
Sisil memandang wajah Adam dengan raut bingung, dia merasa heran dengan Adam yang tiba-tiba datang ke rumahnya, memakan masakannya dan sekarang dengan mudahnya memberikan dia uang.
Alasannya sangat sederhana, buatkan dia makan siang setiap hari. Ingin sekali rasanya, Sisil mengusir pria tampan yang kini sedang duduk manis sambil menatapnya.
Tapi, saat Sisil memperhatikan raut wajah Adam, hanya ada guratan iba dan seperti ingin memberikan pertolongan saja padanya.
Dengan tak enak hati, Sisil menerima uang dari tangan Adam.
"Baiklah, uangnya saya terima. Besok, Tuan mau di masakin apa?" Sisil memperhatikan penampilan Adam yang terlihat sangat tampan walaupun dengan wajah yang terlihat sudah sangat lelah.
Adam langsung tersenyum, karena Sisil mau menerima tawaran dari' nya. Menurutnya, tidak salah bukan, meminta gadis cantik seperti Sisil memasakan makanan untuknya?
Toh, dengan uang itu dia bisa mulai melakukan terapi agar kakinya bisa cepat sembuh. Alasan Adam sebenarnya sangat sederhana, dia ingin menolong Sisil tanpa membuatnya merasa tersinggung.
Atau mungkin, Adam mulai menyukai gadis yang baru saja dia temui. Entahlah, Adam pun tak tahu. Hanya saja, yang pasti dia rasakan saat ini, Adam sangat suka melihat gadis cantik di hadapannya.
"Apa saja, aku pemakan segala." Jawab Adam asal.
Sisil nampak tersenyum lega, pasalnya, dia memang tidak bisa memasak banyak menu makanan. Bukan karena malas untuk belajar memasak, tapi memang karena keterbatasan biaya.
"Baiklah, besok saya akan memasak buat, Tuan." Jawab Sisil dengan senyum manisnya.
Adam pun langsung tersenyum, dia suka melihat senyum Sisil yang jarang sekali dia tampakan.
"Good girl! Kalau begitu, aku pulang dulu, sudah mau maghrib." Adam pun langsung bangun dari bangku kayu yang ada di depan rumah Sisil.
Adam sudah mulai melangkahkan kakinya, tapi, langkahnya terhenti saat Sisil kembali mengeluarkan suaranya.
"Em, Tuan. Terim kasih," ucap Sisil tulus.
Sisil benar-benar merasa tak enak hati pada kebaikan Adam, tapi, dia juga senang karena bertemu orang yang baik seperti Adam.
"Eh, Kamu nyindir saya ya?" tanya Adam.
Sebenarnya, dia paham dengan apa yang di maksud oleh Sisil. Tapi, Adam sengaja mengatakan hal itu.
"No, Tuan. Saya beneran ngucapin terima kasih, karena Tuan sudah memberi saya pekerjaan tambahan." Ucap Sisil cepat.
Adam pun terkekeh, ternyata memasak makan siang untuknya merupakan pekerjaan tambahan untuk Sisil, pikirnya.
"Sama-sama, saya juga mengucapkan terima kasih karena kamu, sudah mau memasak untuk saya, Assalamualaikum. " Adam pun segera pergi dari rumah Sisil setelah menutup obrolan mereka dengan salam.
"Waalaikum salam," jawab Sisil.
Sisil terus saja memandang punggung Adam yang semakin menjauh dari rumah sederhana yang kini sudah menjadi miliknya.
Tak lama, Sisil melihat Adam masuk ke dalam mobil yang terparkir tak jauh dari rumahnya. Mobil itu pun melesat pergi, membuat Sisil mengernyitkan dahinya.
"Aneh, bukankah dia bilang mobilnya mogok? Ko bisa langsung jalan?" Sisil segera masuk ke dalam rumahnya dengan wajah bingung, dia masih kepikiran tentang alasan mobil mogok yang di utarakan Adam.
Dengan langkah cepat dia masuk dan segera menutup pintu rumahnya. Dia menghitung uang yang Adam berikan, senyum pun langsung mengembang di bibirnya.
"Lima juta! Banyak banget, dia bilang baru DP." Sisil langsung berlari ke dalam kamarnya, dia menyimpan uang dari Adam ke dalam lemari bajunya.
Dia benar-benar merasa sangat senang, karena tiba-tiba saja, Allah mengirimkan lelaki berhati malaikat ke rumahnya.
Dia sangat senang, karena baru saja mendapatkan sebuah keberuntungan yang menurutnya lebih indah dari sekedar mendapatkan lotre.
Tak jauh berbeda dari Sisil, Adam pun terlihat sangat bahagia. Sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah, Adam terlihat menyunggingkan senyuman nya.
Dia merasa senang, karena bisa berdekatan dengan gadis yang bernama Sisil. Dia juga begitu senang, karena bisa melihat senyuman Sisil yang terlihat begitu manis.
Entah kenapa, Adam merasa jika sejak pertama bertemu dengan Sisil, dia sudah menyukai gadis itu. Entah hanya perasaan suka, atau lebih dari itu.
Yang Adam tahu, dia tidak tahu dengan pasti mengenai perasaannya saat ini. Dia, hanya merasa suka saat berdekatan dengan Sisil.
Saat tiba di depan rumah, Adam langsung memarkirkan mobilnya. Dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya, Adam pun masuk.
Saat Adam masuk kedalam rumah, ternyata keadaan rumah terlihat sangat sepi. Adam sudah bisa menyimpulkan, jika semua keluarganya pasti sedang berkumpul di dalam mushola dan melakukan salat Maghrib berjamaah.
Adam pun segera lari ke dalam kamarnya, melempar kan jelasnya, mengambil wudhu dan ikut bergabung ke dalam Mushala.
Selesai shalat Maghrib, semuanya berkumpul di ruang makan. Laila terlihat sibuk melayani Arkana, begitupun dengan Al, dia terlihat sibuk memilah lauk yang dia suka.
Sedangkan Adam, hanya meminum jus buah saja. Laila menjadi heran di buatnya, dia pun langsung bertanya pada putra sulungnya itu.
"Adam, Sayang. Kenapa tidak makan?" tanya Laila.
"Kenyang, Bu. Tadi Adam sudah makan," jawab Adam jujur.
Dahi Laila langsung mengernyit, pasalnya Adam tak terlalu menyukai makanan luar. Adam biasanya lebih suka masakan rumahan, makanya, Laila tak pernah absen untuk memasak khusus buat anak-anak dan suaminya.
"Sejak kapan kamu makan di luar?" tanya Laila.
Adam pun langsung terkekeh," Adam makan masakan rumahan, sederhana tapi enak."
Adam pun kembali membayangkan sepiring nasi, yang hanya di beri tumis bayam, sepotong tempe dan dadar telur.
"Enak, dan ingin merasakan lagi masakannya."
" Boy!" tegur Arkana yang melihat Adam malah melamun.
"Iya, Yah. Ada apa?" Jawab Adam.
Arkana langsung menggelengkan kepalanya," sepertinya dia baru saja bertemu wanita cantik yang menarik perhatiannya."
Al yang mendengarnya langsung tersedak, begitu' pun dengan Laila. Dengan cepat Adam dan Arkana menyodorkan air putih pada Laila dan juga Al. Laila dan Al pun langsung meminum air putih tersebut hingga tandas.
"Kakak beneran suka sama cewek?" tanya Al antusias.
Pasalnya dia tak pernah melihat Adam dekat dengan wanita manapun, padahal Adam kuliah di luar negeri sampai lulus S2. Tapi, Al sama sekali tak pernah melihat adanya tanda-tanda Adam dekat atau sekedar suka dengan perempuan.
Baik Arkana, Laila dan juga Al langsung menatap ke arah Adam. Adam tiba-tiba saja merasa sudah seperti tersangka dalam suatu kasus.
"Kalian kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Adam heran.
"Jawab dulu, Sayang. Kamu makan di mana? Setahu Ibu, kamu tak suka makan di sembarang tempat." Laila menatap Adam dengan tatapan tajamnya.
Adam pun langsung tersenyum canggung sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.