
Leo melangkahkan kakinya dengan langkah gontai, dia merasa tidak bersemangat hari ini. Karena kebebasannya seakan terenggut setelah mendengarkan kata perjodohan.
Andai saja bisa, ingin sekali Leo lari dari kata perjodohan itu. Namun sayangnya, dia begitu mencintai Momnya.
Dia tidak mungkin mengecewakan Mom'nya, Leo memang nakal. Dia suka sekali bermain dengan banyak wanita, namun kalau untuk urusan Mom'nya itu tidak bisa diganggu gugat lagi.
Sampai di dalam ruangannya, ternyata Gracia sudah duduk dengan memegang beberapa berkas di tangannya.
Leo sempat kaget karena dia kira Gracia tidak akan masuk hari ini, dia kira Gracia akan menunggui ibunya yang sedang sakit.
"Pagi Gracia," sapa Leo.
Gracia yang sedang terfokus pada pekerjaannya pun, langsung mendongakkan kepalanya.
Lalu dia menatap Leo dengan lekat, "selamat pagi juga, Tuan. Kok tumben wajahnya kusut bener?" tanya Gracia.
"Ya, aku sedang sebal karena hari ini aku harus menemui wanita pilihan Mom dan aku tidak suka akan hal itu," kata Leo
Gracia nampak mengerutkan dahinya, "bukankah itu bagus, Tuan? Jadi Tuan tidak usah mencari-cari perempuan lagi, karena sudah dipilihkan perempuan yang baik oleh Mom'nya, Tuan."
"Tapi aku tidak suka jika dijodohkan seperti itu, rasanya harga diriku seperti terinjak-injak. Padahal aku tampan, aku mapan, aku sudah punya penghasilan sendiri, punya rumah sendiri, perempuan manapun pasti akan mau menikah denganku," ucap Leo percaya diri.
Leo langsung duduk dan menyandarkan tubuhnya, dia gelisah saat ini. Apa lagi dia juga sekarang mempunyai kekasih yang selalu bisa membuat ranjangnya berdecit dengan hebat.
Dia tak mungkin memutuskan hubungannya begitu saja dengan kekasihnya itu, apa lagi pacarnya yang sekarang termasuk wanita yang mau bertahan dengan sikap Leo.
"Kerja saja dulu, urusan perjodohannya dipikirkan nanti saja. Soalnya sebentar lagi kita ada meeting penting," ucap Gracia mengingatkan.
"Ah, kamu benar. Mana kita cuma berdua lagi, tugas kita cukup berat. Katanya yang megang perusahaan L bukan Tuan Bram lagi, tapi anaknya. Perempuan, susah kalau urusan kerjaan sama perempuan. Suka plin-plan," ucap Leo.
Gracia hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Leo, sedangkan Leo kini mulai mempersiapkan berkas yang dia perlukan untuk meeting.
Gracia dan Leo memang hanya akan pergi ke berdua saja, karena Adam juga akan bertemu klien besar dari negara A.
Maka dari itu juga Gracia tak bisa libur bekerja, walaupun ibunya sedang berada di Rumah Sakit.
Dia terpaksa menitipkan Ibunya pada perawat yang berjaga, karena ia merasa tak enak hati pada Adam dan Leo.
Dia hanya pegawai baru, tentunya untuk masuk ke dalam perusahaan Caldwell sangatlah susah.
"Ayo, Tuan. Saya sudah siap," ajak Gracia.
Gracia sudah terlihat memakai tas dan juga sudah membawa berkas di tangannya.
"Loh, mau kemana?" tanya Leo.
"Mau meeting sama perusahaan L, Tuan. Masa lupa?" kata Gracia.
"Kenapa bawa tas?" tanya Leo heran.
Karena setahunya mereka akan meeting di perusahaan Caldwell, kenapa Gracia harus membawa tas segala?
Itu terlihat sangat lucu buat Leo, Gracia langsung tertawa melihat wajah Leo yang terlihat bingung.
"Meetingnya nggak jadi di gedung ini, Tuan. Tapi kita akan meeting di Caffe D, karena beliau meminta bertemu di sana. Lagi pula Tuan Adam akan meeting di gedung ini, jadi kita tidak bisa memakai ruang meetingnya," kata Gracia.
"Oh," ucap Leo.
Leo pun segera membereskan berkas yang harus dia bawa, lalu dia pun segera mengambil ponsel, dompet dan juga kunci mobil.
"Ayo," ajak Leo.
Leo dan Gracia pun langsung menuju Caffe D, tempat janji temu bersama dengan perusahaan L.
Sampai di Caffe tersebut, Leo sempat terpaku saat melihat wanita cantik dengan balutan busana kerja yang terlihat melekat erat di tubuh wanita itu.
"Ehm, selamat pagi Tuan Leo." Wanita itu nampak mengulurkan tangannya.
Dengan cepat Leo pun menyambut uluran tangannya, lalu menggoyangkannya ke atas dan ke bawah.
"Ya Tuhan... ada bidadari nyasar dari mana Sih? Kenapa dia cantik banget, sayangnya klien. Kalau bukan, udah gue geret. Gue ajak ke kasur buat bertempur," gumam Leo dalam hati.
"Maaf, Tuan. Bisa lepaskan tangan saya," ucap Wanita itu.
Leo langsung menatap tangan wanita itu yang masih berada di dalam genggamannya.
"Maaf, saya khilaf." Leo terlihat memamerkan deretan gigi putihnya.
"Saya Gracia, Nona." Gracia terlihat mengulurkan tangannya, dengan cepat wanita itu pun menerima uluran tangan dari Gracia.
"Silahkan duduk," ucap perempuan tersebut.
Leo dan juga Gracia pun langsung duduk sesuai dengan instruksi dari perempuan tersebut.
"Perkenalkan, nama saya Cindy Aleina. Saya putri dari Tuan Bram, mulai hari ini semua pekerjaan yang terlaksana antara perusahaan Caldwell dan juga perusahaan Ayah saya akan langsung di handle oleh saya," ucap Cindy.
"Nama yang bagus," ucap Leo tanpa sadar.
Cindy dan juga Gracia nampak mengerutkan dahinya, menurut mereka kata yang diucapkan Leo itu tidak tepat.
Menyadari kesalahannya, Leo pun langsung menegakkan tubuhnya. Lalu, dia pun berkata.
"Ah, maaf. Saya sedang sedikit melamun, bisa kita mulai meetingnya?" tanya Leo.
"Ya, lebih cepat lebih baik," ucap Cindy.
Akhirnya meeting pun dimulai, selama meeting berlangsung tatapan mata Leo tak pernah beralih sama sekali dari wajah cantik Cindy.
Gracia hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka dengan watak dari asisten Bosnya itu.
Setelah satu jam, meeting pun telah selesai. Cindy yang masih ada pekerjaan pun langsung berpamitan kepada Leo dan juga Gracia.
"Saya duluan, ya? Masih ada keperluan lain soalnya," ucap Cindy.
Leo dan Gracia hanya bisa saling tatap, kemudian mereka pun menganggukkan kepalanya.
Leo menatap kepergian Cindy dengan tatapan tak ikhlas, rasanya dia masih ingin berlama-lamaenatap wajah cantik itu.
"Ehm, inget, Tuan. Wnita pilihan Mom anda sedang menunggu," kata Gracia dengan wajah serius.
"Ck! Menyebalkan," umpat Leo.
Gracia langsung tertawa melihat wajah kesal Leo, ternyata lelaki itu benar-benar pengagum wanita, pikirnya.
Tak bisa sekali melihat wajah-wajah wanita bening, langsung nunduk kaya kebo dicocok idungnya.
Setelah sampai di kantor, Leo sempat berpapasan dengan Adam di loby kantor. Dia dan Tuan Arley terlihat sedang mengantarkan Mister Edward sampai ke dalam mobilnya.
Maklum, selain klien besar. Mister Edward pun adalah teman lama Tuan Arley, sudah pasti mereka akan terlihat sangat akrab.
Setelah kepergian Mister Edward, Adam terlihat menghampiri Leo.
"Leo," panggil Adam.
"Ya, Tuan," jawab Leo.
"Hari ini rasanya panas sekali, tolong beliin saya es Duren, ya?" pinta Adam.
"Hah?"