Who Is Adam?

Who Is Adam?
Bahagia



Setelah Sisil berbaring, dokter Citra pun menuangkan gel di perut Sisil. Kemudian dokter Citra pun langsung melakukan USG, tak lama setelah dia menggerak-gerakkan sebuah alat di atas perut Sisil, dokter Citra nampak tersenyum.


Adam dan Sisil nampak penasaran dengan reaksi dari dokter Citra, karena tak sabar Adam pun langsung bertanya.


"Bagaimana dengan keadaan calon Baby kami?" tanya Adam.


"Sangat sehat, perkembangan janinnya juga bagus. Bentuknya, beratnya dan juga pertumbuhannya sangat bagus dan juga kuat." Dokter Citra terus saja menggerakan alat tersebut kesana-kemari seperti yang sedang mencari sesuatu.


"Syukurlah," ucap Adam.


"Lalu, berapa usia kandungan istri saya, Dok?" tanya Adam.


"Tujuh minggu," jawab Dokter Citra.


Adam terlihat sangat senang, dia pun langsung memeluk Sisil dan mengecupi setiap inci wajah istrinya tersebut.


"Mas sangat senang, Sayang. Karena ternyata sebentar lagi Mas akan menjadi orang tua," ucap Adam.


"Ya, aku pun sangat senang mendengarnya," ucap Sisil dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Lalu, bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok?" tanya Adam.


"Keadaan istri anda sangat baik, Tuan," jawab Dokter Citra.


"Lalu apakah berbahaya, kalau misalkan saya dan istri melakukan hubungan intim?" tanya Adam ragu-ragu.


Dokter Citra pun nampak tersenyum, dia memperhatikan Adam yang terlihat masih sangat muda. Begitupun dengan Sisil, sudah pasti mereka sedang giat-giatnya dalam urusan pergumulan panas di atas ranjang.


Dia pun langsung menganggukkan kepalanya, lalu dokter Citra pun berkata.


"Boleh, Tuan. Asal anda melakukannya dengan hati-hati, tidak boleh terlalu sering juga," jelas Dokter Citra.


Adam pun terlihat menghembuskan nafasnya dengan berat, dia pun jadi berpikir jika dirinya mulai saat ini harus bisa menahan dirinya agar tidak menggempur istrinya.


Dia harus menjaga calon bayinya dengan benar, agar tidak terjadi apa-apa terhadap calon bayinya tersebut. Dokter Citra pun menjelaskan beberapa hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil.


Setelah paham, Sisil dan Adam pun berpamitan kepada dokter Citra. Tak lupa sebelum mereka pulang, mereka pun menembus obat dan juga vitamin untuk Sisil di apotek terlebih dahulu.


"Terima kasih ya, Sayang. Karena kamu sudah mau mengandung calon buah hati kita, Mas sangat senang, Sayang." Adam langsung mengecupi punggung tangan Sisil.


"Sama-sama, Sayang. Mulai nanti malam kamu engga boleh getol-getol nyangkulnya," ucap Sisil.


"Ya ampun, istriku ini." Adam langsung menepikan mobilnya, lalu. melepas seat belt'nya.


"Mau apa? Kenapa berhenti di sini?" tanya Sisil.


Adam langsung tersenyum, kemudian dia langsung memojokan tubuh Sisil dan mencium bibir mungil istrinya.


"Mas, Ih!!" protes Sisil saat Adam telah melepaskan pagutannya.


"Mas terlalu bahagia," ucap Adam dengan senyumnya.


"Pulang buruan, Ibu pasti nunggu. Ayah juga bilangnya belum ke kantor, mau tau hasilnya dulu."Sisil langsung mendorong tubuh Adam.


"Oke," jawab Adam singkat.


Adam langsung memasang seat belt'nya, lalu melajukan mobilnya menuju kediaman Laila.


Selama perjalanan pulang, Adam terus saja menggenggam tangan Sisil. Rasa bahagia seakan begitu menyelimuti dirinya, dia benar-benar bersyukur pada Sang Khalik.


Karena dia sudah diberikan titipan yang harus dia jaga dan dia rawat dengan sepenuh hati, dia juga sangat bahagia. Karena sebentar lagi dia akan pindah ke rumah miliknya dan juga rumahnya akan terasa ramai dengan tangisan anak-anaknya.


Sesampainya di depan rumah Laila, Adam langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian dia pun turun dan sedikit berlari, lalu membukakan pintu mobil untuk Sisil.


"Silakan, Nyonya Adam." Ucap Adam seraya membungkuk, Sisi langsung tersenyum lalu keluar dari mobil Adam.


Adam dan Sisil pun masuk ke dalam rumah secara beriringan, tangan mereka saling bertaut dan senyum mereka pun terus mengembang dengan sempurna.


Tentu saja semua itu karena kebahagiaan yang sedang mereka rasakan saat ini, kebahagiaan yang tiada terkira yang datang dari kabar tentang kehamilan Sisil.


"Bagaimana?" tanya Laila tak sabar.


"Tara.... "


Adam memberikam amplop kepada Laila, di dalamnya berisi hasil dari pemeriksaan kehamilannya Sisil. Dari mulai tespek, hingga hasil USG.


Laila dengan tak sabar langsung mengambil amplop tersebut dari Adam, dia lalu membuka amplop tersebut.


Mata Laila langsung berkaca-kaca, dia begitu senang karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Nenek. Rasanya baru kemarin dia melahirkan dan menyusui seorang putra bernama Adam.


Namun kini dia akan mendapatkan cucu dari putranya tersebut, rasanya semua kepedihan dan kesusahan yang sudah dia alami selama ini hilang terganti dengan rasa bahagia.


"Oh, Sayang. Selamat ya, semoga kalian bahagia selalu." Laila langsung memeluk Sisil dan mengecup kening menantunya tersebut.


"Terima kasih, Ibu," ucap Sisil.


"Sama-sama, Sayang," balas Laila.


Arkana yang sedari tadi diam pun ikut merasa bahagia saat mendengar menantunya tengah hamil, Arkana pun langsung menghampiri Laila dan Sisil yang sedang berpelukan.


Dia menarik Laila dan juga Sisil ke dalam pelukannya, kemudian dia pun mengecup kening Sisil dan juga Laila secara bergantian.


"Aku semakin tua, Yang. Sebentar lagi aku akan menjadi Kakek," ucap Arkana pada Sisil.


"Hem, kita akan menjadi Kakek dan Nenek." Laila mengeratkan pelukannya.


"Ehm, Bu. Aku juga mau peluk," ucap Adam.


Laila, Arkana dan juga Sisil langsung tertawa, kemudian mereka pun saling memeluk dengan kebahagiaan yang tiada tara.


Jika di rumah Laila sedang berbahagia karena kehamilannya Sisil, di kantor justru Leo begitu kerepotan.


Dari pagi lelaki yang begitu suka bergonta-ganti wanita itu nampak hilir mudik kesana-kemari untuk menghandle pekerjaan Adam.


Memang di sana ada Tuan Arley, karena dia merasa kasihan pada Leo yang ditinggalkan oleh Adam. Namun Tuan Arley tak banyak membantu, justru Gracia lah yang begitu kerepotan.


Dia juga harus pergi ke luar kantor untuk mengerjakan banyak pekerjaan, sedangkan Leo tak bisa membantu karena ada dua kali meeting penting di dalam kantor.


"Ya Tuhan, cape banget." Leo menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kebesarannya.


Gracia yang juga baru sampai langsung duduk dan menyandarkan tubuhnya.


"Cape, ya?" tanya Leo.


"Banget," jawab Gracia.


Leo melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah empat sore. Sebenarnya dia masih ingin bersantai barang sejenak karena tubuhnya terasa sangat lelah, namun dia harus menjemput Cindy.


"Aku pulang duluan," ucap Leo lesu.


"IyaTuan, saya nanti saja. Mau leyeh-leyeh bentar," jawab Gracia.


Leo pun langsung pergi dari kantor tempat dia bekerja, tentu saja tujuan utamanya adalah menjemput Cindy. Sampai di depan kantor Cindy, Leo pun memarkirkan mobilnya.


Namun, saat dia hendak turun dia melihat Cindy yang sedang berdebat dengan seorang pria. Leo pun nampak memperhatikan mereka berdua dari dalam mobilnya, kemudian Leo pun menyadari satu hal.


Jika lelaki tersebut adalah lelaki yang diputuskan oleh Cindy saat berada di Caffe M.


"Mau apa, dia?"