Who Is Adam?

Who Is Adam?
Rumah Sakit Jiwa



Tuan Arley tak langsung pergi kekantor untuk menemui istrinya, Tuan Arley malah melajukan mobilnya ke hotel prodeo tempat Laurent berada.


Dia merindukan adik sepupunya itu, walau bagaimanapun juga, Laurent adalah adiknya. Sebesar apapun kesalahannya, Tuan Arley tetap menyayanginya.


Karena sejak kecil, memang mereka selalu bersama. Pada saat ibunya Laurent meninggal, barulah dia memutuskan untuk pindah ke Indonesia.


Sampai di sana, Tuan Arley sangat kaget. Karena ternyata, Tuan Arley mendengar jika keadaan Laurent sangatlah buruk.


Dia bahkan di bawa ke rumah sakit jiwa, karena selalu berteriak histeris dan mengganggu para tahanan lainnya.


Bahkan, jika di dekatnya ada benda tajam, Laurent akan mencoba menyakiti tahanan lainnya. Hingga Akhirnya, Laurent pun di kirim ke rumah sakit jiwa.


"Kapan, Pak?" tanya Tuan Arley.


"Kemarin, Mister. Kami ingin mengabari anda, tapi anda sangat susah untuk di hubungi." ucap salah satu petugas di sana.


"Ah, maafkan saya, Pak." ucap Tuan Arley.


Tentu saja seminggu kemarin Tuan Arley susah untuk dihubungi, karena dia sedang fokus memberikan pelajaran pada istrinya.


Pelajaran menyenangkan, yang membuat dirinya seakan terbang melayang.


"Kalau begitu, saya permisi." pamit Tuan Arley.


Tuan Arley langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit jiwa, dia ingin melihat keadaan Laurent. Karena walau bagaimanapun, dia mengkhawatirkan nya, dia ingin tahu bagaimana keadaan Laurent, dan separah apakah kah keadaan Laurent.


Sampai di rumah sakit jiwa, Tuan Arley melihat Laurent yang sedang duduk di bangku taman. Tatapan matanya terlihat kosong, tangannya terlihat saling meremat.


Penampilannya terlihat acak-acakan, wajahnya yang biasanya terlihat cantik dengan balutan make up. Kini terlihat pucat, bahkan bibirnya terlihat pecah-pecah.


Biasanya, Laurent selalu memakai baju bermerek. Tapi kini, dia hanya memakai baju pasien rumah sakit jiwa yang berwarna hijau pupus.


Hati Tuan Arley terasa sakit, adik yang selalu dia sayangi. Kini menjadi gila hanya karena terobsesi padanya.


Tuan Arley, lalu menghampiri seorang perawat. Dia pun menanyakan kepada perawat tersebut, Apakah dia boleh menemui Laurent secara langsung atau tidak.


"Sus, bolehkah saya menemui, Laurent?" tanya Tuan Arley.


"Boleh, Mister. Tapi, anda tidak boleh membuatnya takut ataupun kaget." ucap Suster.


"Akan saya usahakan," ucap Tuan Arley.


Dengan perlahan, Tuan Arley melangkahkan kakinya menuju Taman tersebut. Dia pun lalu berdiri tepat di samping Laurent.


Laurent, seakan mengetahui kedatangan Tuan Arley. Laurent langsung mendongakan kepalanya, senyumya langsung mengembang saat melihat Tuan Arley.


"Ar, kamu kan yang datang?" tanya Laurent.


"Yes, Laurent." jawab Tuan Arley.


"Sini," ucap Laurent menepuk bangku kosong di sampingnya.


Tuan Arley menurut, dia duduk tepat di samping Laurent. Laurent terlihat begitu senang, Laurent langsung merapatkan duduknya. Lalu, Laurent memeluk Tuan Arley dengan erat.


"Ar, tiap hari kamu selalu saja datang. Tapi, kamu selalu pergi lagi. Apa kamu begitu marah padaku?" tanya Laurent.


Dahi Tuan Arley mengernyit, dia tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Laurent. Dia saja baru datang, Kenapa dia bilang tiap hari dia selalu menemuinya?


"Maafkan aku, Ar. Aku janji, tidak akan nakal lagi. Jangan hukum aku, jangan hilang terus. Kamu sudah seperti bayangan, tiap hari membayangiku, karena kesalahan ku." ucap Laurent.


Laurent terlihat sangat nyaman, dia makin mengeratkan pelukannya.


"Izinkan aku tidur, selama ini, aku tak pernah tidur nyenyak." ucap Laurent lagi.


Tuan Arley pun, membiarkan Laurent menikmati momen kebersamaan mereka. Bahkan Tuan Arley pun mengelus lembut puncak kepala Laurent, rasa iba menyeruak di dalam hatinya.


Tetapi, dia pun sadar tidak ada ampun untuk kesalahannya. Laurent, harus menerima hukuman atas perbuatannya.


Suster nampak tersenyum, baru kali ini, suster tersebut melihat Laurent yang tertidur dengan wajah damai.


"Saya pamit, sus. Kalau ada apa-apa, suster bisa telpon saya." Tuan Arley menyerahkan kartu namanya, pada suster tersebut.


"Siap, Mister." sahut suster.


Tuan Arley pun pergi dari rumah sakit jiwa tersebut, dia melajukan mobilnya menuju perusahaannya. Dia sudah rindu dengan istrinya, padahal, dia belum lama meninggalkan istrinya. Bahkan, waktu masih menunjukkan pukul 2 siang.


Saat sampai di kantor, Tuan Arley melihat Istrinya sedang berdiri sambil menatap pemandangan kota dari kaca besar di ruangan tersebut.


Tuan Arley, langsung menghampiri Adisha dan memeluknya dari belakang. Tak lupa, Tuan Arley juga memberikan kecupan-kecupan di pipi kanan dan kirinya Adisha.


"Mas, sudah pulang?" tanya Adisha.


"Hem, Mas, Kangen." jawab Tuan Arley.


"Gombal," ucap Adisha.


Tuan Arley langsung menggendong Adisha, dia duduk di sofa dan mendudukannya Adisha di atas pangkuannya. Tuan Arley sengaja duduk di atas sofa, biar terasa lebih leluasa.


Tuan Arley pun langsung memeluk Adisha, dan menyimpan dagunya di pundak istrinya.


"Kenapa, Mas?" tanya Adisha.


"Apanya yang kenapa?" tanya Tuan Arley.


"Mas, terlihat sedih. Siapa yang sudah berani membuat suamiku yang tampan ini, terlihat sangat Sedih?" tanya Adisha.


"Ck, aku hanya kasihan pada Laurent. Dia depresi, sekarang sedang di rawat di rumah sakit jiwa." ucap Tuan Arley.


"Kasihan sekali, dia. " ucap Adisha.


"Apa, kamu tidak membencinya?"


Adisha menggeleng lemah," Tidak. Kebencian, hanya akan membuat hidup kita sengsara."


"Kamu benar, aku lihat tadi kamu sedang melamun. Apa yang kamu lamunkan?" Tanya Tuan Arley.


"Tidak ada, hanya bosan saja. Karena suami tampan ku ini, tidak memperbolehkan aku untuk bekerja." ucap Adisha.


" Siapa yang bilang kamu tidak boleh kerja? Justru, sekarang kamu harus bekerja." ucap Tuan Arley.


"Kerja apa?" Tanya Adisha.


Tanpa banyak bicara, Tuan Arley langsung menuntun tangan Adisha untuk membuka resleting celananya. Adisha terlihat bingung, Tuan Arley pun nampak terkekeh.


"Sekarang, aku kasih kamu pekerjaan." ucap Tuan Arley.


Adisha pun langsung paham, dia memang masih perawan saat menikah dengan Tuan Arley. Tapi, Adisha juga sering, melihat iklan dewasa yang lewat dalam situs internet.


"Tapi, ini di kantor, Mas." ucap Adisha.


"Ngga apa-apa, Sayang. Kita harus mencobanya," ajak Tuan Arley.


Dengan ragu-ragu, Adisha pun menuruti keinginan suaminya. Walau bagaimana pun, perintah suami itu mutlak. Selama masih dalam batas wajar tentunya, dan siang menjelang sore itu pun, menjadi momen yang indah untuk mereka berdua.


+


+


+


Jangan lupa dukungannya ya.. Baik dalam bentuk like, koment, Vote atau pun hadiah yang lainnya.


Terimakasih buat kalian yang selalu setia ngikutin semua cerita aku, 💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓 Banyak -banyak untuk Kaleyan.