
Hari ini Leo dan juga Cindy sudah berangkat menuju negara Swedia, negara yang sejak lama ingin sekali dikunjungi oleh Leo.
Rasanya seperti mimpi, karena Leo bisa membawa istrinya untuk berbulan madu ke negara tersebut.
Leo terlihat bersemangat sekali, begitu pun dengan Cindy. Pasangan pengantin baru itu terlihat benar-benar sangat bahagia.
Leo sungguh berterima kasih kepada Tuan Arley, karena dia memberikan fasilitas yang lengkap untuk dirinya berbulan madu.
Tuan Arley mempersiapkan hotel tempat mereka menginap selama 1 minggu, bahkan Tuan Arley pun memberikan fasilitas bulan madu yang mewah kepada Cindy dan juga Leo.
Semua itu sengaja Tuan Arley lakukan sebagai tanda terima kasihnya karena Leo sudah mengabdi di perusahaan Callweld selama tiga tahun.
Ya, usia Leo memang lebih tua dari Adam. Namun ternyata Adam bisa bersikap lebih dewasa, walaupun usianya yang masih di bawah Leo.
Adam kini berusia 22 tahun, sedangkan Leo berusia 24 tahun. Begitu pun dengan Mahendra, Mahendra merupakan teman satu angkatan Leo.
Mereka berdua sama-sama melamar pekerjaan di perusahaan Callweld, setelah lulus mereka lulus kuliah.
Kepergian Leo menuju negara Swedia memang merupakan keinginan terbesar Leo, memberhentikan Leo juga merupakan keputusan yang tepat menurut Tuan Arley.
Namun, hal itu berakibat besar untuk perusahaan Callweld. Karena sudah beberapa hari ini Adam terlihat begitu sibuk dalam mengerjakan pekerjaannya.
Bukan karena Mahendra tidak konsisten, namun pekerjaan Leo yang dialihkan kepada Gracia yang masih baru dalam berkecimpung dalam dunia bisnis membuatnya kelimpungan.
Bahkan kini Mahendra harus rela berada di dalam ruangan yang sama dengan Gracia, agar mereka bisa dengan mudah mengerjakan tugas yang sudah menanti. Gracia juga bisa dengan mudah bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti.
Awalnya Mahendra terlihat kurang setuju saat Adam menyuruhnya untuk berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Gracia.
Karena menurutnya, satu ruangan bersama dengan perempuan adalah hal yang kurang pantas.
Namun, Adam beralasan agar pekerjaan cepat selesai. Lagi pula jika ada yang tidak bisa dikerjakan oleh Gracia, mereka bisa dengan mudah berdiskusi dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Akhirnya Mahendra pun setuju.
Benar saja, Gracia lebih sering bertanya kepadanya akan hal yang benar-benar dia tidak mengerti. Dengan sabar Mahendra pun menjelaskan semuanya kepada Gracia, walaupun dengan wajah datar dan terlihat tak bersahabat.
"Tuan, yang ini aku tidak paham," kata Gracia.
Mendengar ucapan Mahendra, Gracia terlihat tertunduk. Dia benar-benar baru dalam memasuki dunia bisnis, apa lagi ini menyangkut perusahaan besar.
Jadi, dia tidak bisa gegabah dalam mengerjakannya. Dia hanya takut akan terjadi kesalahan yang fatal dengan apa yang dia lakukan.
Gracia yang awalnya sudah bangun dan hendak menghampiri meja Mahendra pun mengurungkan niatnya.
Dia berusaha untuk mengerjakan berkas yang kini berada di hadapannya, melihat Gracia yang terdiam membuat Mahendra merasa kasihan.
Dia pun akhirnya menghampiri Gracia dan duduk tepat di hadapannya, tanpa banyak bicara Mahendra langsung mengambil berkas tersebut dan memperhatikannya dengan seksama.
Setelah dia baca dan dia pahami, dia pun langsung menjelaskannya kepada Gracia.
"Terima kasih, Tuan. Aku sudah paham," kata Gracia seraya tersenyum manis.
"Hem," jawab Mahendra.
Setelah mengatakan hal itu, Mahendra pun langsung bangun dan kembali ke meja yang biasa ditempati oleh Leo. Dia pun kembali mengerjakan tugasnya.
"Ngga apa-apa deh, dijudesin. Yang penting dia masih mau bantuin aku," ucap Gracia seraya tersenyum sambil menatap ke arah Mahendra.
"Ngga usah senyum-senyum, kerjain tugasnya dengan benar!" kata Mahendra dengan mata yang terus menatap bekas yang dia pegang.
Mendengar ucapan Mahendra, membuat Gracia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mahendra berkata tanpa menatap dirinya, dia pun jadi menyangka jika Mahendra sedang berbicara dengan orang lain yang berada di ruangan tersebut.
Melihat kelakuan Gracia, Mahendra langsung menutup berkas yang sedang dia kerjakan. Lalu, Mahendra pun menatap wajah Gracia dengan lekat.
"Di dalam ruangan ini tidak ada orang lain selain kita, jadi berhentilah bersikap konyol dan segera kerjakan tugas kamu!" ucap Mahendra.
Gracia langsung tertunduk malu, dia pun segera mengambil berkas yang ada di depannya lalu mengerjakannya dengan serius.
Melihat kelakuan Gracia, Mahendra pun langsung menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya.