Who Is Adam?

Who Is Adam?
Bulan Madu



Pergumulan panas yang semalam mereka lakukan, membuat Adam dan Sisil terlihat sangat lelah. Walaupun begitu, pukul tiga pagi Adam sudah terbangun dari tidurnya, dia memeluk Sisil sambil menatap wajah lelahnya.


Adam lalu tersenyum puas, karena sudah berhasil membuat istrinya menggelinjang di bawah kuasanya. Sisil bahkan tak hentinya mengecupi wajah Adam, setelah terlepas dari gulungan kenikmatan yang tercipta karena ulah Adam.


Tangan Adam mulai terulur, mengusap pipi mulus istrinya lalu turun melewati garis leher jenjang istrinya. Dia begitu mengagumi wajah cantik Sisil, dia begitu mencintai wanita yang kini menjadi istrinya, wanita yang telah menjadi miliknya seutuhnya.


"Kamu cantik banget sih, Yang. Bibir kamu seksi banget, apa lagi yang ini... bikin gemes." Adam mengusap puncak dada istrinya, yang terlihat masih polos.


Sisil yang merasa sangat puas dan lelah, langsung terlelap dalam tidurnya. Padahal Adam ingin melakukannya lagi, tapi saat melihat wajah damai istrinya, dia merasa tak tega.


"Kamu seksi, Yang. Aku jadi ngga tahan, jadi pengen lagi." Adam langsung mensejajarkan wajahnya dengan dada istrinya, dengan perlahan dia mulai mengulum dan meremat benda padat tersebut.


Sisil yang sedang tertidur pun langsung tersentak, dengan cepat dia membuka matanya. Tangannya dengan cepat mendorong wajah Adam, karena dia merasa tak tahan dengan rasa geli dan rasa... ah, Sisil susah menggambarkan rasa itu.


"Mas..." suara serak dari bibir mungil Sisil terasa begitu indah untuk Adam dengar.


Adam langsung mendongakkan kepalanya, dia menatap wajah Sisil yang terlihat sudah mulai terpancing gairah.


"Mau?" tanya Adam.


Sisil merasa malu dengan pertanyaan dari suaminya, dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil mengusap dada bidang suaminya.


Adam yang paham pun, langsung bangun dan mengunci pergerakan istrinya. Adam pun kini mulai melakukan keinginannya lagi, mengarahkan si Imin ke tubuh istrinya yang sedari tadi meronta untuk masuk ke dalam liang kelembutan yang sudah menjadi tempat pavoritnya.


*/*


Wajah Sisil dan Adam terlihat berseri-seri, hal itu membuat para tetua tahu jika Adam sudah bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.


Tentunya untuk urusan bekerja keras di atas ranjang yang guys, bukan kerja di kantor. Karena untuk yang satu itu, Adam memang ahlinya.


"Selamat pagi, Boy." Sapa Tuan Arley pada cucu kesayangannya.


Adam langsung tersenyum sambil menatap Tuan Arley, "Pagi, Grandpa. Tank's untuk yang kemarin," Adam berucap seraya mengerlingkan sebelah matanya.


Tuan Arley langsung tergelak melihat kelakuan cucunya, sedangkan Arkana terlihat menatap curiga pada Dad'nya. Sudah dapat dipastikan jika Tuan Arley pasti sudah menurunkan ilmunya.


Tentunya bukan ilmu sembarang ilmu atau ajian dan semacamnya ya guys, cuma... Othor malu ah ngomongnya. Biarkan menjadi rahasia antara Adam dan Tuan Arley.


"Boy, kamu tidak melakukan hal yang aneh, kan?" tanya Arkana.


"Tentu tidak, Ayah. Ayah bisa tanya sendiri pada Sisil," jawab Adam seraya mengelus lembut punggung tangan Sisil.


"Sepertinya, ada sesuatu yang mencurigakan." Ucap Laila seraya memandang Tuan Arley dan Adam secara bergantian.


Tuan Arley langsung tergelak, " R-A-H-A-S-I-A."


"Kalian menyebalkan!" Laila langsung menyuapkan sarapannya, tanpa berniat menatap Adam ataupun mertuanya.


Berbeda dengan Laila, Adisha hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena dia lah yang kemarin. mendengarkan percakapan antara Adam dan Tuan Arley.


Akan tetapi, Adisha tak bisa memungkiri. Walaupun suaminya sudah berusia enam puluh lima tahun, dia masih sangat gagah jika untuk urusan ranjang.


Bahkan lelaki yang sudah berusia senja itu, tak pernah absen saat meminta jatahnya. Walaupun tak seperti dulu yang harus setiap hari, setiap malam dan pagi saat membuka mata.


Semenjak bertambahnya usia, Tuan Arley hanya meminta jatahnya seminggu tiga kali, uuuuhhh.. Othor aja kalah. Hihihi...


"Oiya, ada yang mau Grandpa bicarakan. Terutama untuk Sisil, besok Mharta akan menikah dengan Bastra. Kita harus ke rumah Bastra pagi-pagi sekali, karena dia ingin agar kita menghadiri acara ijab kabulnya." Jelas Tuan Arley.


Sisil yang sedari tadi diam saja, mulai memberanikan diri untuk menatap Tuan Arley. Dia begitu penasaran dengan siapa yang akan menikahkan Mharta.


"Emm... Grandpa, siapa yang akan menikahkan Kak Mharta?" tanya Sisil.


Semua orang yang ada di sana nampak tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Tuan Arley, setahu mereka William sudah dibekuk oleh Polisi. Dia mendapatkan hukuman mati, karena melakukan pasal berlapis.


William terbukti bersalah karena sudah membunuh kedua orang tua dari Sisil, William juga sudah terbukti bersalah menggelapkan uang perusahaan.


William bahkan terbukti sudah memalsukan banyak surat tanah dan tentunya William juga terbukti sudah berbuat licik terhadap banyak saingan bisnisnya.


Bahkan William terjerat penyelundupan senjata ilegal, kesalahannya tidak bisa dimaafkan lagi sehingga dia pun divonis hukuman mati.


"Ta--tapi, bukankah Uncle William sudah berada di penjara. Bagaimana bisa?" tanya Sisil.


"Satu minggu lagi, dia akan di hukum mati. Sebagai permintaan terakhirnya, dia meminta agar dia bisa menikahkan putrinya." Jelas Tuan Arley.


"Apa dia bisa dipercaya?" tanya Adam.


"Tentu saja, aku melihat sorot ketulusan dari matanya." Jelas Tuan Arley.


"Baiklah, terserah Grandpa saja. Semoga tidak akan terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan," ucap Adam.


"Percayalah," pinta Tuan Arley.


"Hem," jawab Adam.


Mereka pun kembali melanjutkan sarapan paginya, setelah sarapan pagi selesai Tuan Arley pun mengajak Adam dan Sisil untuk berbicara. Tentu semua yang ada di sana pun terdiam dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Tuan Arley.


"Boy, apakah kamu tidak ingin pergi berbulan madu?" tanya Tuan Arley.


"Memangnya harus, Ya?" tanya Adam.


"Tidak harus, akan tetapi... jika kamu ingin menemukan suasana yang berbeda dan tentunya tanpa gangguan, kamu harus pergi untuk bulan madu." Jelas Tuan Arley.


Adam terlihat memandang Sisil, kemudian dia memandang Laila dan juga Arkana.


"Bagimana, Sayang?" tanya Adam pada Sisil.


"Aku terserah, Mas." Jawab Sisil.


"Apa kamu merasa ada tempat yang sangat ingin kamu kunjungi?" tanya Tuan Arley.


"Bali," Jawab Sisil cepat.


"Kenapa Bali?" tanya Laila.


"Karena sebelum Ayah sama Bunda pergi, mereka sudah berjanji akan mengajak aku ke Bali. Sayang mereka keburu tiada," ucap Sisil.


Adam langsung memeluk Sisil dan mengelus lembut punggungnya, dia tahu jika istrinya itu sedang bersedih. Dia pasti sangat rindu pada kedua orang tuanya.


"Baiklah, lusa kita ke Bali." Adam langsung memutuskannya.


Sisil langsung tersenyum dengan air mata yang nampak mengalir, dia merasa senang karena keinginannya bisa tercapai.


+


+


+


Selamat pagi, semoga kalian sehat semua. Semoga lancar selalu dalam melakukan aktivitas, terima kasih untuk Kaleyan yang selalu setia membaca karya aku yang kadang masih ngga jelas cara penulisannya ini.