Who Is Adam?

Who Is Adam?
Tuan Seno Berpamitan



Dapur Laila yang bisanya terlihat sepi, kini begitu ramai. Bukan karena banyak orang, tapi karena Laila yang begitu berisik. Dia terus menerus bertanya ini dan itu.


Bahkan Laila juga mencoba meracik sendiri bahan sate lilitnya, membuat dapurnya terlihat sangat kotor dan berantakan.


Beruntung, Adisha mempunyai empat adik. Jadinya, dia sudah terbiasa menghadapi keributan empat adiknya.


Adisha begitu sabar, menghadapi ibu hamil itu. Walaupun terlihat kerepotan, tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk mengatasinya.


Walaupun memang terasa sangat merepotkan, apa lagi Laila seakan tidak sabar dalam bertindak. Semenjak di nyatakan positif hamil, Laila memang sering bertingkah aneh.


Bahkan, Laila terkesan sering mengerjai Arkana. Dia terkadang meminta di belikan makanan di tengah malam, dan terkadang meminta hal yang sulit untuk di kabulkan.


Hmmm... Laila yang mengerjai Arkana, atau Babby nya ya? Atau mungkin, malah Laila yang ingin mengerjai suaminya.


Hehehe... Othor juga ngga tahu.


Tuhan seakan mendengar do'a nya Adisha, tiba-tiba saja Nyonya Alina datang bersama dengan Tuan Seno. Mereka memang beberapa hari ini menginap di rumah Devano, karena merasa kasihan pada Eliza.


"Waah, ada apa ini? Kenapa, dapurnya terlihat sangat berantakan?" tanya Nyonya Alina.


Adisha dan Laila langsung menoleh kearah Tuan Seno dan juga Nyonya Alina, kemudian Laila langsung berlari dan memeluk mertuanya tersebut.


"Mama, Laila kangen." ucap nya manja.


Adisha yang melihat Laila berlari sampai ikut berlari menyusul Laila, dia langsung menepuk pundaknya Laila. Laila langsung melerai pelukannya, lalu, Laila pun langsung menatap Adisha.


"Ada apa, Mom?" tanya Laila.


"Apa kamu lupa Laila, Sayang? Kamu sedang hamil, jangan berlari seperti itu." ucap Adisha memperingati.


"Maaf, aku lupa. Aku sangat senang, karena Papah dan Mama datang." ucap Laila.


Tuan Seno langsung mengusap kepala Laila," Laila kali harus ingat dengan nyawa yang ada di dalam rahim


kamu."


"Iya, Pah." jawab Laila.


"Lalu, ada apa ini?" tanya Nyonya Alina.


"Aku pengen makan sate lilit, Ma." jawab Laila.


"Ada-ada saja, ayo, Mama bantu." ucap Nyonya Alina.


Adisha dan Laila nampak senang, mereka sangat bersyukur karena mendapatkan bantuan dari nyonya Alina.


"Lalu, di mana para pria?" tanya Tuan Seno.


"Di ruang kerja Adam," jawab Laila.


"Kalau begitu, Papah ke sana saja." ucap Tuan Seno.


"Hem, sepertinya memang harus seperti itu. Kalau terus di sini, anda bisa kerepotan, karena ulah Laila." ucap Adisha.


"Kamu benar, Nyonya Caldwell." ucap Tuan Seno.


Adisha terkekeh mendengar gelar barunya.


"Papah, ke ruangan Adam dulu." ucap Tuan Seno.


"Ehm," Laila. berdehem di samping Nyonya Alina.


"Ada apa, Sayang?" tanya Nyonya Alina.


"Kalian romantis banget, Daddy juga. Nanti, kalau aku sudah tua, Mas Arkana akan seperti itu ngga ya?" tanya Laila.


"Mungkin saja, yang terpenting, kalian selalu saling menyayangi dan saling mengerti satu sama lain. Jika ada masalah, atau ada hal yang tidak sepaham, segera bicarakan dengan baik-baik." pesan Nyonya Alina.


"Mama, benar." ucap Laila.


"Kalau begitu, kita harus cepat mengerjakan semuanya. Biar saat makan. malam tiba, semuanya sudah matang." ucap Adisha.


"Hem... Mom, benar." ucap Laila.


Akhirnya ketiga perempuan cantik beda usia itu pun, bergelut kembali di dapur. Mereka pun saling membantu, untuk memasak makanan yang Laila inginkan.


Nyonya Alina juga membuat makanan yang lainnya, agar makanan nya terlihat lebih banyak jika makan malam nanti.


Tepat pukul 7 malam, semuanya pun sudah berkumpul di ruang makan. Mereka, sudah bersiap untuk melaksanakan makan malam. Tetapi, sebelum itu, Tuan Seno pun meminta waktu kepada mereka.


"Maaf, sebelumnya. Sebenarnya kedatangan kami kemari, ingin berpamitan." ucap Tuan Seno.


" Memangnya, Papah mau kemana?" tanya Arkana.


"Papah dan Mama, sudah terlalu lama di jakarta. Perusahaan Papah, perlu Papah. Kalian tidak keberatan kan, jika Papah pulang?" ucap Tuan Seno.


" Sebenarnya, aku masih ingin Papah tetap tinggal di sini. Tetapi, jika memang Papah ingin mengurus perusahaan Papah, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Yang penting, Papah sehat selalu disana bersama Mama." ucap Arkana.


"Kamu bekerjalah dengan baik, jangan khawatir kan anak-anak dan juga menantu kita. Ada aku yang akan menjaga mereka di sini," ucap Tuan Arley.


"Aku mengandalkan mu," ucap Tuan Seno.


"Memangnya Kakek mau pulang kapan?" tanya Adam.


"Besok, Boy." ucap Tuan Seno.


Adam langsung bangun dari tempat duduknya, kemudian dia pun menghampiri Tuan Seno. Adam lalu duduk di pangkuan Tuan Seno, kemudian Adam pun memeluk Kakeknya dengan sangat erat.


"Hati-hati, nanti Adam akan sering video call Kakek sama Nenek." ucap Adam.


"Hem, kamu juga baik-baik di sini. Jaga Ibu sama calon adik kamu. Paham?" tanya Tuan Seno.


"Paham, Kek. Adam akan bantu Ayah buat jaga Ibu sama Ade." ucap Adam.


Adam lalu menghujani wajah Kakeknya, dengan ciuman. Kemudian dia pun turun dari pangkuan Kakeknya, setelah itu, Adam pun menghampiri Nyonya Alina.


Dia pun melakukan hal yang sama kepada Nyonya Alina, Adam duduk di pangkuan Nyonya Alina dan langsung memeluknya dengan erat, kemudian Adam pun menciumi wajah Nyonya Alina.


"Nenek sehat-sehat di sana, biar bisa jaga Kakek. Kasihan Kakek, dia sudah tua." ucap Adam setengah berbisik.


Tapi semua yang ada di sana, masih bisa mendengar ucapan Adam. Mereka pun langsung tertawa.


Setelah mengutarakan maksudnya, akhirnya Tuan Seno pun mengajak semua orang yang ada di sana untuk makan malam bersama. Suasana pun kembali ramai, apalagi saat Adam bercerita, suasana terlihat lebih ramai lagi.


Dan yang pasti, Laila terlihat begitu bahagia malam ini. Karena keinginannya sudah terpenuhi, dia sangat bersyukur karena di kelilingi orang-orang yang baik.