
"Bilang sama gue, elu kenapa?" tanya Al.
Bella melerai pelukannya, kemudian dia menatap wajah dengan Intens.
"Al, gue hamil." Kata Bella.
Tanpa sadar Al langsung mendorong tubuh Bella, Dia langsung berdiri dan memindai tubuh Bella dari atas sampai bawah.
Al bisa melihat jika perut Bella memang agak menonjol, itu artinya saat dia berpacaran dengan Bella. Bella sudah ditiduri oleh lelaki lain, pikir Al.
"Al, kenapa elu dorong gue?" tanya Bella.
Al menggelengkan kepalanya, tentu saja dia refleks mendorong tubuh Bella. Dia sangat kaget saat Bella berkata jika dia hamil.
Seingatnya, dia hanya pernah memeluk dan mencium Bella. Tapi, tunggu dulu... dia pernah mencumbu Bella saat pergi ke puncak.
Namun seingatnya hanya sampai setengah telanjang, itu juga karena bela terus memancingnya. Bella bahkan dengan lihai memanjakan milik Al.
Memijat dan mengulumnya dengan sangat liar, namun tak sampai berhubungan intim. Al hanya sempat mencicipi buah huldi milik Bella yang terlihat sangat sekal dan menantang.
Al juga pernah beberapa kali bercumbu dengan Bella di rumahnya Bella, karena Bapaknya Bella memang jarang berada di rumah.
Bapaknya selalu sibuk bekerja, bahkan Bella sering di tinggalkan ke luar kota. Sedangkan Ibunya sudah bercerai dan mempunyai keluarga baru.
Boleh dibilang, Bella merupakan anak broken home. Al jadi bingung dibuatnya.
"Bilang sama gue, elu hamil sama siapa?" tanya Al.
Bella terlihat diam saja, dia bingung harus berkata apa. Namun tak lama kemudian, dia menatap Al dengan lekat.
"Hamil anak elu, masa hamil anak Meong?" jawab Bella pada akhirnya.
"Elu jangan gila, umur gue memang masih enam belas tahun. Tapi gue tahu, jika perempuan hamil itu karena udah ditidurin sama cowok dan tentunya..." Al terlihat tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Tapi, Al. Elu tahu sendiri'kan kalau gue ngga pernah berhubungan dengan lelaki lain selain elu?" tanya Bella.
"Tentu saja gue ngga tahu, Bapak elu aja belum tentu bisa ngawasin elu selama dua puluh empat jam. Apa lagi gue... bisa aja elu berhubungan dengan pria lain di belakang gue." Al menatap jijik pada Bella.
Pantas saja, pikirnya. Bella terlihat sangat liar saat berduaan bersama Al baik saat di rumahnya apa lagi saat di puncak, bahkan Bella terlihat begitu berpengalaman.
"Terus, gue harus minta tanggung jawab sama siapa?" tanya Bella.
Al terlihat kesal, malah nanya sama Al. Bukannya buru-buru meminta pertanggungjawaban kepada lelaki yang menghamilinya, malah mengada-ngada.
"Sama cowok yang udah buntingin elu!" kata Al tegas.
"Al," ucap Bella memelas.
Dia tak menyangka jika Al, bisa berkata seperti itu. Sepertinya Bella harus menyusun rencana. agar Al mau bertanggung jawab, pikirnya.
Tak apa jika Al masih berusia enam belas tahun, yang penting anak di dalam kandungan Bella mempunyai Ayah, menurutnya.
"Gue cuma kenal elu doang, ngga ada cowok lain yang gue kenal. Apa lagi sampai berhubungan intim dengan lelaki itu," ucap Bella.
"Gue ngga percaya, gue yakin ngga pernah merawanin elu. Apa lagi sampai nembakin bibit unggul gue, Ogah gue!" Kata Al.
"Sekarang elu bisa ngomong kaya gitu, lihat aja Al gue yakin elu pasti bakal gue dapetin. Apa lagi saat gue mainin punya elu, elu nampak menikmatinya." Gumam Alina dalam hati.
"Jangan, jangan tinggalin gue?" kata Alina dengan raut kecewa.
Al langsung menepis tangan Bella, rasanya dia sudah tak ingin bersentuhan dengan Bella. Apa lagi jika mengingat Bella yang di jamah oleh pria lain sampai hamil.
Uuuh... Al merasa sangat menyesal karena pernah berhubungan dengannya. Apa lagi saat mengingat Bella yang dengan lincahnya memainkam miliknya, berarti Bella sering melakukannya dengan lelaki yang sering dia temui.
Al langsung keluar dari rumah Bella, kemudian dia menaiki motor sportnya lalu melajukan motornya menuju kediaman Arkana.
Al kini merasa galau, baru kali ini dia berhubungan dengan wanita yang membuatnya merasa pusing. Ternyata benar kata ibu dan Ayahnya, memang tak baik berpacaran dengan wanita dewasa.
Sedangkan di Bali....
Setelah melaksanakan shalat Isya berjamaah bersama dengan istrinya, Adam langsung meminum obat yang diberikan oleh Tuan Arley.
Tentu saja agar badannya lebih fit, karena dia sangat tahu jika Sisil memang mempunyai gairah yang lebih dari wanita normal lainnya.
Badannya saja kecil, tapi gairahnya sangat luar biasa. Bahkan terkesan sangat menggebu, kadang Adam harus mengatur napas dan mengontrol emosinya.
Agar dia tak keluar duluan, bisa ngamuk sang Nyonya jika tak mampu memberikan kepuasan untuknya.
"Sayang..." Sisil langsung memeluk Adam dari belakang lalu memainkan jarinya di dada Adam.
Adam langsung tersenyum, dia tahu kalau istrinya sedang menginginkan dirinya. Adam langsung berbalik dan menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Mau apa?" tanya Adam dengan tangannya yang sudah menyusuri garis wajah Sisil.
Sisil langsung menarik tangan Adam lalu menggigitnya dengan gaya sensual. Adam langsung tertawa lalu menggendong Sisil dan merebahkan tubuh Sisil dengan perlahan.
Cepat-cepat Adam membungkung tubuh istrinya. "Mau?" tanya Adam.
Sisil menganggukan kepalanya, dia lalu mengangkat wajahnya dan menautkan bibirnya ke bibir Adam. Adam pun tanpa segan langsung membalas tautan bibir istrinya.
Sisil memang pandai membuat hasrat kelelakian Adam naik, kadang Adam bertanya-tanya. Kenapa Sisil jadi berubah liar seperti itu, padahal saat awal mereka melakukan itu, Sisil terlihat sangat pemalu.
"Mau, Mas. Aku mau kamu, yang lama. Maunya dua kali," kata Sisil setelah melepas tautannya.
Adam langsung tertawa, walaupun dia harus berpikir keras untuk memuaskan istri cantiknya. Dia merasa sangat beruntung, karena Sisil begitu jujur dalam mengakui keinginannya.
"Ya ampun, belum mulai udah mawar." Adam langsung tertawa sambil menggigit dagu istrinya.
Sisil hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya, dan berharap semoga Adam bisa memebrikan apa yang dia inginkan.
Adam langsung menuruti keinginan istrinya, dia mulai mencumbui istrinya. Setelah melihat istrinya terlihat siap, dia langsung membuka kain penghalang yang menutupi tubuhnya dan juga istrinya.
Adam pun langsung memasuki tubuh istrinya yang terlihat begitu siap, Adam sangat berharap jika obat yang diberikan Tuan Arley akan manjur.
Sisil begitu menikmati permainan yang Adam suguhkan, dia pun tak mengerti kenapa dia bisa seperti itu.
Setelah merasakan nikmatnya malam pertama, setelah merasakan nikmatnya permainan yang Adam suguhkan. Sisil merasa ingin hal yang lebih, jika Adam memberinya sekali, dia merasa ingin dua kali.
Sisil pun benar-benar tak paham dengan respon tubuhnya, Sisil bahkan sempat takut jika Adam akan marah padanya.
Beruntung Adam malah berusaha untuk mencukupi nafkah batin yang Sisil minta.