
Adam terlihat merenung setelah berbicara dengan Laila, dia terlihat memikirkan apa saja yang sudah dia lalui bersama dengan Sisil kemarin.
Namun tetap saja, Adam merasa jika dia tidak melakukan kesalahan sama sekali. Bahkan kemarin malam saat mereka bercinta, Sisil terlihat begitu agresif seperti biasanya.
Dia begitu lihai dalam memandu percintaan panas yang mereka lakukan, bahkan Sisil seakan tak ada lelahnya. Dia terus memacu tubuhnya di atas tubuh Adam.
Adam sampai merasa begitu puas dibuatnya, namun herannya setelah Adam pulang kerja, Sisil terlihat seperti tak bersemangat.
Bahkan setiap kali Adam menyentuh Sisil, dia terkesan menghindari dirinya.
"Bu, Adam bingung." Adam langsung memeluk lengan Laila dan menyandarkan kepalanya.
"Kamu itu sudah besar, Nak. Berpikirlah, apa kesalahan kamu? Atau mungkin ada keinginan Sisil yang tidak kamu penuhi, makanya dia marah seperti itu." Laila mengelus lembut puncak kepala Adam.
"Dia ingin memasak ikan kembung sambal mangga, Bu. Tapi Adam ngga kasih, takutnya Sisil sakit perut," ucap Adam.
"Ya ampun, Adam. Kamu ini bagaimana sih, tinggal bilang saja sama istri kamu jangan terlalu pedas. Gitu aja kok repot!" ucap ketus Laila.
"Iya, Bu. Maaf," jawab Adam.
"Ya udah, sekarang temuin istri kamu. Bilang kalo istri kamu boleh memasak apapun yang dia inginkan," tegas Laila.
"Iya, Bu," jawab Adam.
Adam pun langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar yang biasa Adam tempati bersama Sisil.
Adam berharap jika Sisil sudah tidak marah lagi kepadanya, apalagi setelah Adam memberitahukan kepadanya jika Sisil boleh memasak apa pun yang dia inginkan.
Tiba di depan kamar, Adam langsung membuka pintu kamar tersebut dengan perlahan.
Saat pintu terbuka, dia melihat Sisil yang sedang duduk di atas sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Bibirnya terlihat mangkerucut sempurna, namun hal itu malah membuat Adam semakin games. Ingin sekali Adam meraup bibir mungil itu dengan bibirnya.
Adam langsung menghampiri Sisil, dia duduk tepat di samping Sisil dan mengangkat tubuh Sisil ke atas pangkuannya.
Awalnya Sisil terlihat memberontak, dia seakan tidak suka saat suaminya menarik tubuhnya ke atas pangkuan suaminya itu.
Namun, Adam tak membiarkan Sisl lepas darinya. Dia malah memeluk pinggang Sisil dengan erat, bahkan kepalanya pun dia sandarkan di atas dada Sisil.
"Mas, jangan kayak gitu. Aku nggak suka, aku capek. Mas nyebelin," ucap Sisil.
"Mas minta maaf ya, Sayang? Kalau kamu mau masak, masak aja. Mas nggak apa-apa, yang penting masakannya jangan terlalu pedes. Oke?" tanya Adam.
"Kenapa kamu nyebelin banget sih, Mas? Tadi katanya ngga boleh, giliran aku udah ngambek aja baru dibolehin," keluh Sisil.
Adam hanya terkekeh mendengar ungkapan kekecewaan Sisil, adam langsung mendongakkan kepalanya dan menakutkan bibirnya ke bibir istrinya.
Awalnya sisil terlihat memberontak, namun adam tak menghiraukannya. Adam langsung menarik tengkuk leher Sisil dan memperdalam ciumannya.
"Eungh!" terdengar suara lenguhan tertahan dari bibir Sisil.
Adam langsung tersenyum penuh kemenangan, dia suka kala melihat istrinya yang sudah terpancing oleh perbuatannya.
Sisil pun menyadari, walau bagaimanapun sisil juga, dia selalu menikmati sentuhan manja yang diberikan Adam padanya.
Setelah beberapa beberapa saat, Adam pun melepaskan pagutannya. Dia mengusap bibir Sisil yang terlihat basah, lalu Adam pun tersenyum hangat kepada Sisil.
"Jangan marah, Mas minta maaf. Sekarang lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, masak apapun yang ingin kamu masak. Yang penting kamu jangan ngambek, terus kalau mau bikin sambel cabenya jangan banyak-banyak," ucap Adam.
"Beneran, Mas, aku boleh memasak apa pun yang aku mau?" ucap tanya Sisil.
"Aku sayang kamu, Mas." Sisil langsung mengecup Bibir Adam.
Wajah Sisil yang tadinya terlihat ditekuk, kni terlihat barbinar. Dia sangat senang dengan apa yang diucapkan oleh Adam, suaminya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke dapur. Aku akan memasak apapun yang aku inginkan," ucap Sisil.
"Ya, terserah kamu saja. Mas nurut," ucap Adam pasrah.
Sisil yang begitu senang pun langsung turun dari pangkuan Adam, dia terlihat berlari menuju dapur karena sudah tak sabar ingin memasak makanan yang ingin dia masak.
Dari bangun tidur, Sisil merasa jika mulutnya terasa berliur. Dia ingin sekali memakan banyak makanan yang pedas dan juga asam.
Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Sisil yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya, namun Adam merasa senang karena setidaknya Sisil tidak cemberut lagi.
Akan tetapi wajahnya sudah kembali ceria, adam pun langsung bangun dan mengikuti langkah Sisil yang pergi ke arah dapur.
Adam memperhatikan Sisil dari gawang pintu dapur, dia bisa melihat betapa Sisil begitu bahagia saat membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan apa saja yang dia ingin masak.
Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan Laila, dia langsung membantu menantunya yang sedang berkutat dengan bahan masakan yang ingin dia olah.
"Kamu mau masak apa, Sayang?" tanya Laila.
"Sisil mau masak ikan kembung goreng sambal mangga, Bu." Sisil terlihat membersihkan ikan kembung dan juga Ayam.
"Sama apa lagi? Kenapa bahannya banyak sekali?" tanya Laila lagi.
"Sisil juga mau bikin garang asem, Bu. Kayaknya enak, Sisil pengen banget." mata Sisil terlihat barbinar saat membayangkan makanan yang sangat ia inginkan.
Laila hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena melihat tingkah menantunya yang dirasa terlihat lucu di matanya.
"Ya sudah, masaklah apapun yang ingin kamu masak. Tapi, jangan terlalu asam dan terlalu pedas, itu tidak baik buat kesehatan perut kamu." Laila menasehati Sisil seraya mengusap lembut punggungnya.
Melihat wajah Sisil yang kembali ceria, Adam sangat senang. Adam lalu menghampiri Sisil dan memeluknya dari belakang.
"Mas berangkat sekarang saja, kalau nungguin kamu masak kayaknya Mas nggak keburu sarapan. Mas mau makan roti saja di kantor," kata adam.
Sisil pun langsung melerai pelukannya dan membuatkan roti isi untuk adam, "makanlah, Mas. Maaf karena aku tidak bisa memasak dengan cepat, mungkin nanti siang aku akan ke kantor untuk membawakan makan siang untukmu."
"Baiklah, aku akan menunggunya," kata Adam.
"Ya sudah, aku masak lagi sama Ibu. Kamu makan roti ini ya, Mas," ucap Sisil.
"Aku akan makan rotinya," ucap Adam.
Sisil pun kembali berkutat dengan bahan masakan yang sudah dia siapkan, sedangkan Adam langsung menikmati roti isi bikinan istrinya.
Setelah menghabiskan sarapannya, dia pun menyesap kopi yang dibuatkan oleh Sisil, lalu Adam pun berpamitan untuk pergi ke kantor.
Adam terlihat sangat senang, karena istrinya sudah kembali ceria. Dia pun berharap, semoga saja Sisil tidak marah lagi kepada dirinya.
Saat tiba di kantor, dia berpapasan dengan Leo. Wajah Leo terlihat sangat kusut, Adam jadi penasaran dibuatnya.
"Kamu kenapa, Leo?" tanya Adam.
"Aku sedang kesal, Tuan. Masa di zaman yang sudah modern seperti ini, Mom Maura malah menjodohkan ku," keluh Leo.
Adam pun langsung tertawa mendengar ucapan dari Leo, mungkin Mom'nya ingin membawa Leo ke arah jalan yang lurus, pikirnya.