
Sisil terlihat bengong sambil memegang mangkok bubur dari Laila, Adam dan Laila langsung tersenyum melihat tingkah laku Sisisl.
Adam tahu, jika keinginannya mungkin berlebihan. Apa lagi Sisil memang belum pernah berpacaran, jadi dia seakan tak paham bagaimana caranya berinteraksi dengan seorang pria.
Bukannya segera menyuapi Adam, Sisil malah terdiam dan asik dengan lamunannya. Tak lama, sisil melihat Adam dan Laila secara bergantian.
Laila hanya bisa menggelengkan kepalanya, sedangkan Adam, langsung mengeluarkan suaranya.
"Aku laper banget, Sil. Kalau buburnya dipegangin terus kaya gitu, aku kapan makannya?" walaupun masih lemas, tapi Adam berusaha untuk mengeluarkan suara hatinya.
Seakan tersadar dari lamunannya, Sisil langsung mengambil sendok dan mulai mendekatkan satu sendok bubur ke dekat bibir Adam.
Dengan senang hati, Adam langsung menerima suapan dari Sisil.
"Bubur buatan Ibu memang selalu enak, tapi sekarang rasanya terasa lebih enak. Karena Sisil yang suapin," ucap Adam.
"Iya, iya. Terserah kamu saja, ibu sih oke aja." Laila pun membenarkan ucapan Adam, agar Adam bisa lebih bahagia.
Sisil terlihat malu-malu, dengan apa yang diucapkan oleh Adam. Sisil tak menyangka, jika Adam berani berkata seperti itu di depan Ibunya sendiri.
Sisil pun tertunduk malu, sedangkan Laila malah tertawa melihat sikap Sisil yang seperti itu. Sebenarnya, Laila merasa heran kenapa Adam bisa suka kepada Sisil.
Padahal, Sisil hanya seorang office girl. Sedangkan di luar sana, banyak sekali perempuan yang tergila-gila terhadap Adam.
Bahkan, banyak anak dari para kolega bisnis Tuan Arley ataupun Arkana yang menawarkan diri untuk menikah dengan Adam. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka yang dilirik oleh Adam.
Terkadang Laila merasa takut, jika Adam tidaklah normal. Dia sempat berpikir, bahwa Adam tidak menyukai perempuan. Tetapi saat ini, Laila bisa melihat sendiri ada cinta di mata Adam untuk Sisil.
"Suapinnya yang bener, Sil. Nanti keburu malem, kamu juga harus mandi, makan, terus istirahat." Laila mencoba mengingatkan Sisil.
Sisil hanya tersenyum mendengar ucapan Laila, kemudian Sisil pun menyuapi Adam kembali dengan sangat hati-hati.
Hingga tanpa terasa, bubur yang berada di mangkok pun kini telah terlihat habis berpindah ke dalam perut Adam.
Laila langsung tersenyum, melihat Adam yang dengan senang hati memakan bubur buatannya. Kemudian, Laila pun mengambilkan obat untuk Adam dan menyuruhnya untuk meminumnya.
Karena Adam pun harus istirahat, agar kondisinya segera pulih. Setelah meminum obatnya, Adam terlihat memejamkan matanya.
Laila pun, segera menghampiri Sisil dan memberikan sebuah paper bag berisi beberapa baju ganti untuk Sisil.
"Mandi dulu, Nak. Habis itu kamu makan, lalu istirahat." Titah Laila, Sisil pun menurut.
Sisi langsung masuk kedalam kamar mandi, dia memang sudah sangat lelah dan capek dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat. 10 menit kemudian, Sisil pun sudah kembali ke dalam kamar Adam dengan memakai baju pemberian dari Laila.
Rambutnya yang panjang terurai begitu saja, membuat Sisil terlihat semakin cantik. Apa lagi, saat ini Sisil memakai baju mahal pemberian dari Laila. Membuat Sisil terlihat makin cantik dari biasanya.
Sebuah dress selutut berwarna kuning kunyit, seakan begitu menyatu dengan kulit Sisil yang berwarna kuning langsat.
"Kamu cantik sekali, Nak." Kata Laila saat melihat Sisil yang baru saja selesai mandi.
Sisil langsung tersipu, karena sebelumnya memang tak pernah ada yang bilang kalau dia cantik seperti yang Laila katakan.
"Terima kasih, Nyonya." Ucap Sisil tulus.
Laila membenarkan letak selimut Adam, lalu dia menghampirinya dan Sisil.
"Kamu pasti sangat lapar, kita makan malam bersama." Laila langsung merangkul pundak Sisil, lalu mengajaknya menuju ruang makan.
Saat mereka tiba, Arkana dan juga Al sudah selesai dengan acara makan malam mereka. Laila langsung mengajak Sisil untuk duduk di ruang makan tersebut.
"Hai, Kakak Cantik. Boleh kenalan ngga?" tanya Al sambil mengulurkan tangannya.
Sisil terlihat kikuk, Laila yang paham pun langsung memukul tangan nakal Al.
PLAK!
"Aduh, Bu. Sakit ini, Ibu jahat sama Al." Al langsung cemberut dan berjalan menghampiri Arkana.
Dia sengaja menghampiri Arkana, karena dia ingin mengadu kepada Ayahnya itu. Dia ingin mengadu karena Laila, terkesan begitu jahat padanya.
"Yah, belain Al dong, Ayah. Ibu jahat, Al kan cuma pengen kenalan sama cewek cantik yang ada di sebelahnya Ibu." Al terlihat merajuk, lalu memeluk lengan kekar Arkana.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Putra bungsunya, Arkana hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika putranya itu masih saja manja.
Padahal dia itu Playboy akut, yang sering sekali menggoda para wanita. Bahkan, hampir tiap hari wanita yang datang ke rumah pun bergonta-ganti.
"Jangan merajuk, Al. Sisil sudah mengurusi Kakak kamu seharian ini, biarkan dia makan lalu beristirahat." Alih-alih mendapatkan pembelaan, Al malah kecewa.
Al langsung mendelik sebal, kemudian dia langsung pergi menuju ruang tamu.
"Jangan dipikirkan, sekarang kamu makan yang banyak." Titah Laila, Sisil langsung mengangguk patuh.
Laila dan Sisil pun langsung makan malam bersama, sedangkan Arkana langsung menyusul Al. Dia harus memberikan pengertian kepada putra bungsunya.
Tak lama kemudian, Laila dan juga sisil sudah menyelsaikan makan malam mereka. Laila langsung mengajak Sisil untuk berbicara.
"Sil, bolehkan Ibu meminta tolong?" tanya Laila.
Sisil merasa bingung dengan pertanyaan Laila, bukankah mereka orang kaya? lalu kenapa meminta tolong pada Sisil yang hanya orang biasa, pikirnya.
"Minta tolong apa, Nyonya?" tanya Sisil.
Laila pun langsung tersenyum mendengar pertanyaan Sisil, yang sepertinya tidak bisa menolak akan permintaan darinya.
"Tolong jaga Adam untuk Ibu, bisa?" tanya Laila.
Dahi Sisil berkerut bingung, kenapa harus Sisil yang menjaga Adam? Bukannya Adam akan lebih baik jika ibunya yang menjaga?
Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul di benak Sisil. Tapi walau bagaimanapun, Sisil tidak bisa menolak permintaan dari Laila.
"Kenapa harus saya, Nyonya?" tanya Sisil.
Laila langsung tersenyum, lalu mengusap lembut lengan Sisil.
"Sepertinya, Adam akan sangat senang jika pertama kali membuka mata, ada kamu yang menjaganya." Laila berusaha meyakinkan Sisil, agar mau menjaga Adam.
Bukan tanpa alasan, dia memang bisa melihat raut wajah Adam yang terlihat sangat bahagia saat melihat Sisil yang terus berada di sampingnya.
Sisil terlihat bingung, tapi dia merasa tak enak hati jika menolak keinginan dari Laila.
"Iya, Nyonya. Saya bersedia," jawab Sisil ragu.
"Jangan khawatir, akan ada beberapa bodyguard yang akan menjaga kalian. Saya mau pulang, Al besok harus ujian. Suami saya juga besok ada meeting pagi, maaf karena saya membuat kamu repot." Laila berucap sambil mengelus lembut punggung tangan Sisil.
Sisil tak dapat berkata apapun, dia hanya bisa menganggukan kepalanya pertanda menanggapi ucapan dari Laila.