Who Is Adam?

Who Is Adam?
Permintaan Maaf Tuan Arley



Devano nampak pulang dengan langkah gontai,selama dalam perjalanan pulang dia pun jadi bertanya-tanya sebenarnya 'ada apa dengan Eliza?


Kenapa Eliza sekarang malah terlihat aneh di mata nya? Devano merasa jika Eliza terkesan menjauhi nya,bahkan Eliza terkesan enggan menatap nya. Apa Devano sudah melakukan sebuah kesalahan?


Itu lah yang terlintas di benak nya, Devano pun kini sedang berpikir keras tentang perubahan yang terjadi pada Eliza.


"Sebenarnya aku kenapa? Kenapa aku merasa ngga rela kalau Eliza berubah? Apa aku mulai suka sama dia, atau hanya merasa bersalah karna luka yang di deritanya? "


Devano pun bergumam dalam hati nya, dia merasa bingung dan merasa sulit untuk meraba hati seorang perempuan.


Setelah berpikir dengan sangat keras, Devano pun memutuskan untuk langsung ke rumah Adiknya saja. Devano ingin curhat kepada Nyonya Alina, dan sekalian ingin berkumpul bersama.


Karna memang Devano belum punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga, apa lagi besok dia akan sangat sibuk karna hari terakhir untuk persiapan pembukaan kantor barunya.


Sampai di depan rumah Arkana, Devano pun langsung memarkirkan mobilnya dan kemudian dia pun langsung masuk kerumah Arkana.


"Assalamualaikum,, "Ucap Devano.


"Waalaikum salam,,"Jawab semua yang ada di sana..


Ternyata semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga,Devano pun langsung menghampiri mereka dan duduk tepat di antara Tuan Seno dan Nyonya Alina.


Devano pun menatap Nyonya dan langsung menampilkan wajah sedih nya, Nyonya Alina merasa sangat kasihan dan langsung memeluk nya.


"Kenapa sayang? Cerita sama Mama,"Ucap Nyonya Alina seraya mengelus lembut punggung putri tiri nya itu.


"Ma, aku lagi bingung."Ucap Devano.


Dan ucapan Devano sukses membuat semua orang yang ada di sana saling melempar tatapan bingung, pasal nya selama ini Devano terlihat sangat mandiri dan tak pernah mengeluh.


"Kenapa sayang? Cerita sama Mama,"Ucap Nyonya Alina.


"Aku bingung sama sikap nya Eliza Ma, dulu dia sangat agresif dan ingin selalu dekat dengan aku. Tapi sekarang dia terlihat sangat enggan untuk deket-deket sama aku, bahkan terkesan menghindari ku."


Devano pun menceritakan kegundahan hati nya, semua yang ada di sana pun langsung mengatupkan mulut menahan tawa mendengar curahan hati Devano.


"Makanya Bang, jangan suka jual mahal. Eliza acuh baru tahu rasa kamu Bang,"Ucap Arkana.


Devano pun langsung berdecak kesal mendengar ucapan adiknya, dia merasa selalu kurang beruntung kalau mengenai perempuan tak seperti adiknya itu.


"Ck,, kamu selalu menyebalkan De."Ucap Devano, pandangan nya lalu beralih pada Nyonya Alina."Ma, Ade ngataian aku."Adu Devano.


"Cup cup cup,, anak Mama jangan nangis. Nanti Mama repot dieminnya ,Mama ngga punya balon soalnya."Canda Nyonya Alina,dan semua yang ada disana pun langsung tertawa.


Devano pun langsung mencebik kesal, niat hati mau menenangkan hati dengan datang kesana. Tapi kini yang ada malah tambah kesal, tak lama kemudian dia mengingat jika dari tadi tak ada Adam di sana.


"Adam mana De? "


"Lagi main di taman sama temen nya,"Jawab Laila.


"Ini sudah jam delapan malam adik ku sayang,kenapa masih dibiarkan main malam-malam begini? "


"Ya sudah, kalau begitu biar Papah susul cucu Papah yang tampan itu ke taman."


Tuan Seno pun langsung berdiri, dia sudah bersiap untuk menyusul cucu nya.


"Aku aja Pah,"Ucap Devano.


"Mama ikut, mama pengen lihat suasana malam di ibu kita."Ucap Nyonya Alina.


"Baiklah Mama ku sayang, yuk kita jemput si tampan Genius Adam Putra Pratama."Ajak Devano.


Tuan Seno, Laila dan Arkana langsung terkekeh mendengar ucapan Devano.


Mereka terlihat begitu akrab, bahkan mereka terlihat tertawa bersama. Di bawah cahaya lampu taman yang temaram wajah lelaki itu tak terlihat jelas, tapi mereka terlihat sangat dekat dan terkesan seperti cucu dan kakek nya.


Nyonya Alina dan Devano pun mendekat ke arah mereka, dan setelah mereka sudah dekat, Nyonya Alina kini langsung terdiam saat melihat siapa pria yang kini sedang asik bercengkerama dengan cucu nya.


Tuan Arley, dia lah orang nya. Adam memang sengaja janjian untuk bertemu dengan grandpa nya itu,karna dia merasa rindu dengan nya.


Nama nya sedarah tak akan bisa saling mengabaikan begitu saja, mereka tetap ingin bertemu karna adanya ikatan.


Pria yang ada di depan Nyonya Alina memang terlihat sudah tua, tapi Nyonya Alina bisa langsung mengenalinya.


Karna lelaki tua yang terlihat masih tampan itu adalah lelaki yang pernah menghancurkan hidup nya, pernah membuatnya gila selama satu tahun dan yang dia sesali wajah nya begitu mirip dengan putra nya Arkana.


Nyonya Alina memundurkan langkahnya, tapi Tuan Arley langsung bangun dan memeluk Alina dengan erat.


"Maaf kan aku gadis kecil, aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku perbuat waktu itu.Saat itu aku sedang mabuk, aku mohon maafkan aku.."Ucap Tuan Arley tulus.


Sumpah demi adapun Nyonya Alina merasa sangat takut saat ini, tubuh nya bergetar hebat, lutut nya langsung lemas. Bahkan saat ini sudah bisa di pastikan Nyonya Alina akan terjatuh, jika Tuan Arley tak memeluk nya dengan erat.


"Le-lepaskan saya Tuan, sa-saya takut. Tolong lepaskan saya, tolong.."Ucap Nyonya Alina memelas.


Wajah nya sudah terlihat pucat, Tuan Arley yang menyadarinya pun langsung melerai pelukannya. Tuan Arley pun langsung mendudukan Nyonya Alina di bangku taman.


Adam yang melihat nenek nya tidak baik-baik saja pun langsung memberikan air mineral yang sedari tadi dia pegang, Tuan Arley bahkan membantu Nyonya Alina untuk minum.


Nyonya Alina terlihat minum dengan sangat cepat, dia bahkan meminum air mineral itu sampai habis.


Devano yang menyadari jika Tuan Arley membutuhkan waktu untuk berdua bersama Nyonya Alina pun langsung menghampiri Adam.


"Boy, anter Om ke mart di depan sana yu? "


"Om mau apa? "


"Mau beli banyak jajanan, Adam mau ngga? "


"Mau Om, Adam mau."Jawab Adam.


"Tuan Arley, saya titip Mama saya."Ucap Devano.


"Sayang,, "Panggil Nyonya Alina.


"Mama tunggu sebentar disini, nanti aku balik lagi. Tuan Arley sudah tua, dia ngga bakal bisa macem-macemin Mama kaya dulu lagi."Ucap Devano.


Tuan Arley pun langsung terkekeh,"Aku hanya ingin meminta maaf, bukan mau mengulang kesalahan."


"Aku percaya, "Ucap Devano yang langsung menggendong Adam, kemudian mereka pun berlalu dari hadapan Tuan Arley dan Nyonya Alina.


Kini tinggal Nyonya Alina dan Tuan Arley yang duduk di bangku taman, Tuan Arley pun tanpa basa-basi langsung menggenggam tangan kanan Nyonya Alina.


"Gadis kecil,,"Panggil Tuan Arley.


"Jangan panggil aku seperti itu,"Ucap nya seraya menarik tangannya dari genggaman Tuan Arley.


Nyonya Alina masih terlihat ketakutan saat melihat Tuan Arley, rasa nya dia ingin lari saja. Tapi lutut nya terasa sangat lemas, dan tentu nya sangat sulit untuk berjalan.


"Baiklah, kalau begitu aku harus memanggil kamu apa? "


"Alina saja,"Jawab Nyonya Alina.


"Alina, aku minta maaf atas kejadian yang telah terjadi di masa lalu. Aku sungguh menyesali perbuatan ku itu, apa kamu mau memaafkan kan kesalahan ku? "