Who Is Adam?

Who Is Adam?
Manusia Atau Kukas?



Pagi ini Gracia terlihat sangat bahagia, dia berangkat bekerja dengan hati yang berbunga. Bukan karena baru ditembak seorang lelaki tampan, tapi karena Mom Maura pagi-pagi sekali sudah datang kerumah yang mereka tempati.


Bahkan dia membawakan bahan-bahan untuk mereka memasak sarapan pagi, Ibu Naura terlihat sangat bahagia.


Mereka berdua begitu kompak memasak di dapur, membuat Gracia sangat bahagia.


Mom Maura bahkan berkata kepadanya jika Leo sudah mengetahui bahwa mereka bersaudara, Gracia pun tersenyum senang karena ternyata dia bekerja di satu ruangan bersama Kakak sepupunya sendiri.


Saat masuk ke dalam ruangannya, dia tak menemukan sosok Leo di sana. Mungkin dia masih mengantarkan Cindy, pikirnya.


Sambil menunggu Leo datang, Gracia memilih untuk menyambar berkas yang berada di atas meja kerjanya.


Karena memang sebentar lagi dia harus pergi meeting di luar kantor bersama dengan Leo.


"Sepertinya aku harus membereskan semuanya terlebih dahulu, agar Kak Leo datang nanti, semuanya sudah siap," ucap Gracia dengan penuh semangat.


Setelah semuanya siap, Gracia tak menemukan tanda-tanda jika Leo akan datang ke ruangan tersebut.


Dia sempat melirik jam yang melingkar di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 08.15.


Padahal setengah sembilan mereka harus berangkat menuju Caffe T, karena klien sudah menunggu di sana.


Tak lama pintu nampak terbuka, Gracia pun langsung mendongakkan kepalanya. Dia mengira Leo lah yang datang.


Namun saat melihat orang yang masuk ke dalam ruangan tersebut, dahi Gracia nampak mengkerut dalam.


Di hadapannya kini tengah berdiri lelaki yang sangat tampan, namun berwajah dingin.


"Maaf, Tuan siapa? Kenapa masuk kedalam ruangan saya?" tanya Gracia


Bukannya menjawab pertanyaan Gracia, lelaki tampan itu malah bertanya balik kepada Gracia.


"Apakah kamu yang bernama Gracia?" tanya lelaki tampan tersebut.


"Ya, saya Gracia," jawabnya.


"Kalau begitu cepat ikut saya sekarang," ucap lelaki tampan tersebut.


Walaupun Gracia merasa bingung, dia tetap mengikuti langkah lelaki tersebut. Sampai di depan lobby perusahaan, dia pun langsung membukakan pintu mobilnya untuk Gracia.


Walaupun ragu, Gracia tetap masuk ke dalam mobil tersebut. Karena menurutnya, tidak mungkin di dalam gedung perusahaan tempat dia bekerja saat ini ada seorang penculik.


Lagi pula siapa yang mau menculik perempuan miskin seperti dirinya? Tak akan ada, pikirnya.


Tak lama kemudian, lelaki tampan itu pun nampak masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


Gracia hanya duduk terpaku memandangi lelaki tampan di sampingnya, namun sayangnya terlihat datar tanpa ekspresi.


Bahkan tak ada senyum sedikitpun yang tersungging di bibir tipis milik pria itu.


"Ya Tuhan, yang di sampingku ini manusia apa kulkas?" tanya Gracia dalam hati.


Saat Gracia sedang asyik memandang wajah lelaki tampan di sampingnya, tiba-tiba saja lelaki tampan itu menoleh ke arah Gracia dan langsung mendekatkan wajahnya ke arah Gracia.


Sontak Gracia langsung memundurkan tubuhnya, Gracia yang sudah mulai berpikiran macam-macam pun langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan berpikiran macam-macam, saya hanya ingin memakaikan seat belt," ucapnya datar.


Gracia pun langsung membuka matanya, dia pun langsung memamerkan daratan gigi putihnya.


"Maaf, habisnya Tuan tidak berbicara. Jadi, saya hanya jaga-jaga saja," ucap Gracia.


Setelah memasang seat belt milik Gracia, dia pun memakai seat belt miliknya. Setelah itu, dia pun melajukan mobilnya menuju Caffe tempat klien mereka sudah menunggu.


Sepanjang perjalanan menuju Caffe tersebut, Gracia terus saja memandang lelaki tampan yang ada di sampingnya.


Dia begitu mengagumi ketampanan pria dingin dan datar tanpa ekspresi tersebut.


Sampai di caffe, Gracia dan lelaki tampan tersebut langsung disambut oleh pemilik dari perusahaan L.


"Selamat pagi Tuan Mahendra," ucap sapa Tuan Mendre.


"Selamat pagi, Tuan Mendre," jawab Mahendra.


Gracia langsung menatap lelaki tampan di sampingnya, "oh, jadi namanya Mahendra," ucapnya dalam hati.


"Selamat pagi, Nona Gracia. Senang bertemu anda kembali," ucap Tuan Mendre seraya mengulurkan tangannya.


Gracia terlihat tersenyum, lalu dia membalas uluran tangan dari Tuan Mendre.


Iya, ini adalah kedua kalinya dia bertemu dengan Tuan Mendre. Karena kerjasama inilah, kemarin dia mendapatkan bonus yang sangat besar dan hari ini mereka pun akan membahas tentang kerjasama yang akan dilakukan.


Satu jam kemudian pembahasan tentang kerja sama pun selesai, pihak dari Tuan mendre begitu sangat suka dengan apa yang di persentasikan oleh Gracia.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Gracia pun kembali mengekori langkah Mahendra menuju mobilnya.


Sama seperti saat mereka berangkat, saat mereka pulang menuju perusahaan Caldwell pun tak ada obrolan di antara mereka.


"Ya Tuhan, ini orang betah banget diem begitu. Apa giginya sakit kali ya? Tapi, tadi ngomongnya lancar banget." Gumam Gracia dalam hati.


Tiba di depan loby kantor, baik Gracia maupun Mahendra, mereka langsung keluar dari mobil. Lalu kembali menuju ruangan masing-masing.


Saat dia bary duduk di dalam ruangannya, Gracia pun mengingat jika dia belum melaporkan hasil pekerjaannya kepada Adam.


Cepat-cepat ia pun membenahi berkas tersebut dan ingin pergi ke ruangan Adam, saat dia hendak mengetuk pintu, tanpa sengaja dia melihat Adam yang sedang bermesraan dengan Sisil.


Sisil nampak duduk di pangkuan Adam, mereka terlihat sedang berciuman dengan sangat mesra.


Gracia pun langsung membalikkan tubuhnya dan segera berlari, sayangnya keseimbangan tubuhnya seakan hilang kala dia menginjak lantai basah.


Gracia sudah memejamkan matanya, dia sudah pasrah jika dia akan merasakan sakit di area bokonynya.


Namun ternyata, dia tak merasa sakit sama sekali. Dia hanya merasa tubuhnya seakan melayang ke udara.


Gracia segera membuka matanya, jantungnya lansung berdetak tak karuan saat tatapan matanya bersibobrok dengan pria tampan yang ada di hadapannya.


"Lain kali lebih hati-hati kalau berjalan, di situ bahkan sudah ada tanda kalau lantai itu basah." Pria tampan itu langsung menurunkan Gracia dari pangkuannya.


Bukannya menjawab, Gracia malah memegangi letak jantungnya yang seakan mau melompat dari tempatnya.


Melihat Gracia yang hanya diam saja, Mahendra langsung mengambil berkas dari tangan Gracia dan pergi menuju ruangan Adam.


"Kenapa pria itu berani sekali masuk ke dalam ruangan Tuan Adam? Kan malu kalau lihat Tuan Adam yang sedang bercumbu seperti itu?" keluh Gracia.


*


*


Selamat sore kesayangan, jangan lupa kasih like dan komentnya ya... hadiah sama Votenya juga boleh banget. 😘😘😘😘😘😘.