
Gracia terlihat begitu kesal karena Mahendra terkesan meledek dirinya padahal Mahendra hanya mengingatkan.
Bahkan dia menolong Gracia dengan membuka jas yang dia pakai, namun entah kenapa dengan perlakuan Mahendra yang seperti itu, Gracia malah merasa semakin kesal saja.
Gracia terlihat menumpahkan kekesalannya dengan memukul-mukul lantai marmer dengan posisi duduknya.
Dia seakan belum berniat untuk bangun setelah jatuh tadi, Adam dan juga Adisha yang baru saja datang langsung menghampiri Gracia.
"Ada apa ini? Kenapa kamu duduk di lantai seperti itu?" tanya Adisha.
Mendengar ada orang yang bertanya kepadanya, Gracia langsung menghentikan aksinya.
Dia terlihat mendongakkan kepalanya, lalu menatap Adisha sambil nyengir kuda.
"Anu, Nyonya. Tadi saya terjatuh karena bertabrakan dengan OB itu," ucap Gracia seraya menunjuk OB yang masih berdiri karena takut.
"Berdirilah! Jangan duduk terlalu lama seperti itu, nanti kalau kaki kamu pegal," ucap Adisha.
Adisha bahkan terlihat membantu Gracia untuk bangun, berbeda dengan Adam yang hanya menggelengkan kepalanya.
Lalu, Adam pun menyuruh OB tersebut untuk pergi dari sana. Dia tahu jika OB tersebut pasti tidak sengaja.
"Pergilah!" titah Adam.
"Iya, Tuan." OB itu pun langsung berlalu dari sana.
Setelah menyuruh OB tersebut untuk pergi, Adam terlihat berpamitan kepada Adisha untuk masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu.
"Nini, aku masuk ke ruanganku dulu," pamit Adam.
Tentu saja Adisha pun mengizinkan, karena dia masih ingin mengobrol dengan Gracia. Dia merasa penasaran kenapa Gracia bisa sampai terjatuh, dia juga merasa penasaran kenapa ada jas yang diikat di pinggang Gracia.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan mereka masing-masing, Gracia pun menceritakan kejadiannya. Dia juga memberitahukan kepada Adisha, siapa yang mengikatkan jas di pinggangnya.
"Waah, ternyata sikulkas itu bisa romantis juga." Adisha terlihat tertawa setelah mengatakan hal itu, Gracia nampak memberengut kesal karena Adisha terkesan mengejek dirinya.
"Jangan cemberut seperti itu, nanti kamu jatuh cinta loh sama dia," kata Adisha.
"Ngga mungkin aku jatuh cinta sama si kulkas itu, nanti aku beku." Gracia terlihat bergidig kala membayangkan dirinya yang sedang bersanding di pelaminan dengan Mahendra.
Sudah dapat dipastikan jika kulkas enam belas pintu itu akan diam mematung, datar dan tanpa ekspresi saat menyambut uluran tamu yang hadir.
"Bisa-bisa bukan cuma aku yang beku, tapi semua orang yang datang," gumam Gracia.
Adisha yang tak terlalu jelas mendengar gumaman dari Gracia, terlihat menautkan kedua alisnya.
"Apa yang kamu katakan, Gracia?" tanya Adisha.
"Tidak ada Nyonya. Saya tidak mengatakan apa pun," ucap Gracia seraya mengibaskan-ngibaskan kedua tangannya.
Mendengar penyangkalan dari Gracia, Adisha hanya bisa menggelengkan kepalanya. Padahal dengan jelas dia melihat Gracia bergumam, walaupun dia tak begitu mendengarnya.
"Ya sudah, saya pamit keruangan saya terlebih dahulu," pamit Adisha.
"Silakan, Nyonya." Gracia terlihat membungkuk hormat.
Setelah melihat Adisha masuk ke dalam ruangannya, dengan langkah ragu Gracia pun masuk ke dalam ruangan tempat dia bekerja.
Dengan wajah ditekuk Gracia menghampiri meja Mahendra dan meletakkan satu buah paper bag yang berisikan kemeja dan juga jas milik Mahendra.
Mahendra terlihat mendongakkan kepalanya, lalu dia pun terlihat menautkan kedua alisnya. Gracia terlihat memaksakan untuk tersenyum, lalu dia pun berkata.
"Terima kasih untuk baju dan kemeja yang kemarin, ini sudah saya cuci dan saya setrika, Tuan." Mahendra terlihat menganggukan kepalanya.
Setelah mengucapkan hal itu, ia pun langsung membawa satu paper bag yang berisikan baju miliknya. Kemudian, dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Setelah kepergian Gracia menuju kamar mandi, Mahendra terlihat mengambil paper bag pemberian dari Gracia.
Dia membuka paper bagnya dan mengambil kemeja miliknya, dia tersenyum lalu mengendus bau pewangi pakaian yang Gracia pakai untuk menyetrika baju kemeja milik Mahendra.
"Wangi," ucapnya.
Benerapa kali dia mengendus wangi yang ada pada kemeja miliknya, wanginya sama dengan baju yang Gracia pakai.
"Waniga sama, apakah dia hanya memakai pewangi pakaian saja? Apakah dia tidak pernah memakai parfum?" tanya Mahendra lirih.
Tepat di saat itu, Gracia nampak keluar dari dalam kamar mandi. Dia sempat memperhatikan Mahendra yang terlihat memegang kemejanya dengan dahi berkerut dan alis bertaut.
"Tuan, kenapa?" tanya Gracia.
Mahendra terlihat kaget karena tiba-tiba saja Gracia kini sudah berada di depannya, dia sama sekali tidak menyadari kapan Gracia keluar dari dalam kamar mandi.
"Tidak apa-apa, saya hanya memastikan jika kamu mencuci kemeja saya dengan bersih." Mahendra memasukkan kembali kemejanya.
Gracia terlihat mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan dari Mahendra.
"Oh," ucap Gracia acuh seraya melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya.
Baru saja Gracia hendak duduk, namun Mahendra terdengar memanggil namanya.
"Gracia!"
"Ya, Tuan!" jawab Gracia cepat.
"Kenapa bau kemejanya sama dengan bau baju kamu? Sengaja ya, biar saya mengingat bau kamu?" tanya Mahendra.
Mendengar pertanyaan dari Mahendra, Gracia terlihat menautkan alisnya sampai menyatu.
"Saya tidak paham dengan apa yang Tuan, tanyakan. Saya hanya memakai pewangi pakaian saat menyetrika baju, Tuan. Tentunya dengan pewangi pakaian yang biasa saya pake," kata Gracia.
"Maksud saya, baju kamu juga selalu tercium seperti ini. Bau pewangi pakaian, bukan bau parfum!" jelas Mahendra.
Mendengar penuturan Mahendra, Gracia terlihat memutar bola matanya. Dia tidak menyangka jika Mahendra memperhatikan hal sedetil itu.
"Saya alergi parfum, jika kulit saya terkena parfum maka akan terlihat memerah. Makanya saya hanya memakai pewangi pakaian, tentunya pakai deodorant juga biar ngga bau ketek, puas!?"
Mahendra terlihat tersenyum tipis saat mendengar ucapan Gracia, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
Gracia sempat tertegun melihat senyuman di bibir Mahendra, walaupun senyumnya begitu samar, namun wajah Mahendra terlihat lebih tampan berkali-kali lipat.
'Oh Tuhan, ternyata manusia kulkas itu bisa tersenyum juga.' Gracia berkata dalam hatinya.