


"Siap, Mister." Bu Hasni membungkukan badannya.


"Bagus,, aku kerja dulu ya sayang... Kamu, jangan terlalu cape." Tuan Arley merapihkan rambut Adisha yang terlihat sedikit berantakan.


"Sayang-sayang, Mister, makin aneh!!" kesal Adisha.


"Jangan kesel begitu, nanti kamu nyesel." ucap Tuan Arley.


Adisha seolah tak perduli, dia langsung membelakangi Tuan Arley. Tuan Arley langsung tersenyum, kemudian Tuan Arley, langsung mengecup pipi kanan Adisha dari belakang


Adisha sangat kaget, kemudian dia langsung berbalik dan memukul pundak Tuan Arley. Tuan Arley nampak terkekeh, kemudian dia menangkap tangan Adisha.


"Jangan marah, Ok?! "


Adisha terlihat malu-malu, Adisha segera menarik tangannya dan pergi mendahului Tuan Arley.