Who Is Adam?

Who Is Adam?
Ke Luar Kota



Hari gelap yang dingin kini berubah terang, karena pagi telah menjelang. Sinar mentari pun sudah mulai melaksanakan tugasnya, dia sudah sangat siap untuk menyinari alam semesta dan menghangatkan tubuh setiap insan di muka bumi.


Adam dan Sisil sudah duduk anteng bersama dengan Laila dan Arkana, mereka sudah siap untuk sarapan pagi bersama.


"Sarapannya yang banyak, Yang." Sisil mengendokkan satu centong penuh nasi goreng buatan Laila.


"Tentu saja, Yang. Aku harus banyak makan," ucap Adam sambil mengerling nakal.


"Mas!" ucap Sisil pelan tapi penuh dengan penekanan.


"Apa sih, Yang?" tanya Adam pura-pura tak mengerti.


Laila dan Arkana nampak saling pandang, kemudian mereka pun saling melempar senyum.


"Hari ini Mas mau keluar kota, kalau ngga pulang berarti masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan." Adam memasukan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Kenapa ngga bilang dari malam? Kalau nginep'kan Mas harus bawa baju ganti," keluh Sisil.


"Ngga usah, Yang. Mas masih ada persediaan baju di kantor, kalau nginep ya pake baju itu." Adam mengambil susu yang sudah disiapkan oleh Sisil lalu meneguknya hingga habis.


"Enakan minum susu langsung dari sumbernya, yang," bisik Adam tepat di telinga Sisil.


Sisil langsung melotot ke arah Adam, sedangkan Adam hanya tersenyum sambil menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


Sedangkan Arkana dan Laila hanya bisa tersenyum kecut, karena mereka bisa mendengar ucapan Adam walaupun dia berbisik.


Selesai sarapan, Adam langsung berpamitan untuk bekerja. Begitupun dengan Arkana, dia berpamitan untuk pergi menuju kantor yang sudah dia kembangkan.


Sebelum berangkat Arkana pun mengecup bibir Laila dengan mesra, hal itu membuat Adam merasa iri. Karena di usia mereka yang hampir setengah abad, kedua orang tuanya masih terlihat begitu mesra.


Adam yang tak mau kalah pun langsung mengecup bibir Sisil beberapa kali, Sisil pun langsung menunduk malu. Apa lagi Adam melakukannya tepat di depan kedua mertuanya.


"Mas berangkat, kalau Mas nginep. Nanti Mas telpon," ucap Adam sebelum dia benar-benar pergi.


"Iya, Mas." Sisil langsung melambaikan tangannya kala melihat Adam yang sudah menjauh dari pandangan matanya.


Kali ini Adam sengaja tak mengendarai mobilnya sendiri, karena dia akan melakukan perjalanan jauh. Dia takut mengantuk saat berkendara.


Sebelum pergi ke luar kota, tentunya Adam pun menuju kantor terlebih dahulu. Karena harus mengambil berkas dan baju ganti, dia juga harus menunggu Leo dan Gracia.


Karena Adam memang akan pergi bertiga bersama dengan Gracia dan juga Leo.


Setelah semuanya siap, Adam langsung mengajak Leo dan juga Gracia untuk segera berangkat. Gracia nampak duduk di depan bersama Pak Sopir, sedangkan Adam dan Leo nampak duduk di belakang.


Selama perjalanan menuju kota B, Leo terus saja memeperhatikan wajah cantik Gracia lewat pantulan cermin. Padahal ini baru hari kedua dia bersama dengan wanita polos itu, namun entah kenapa dia serasa ingin terus menatap wajah itu.


Bahkan tadi malam dia tak lena saat tidur, dia masih saja memikirkan bagaimana keadaan Gracia. Masih terbayang saat Alina menunggu bis di halte.


Leo pun jadi bertanya-tanya, seperti apakah kehidupan Gracia? Apakah teramat sulit? Kenapa Gadis secantik Gracia pulang-pergi hanya menggunakan bis? Memangnya tidak ada sepeda motor sama sekali?


"Ehm, kamu kenapa?" tanya Adam.


"Tak apa, Tuan." Leo terlihat gelagapan, karena tertangkap basah sedang memperhatikan Gracia.


"Kalau suka segera bilang sama orangnya, jangan sampai nyesel. Tapi ingat! Yang ini ngga kaya wanita yang biasa kamu kencani," ucap Adam.


"Ehm," Leo hanya bisa berdehem untuk menetralkan perasaannya.


Adam hanya bisa tertawa mengejek melihat tingkah Leo yang terlihat serba salah.


"Sudah sampai, Tuan." Pak Sopir langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Adam.


"Terima kasih," ucap Adam.


Pak Sopir langsung membungkuk hormat, Adam segera turun dan masuk ke dalam sebuah hotel tempat dia dan kliennya akan melakukan janji temu.


Leo dan Gracia pun dengan setia mengekori langkah Adam, mereka harus segera sampai karena klien mereka ternyata sudah sampai terlebih dahulu.


*/*


Jika Adam tengah sibuk dengan kegiatan bisnisnya, Al kini sedang serius dalam mengerjakan tugas sekolahnya.


Al memang sekolah di sekolah ternama di negara A, namun dia lebih memilih untuk home schooling. Dia merasa lebih nyaman jika belajar sendiri, dia merasa lebih fokus.


Semenjak kejadian itu, Al merasa kurang percaya diri untuk berbaur dengan orang banyak. Dia kini lebih menutup diri, bahkan auranya yang dulu ceria kini telah berubah dingin.


Tidak ada lagi Al yang suka bercanda, tak ada lagi Al yang selalu slengean kala bertemu dengan wanita. Dia berubah jadi pria yang lebih serius dan dingin.


Jika pekerjaan sekolahnya sudah selesai, dia akan cepat meminta Mahendra untuk mengajaknya menuju perusahaan milik Adam.


Ferdinand pun dengan sigap langsung mengajarkan Al tentang bagaimana caranya untuk menjadi pemimpin yang baik.


Jika Ferdinand sibuk, maka Mahendra lah yang akan sigap mengajari Al tentang dunia bisnis. Bahkan kini El sudah mulai terlihat paham, dengan cara kerja dari perusahaan milik Adam.


Padahal dia di sana baru genap satu minggu, baik Mahendra atau pun Ferdinand mengakui kepintaran Al dalam bernisnis. Ternyata anak itu sudah ada bibit yang bagus dalam hal berbisnis.


Tak ada lagi Al yang ceria, dia seolah menutup diri dari keramaian. Dia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri, dia sungguh menyesali perbuatannya.


Namun, dia masih merasa. sangat beruntung, karena saat Bella sadar dia masih mau menelpon Al dan menanyakan kabarnya, dia masih menghawatirkan Al.


Padahal dia sudah membuat nyawa dari dalam rahimnya tiada, namun Bella masih berbaik hati untuk memaafkan dirinya.


"Tuan Al," panggil Mahendra.


"Ya," jawab Al.


"Sudah waktunya untuk pulang, sudah pukul empat sore." Mahendra membantu Al merapihkan berkas yang berserakan di atas meja.


"Terima kasih," ucap Al.


Al langsung berdiri dan keluar dari sebuah ruangan kebesaran milik Adam, karena walaupun perusahan miliknya dipegang oleh Ferdinand.


Ferdinand tak pernah berani untuk masuk ke dalam ruangan Adam, sedangkan Al. Dia memang mempunyai hak dari Adam.


Al adalah adiknya, Adam pun berharap semoga dia bisa menghandle semua pekerjaannya yang ada di negara A.


Adam sangat yakin, walaupun Al masih sekolah, tapi dia sangat paham.


+


+


+


Selamat malam semua, semoga kalian sehat selalu. Maaf jika Othor telat Up, karena hari ini sedang sibuk di dunia nyata. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like comment dan juga hadiahnya ditunggu banget loh...