Who Is Adam?

Who Is Adam?
Bella Keguguran



Alangkah kagetnya Al, karena saat dia masuk ke dalam apartemen miliknya sudah tidak ada Bella di sana. Hanya banyak bercak darah yang bercecer, baik di kasur atau pun di lantai.


Lutut Pak Musa terasa lemas, dia langsung jatuh terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Dia sungguh takut akan terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan terhadap putrinya.


Al pun sama, dia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, karena seingatnya dia meninggalkan Bella di sana, bahkan kamarnya pun dalam keadaan terkunci dan tangan Bella pun dalam keadaan terikat.


Al benar-benar takut kali ini, padahal niatnya hanya ingin mengungkapkan kebenaran. Hanya saja, caranya memang salah.


Al pun langsung teringat pada security yang berjaga di sana, dengan cepat dia berlari untuk menemui security dan menanyakan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Pak, Bella kemana? Kenapa dia tidak ada di apartemen milik saya?" napas Al terlihat tersenggal-senggal, tentu karena Al berlari dengan cepat.


"Oh, perempuan yang tadi sore datang sama Den Al, ya?" Al langsung menganggukkan kepalanya, security itu pun langsung tertunduk lesu.


"Dia kemana, Pak? Jawab!" bentak Al.


"Kayaknya di bawa ke Rumah Sakit," ucapnya lesu.


Mata Al membulat, dia jadi bertanya-tanya. Siapa yang sudah berani masuk ke dalam apartemen miliknya? Lalu, apa yang terjadi dengan Bella? Kenapa dia harus dilarikan ke Rumah Sakit?


Begitu banyak pertanyaan yang bertebaran di benak Al, dia benar-benar merasa sangat takut kali ini.


"Tadi Mister ke sini, dia marah dan langsung membawa perempuan cantik itu untuk pergi. Wanita itu terlihat tak sadarkan diri, bajunya penuh darah, Den." Jelas security tersebut.


Al makin prustasi dibuatnya, sudah bisa dipastikan jika dia akan mendapatkan peringatan dari sang Grandpa. Al terlihat menjambak rambutnya beberapa kali, dia harus segera menyusul Bella dengan cepat.


Al bisa memperkirakan, jika Tuan Arley pasti akan membawa Bella ke Rumah Sakit ternama yang ada di pusat kota. Karena Rumah Sakit itu memang selalu menjadi andalan keluarga Caldwell.


Tanpa menunda lagi, Al langsung kembali menuju apartemen miliknya. Kemudian dia memapah Pak Musa untuk segera ikut dengannya.


Pak Musa yang masih syok, hanya bisa mengikuti langkah Al tanpa berkata apa pun.


Al melajukan motornya dengan cepat, dia ingin segera bertemu dengan Bella. Dia sudah tak sabar ingin segera mengetahui bagaimana kondisi Bella saat ini.


Al terlihat beberapa kali menyalip motor dan mobil, bahkan dia sampai menerobos lampu yang sedang menyala merah.


Dia sudah tak berpikir jernih lagi, dia hanya ingin segera mengetahui kondisi Bella. Beruntung tak ada polisi di sana, kalau saja ada pasti dia sudah kena tilang.


Sudah berani mengendarai motor di usianya yang baru enam belas tahun, melanggar peraturan lalu lintas lagi.


Sampai di Rumah Sakit, Al berlari dengan cepat menuju meja resepsionis. Tentu saja dia langsung menanyakan keberadaan Bella, benar saja, Bella di rawat di sana.


Setelah mengetahui, jika Bella di rawat dibuang VIP. Al mengajak Pak Musa untuk segera melihat keadaan Bella, dengan tak sabarnya mereka segera melangkah menuju ruang perawatan milik Bella.


Matanya terlihat memerah, pipinya terlihat basah. Tuan Matiew bahkan tak segan mengecupi kening Bella, walau dia tahu jika di sana ada Tuan Arley.


"Bella, Sayang." Panggil Pak Musa.


Tangis Pak Musa makin menjadi, dia menghampiri Bella dan memeluknya dengan erat. Sesekali Pak Musa terlihat mengecupi wajah putrinya, Tuan Matiew langsung bangun dan memundurkan langkahnya.


Dia sengaja memberi ruang agar Pak Musa bisa bersama dengan putrinya.


"Maafkan Bapak, Nak. Bapak ngga bisa jadi Ayah yang baik, Bapak ngga bisa menjaga putri Bapak dengan baik. Maaf," kembali Pak Musa mengecupi kening Bella.


Tuan Arley menghampiri Pak Musa dan menepuk pundaknya dengan pelan.


"Putri anda mengalami keguguran, anda harus sabar." Kata Tuan Arley berusaha untuk menenangkan.


Tubuh Al langsung limbung, dia langsung menyandarkan tubuhnya pada dinding. Dia benar-benar merasa bersalah, karena perbuatannya kini sudah menghilangkan satu nyawa yang tak berdosa.


Hati Pak Musa terasa sangat sakit, memang benar Bella sudah melakukan kesalahan. Namun tetap saja dia menjadi khawatir dengan apa yang dia dengar, pasti Bella akan sangat sedih saat mengetahui dirinya telah mengalami keguguran.


Pak Musa menatap wajah putrinya dengan tatapan penuh iba, dia benar-benar merasa gagal sebagai orang tua, dia merasa telah menjadi orang tua yang tak berguna.


Setelah puas karena bisa melihat putrinya, kini tatapan Pak Musa beralih pada Tuan Matiew. Lelaki penyebab dari semua masalah yang terjadi, Karena menurutnya Bella tak akan melakukan hal nekat jika dia tidak di hamili oleh Tuan Matiew.


Al juga tak akan berbuat nekat, jika Bella tidak merasa terdesak karena ulah Tuan Matiew.


"Mau apa lagi anda di sini? Mau menyakiti putri saya lagi? Puas kamu sudah merusak masa depan putri saya? Puas kamu sudah menghancurkan anak saya?!" Pak Musa terlihat begitu geram, pada lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu.


"Saya di sini ingin bertanggung jawab, Pak." Ucap tegas Matiew.


"Bertanggung jawab untuk apa, hah?! Anda dengar, Tuan?! Anak saya mengalami keguguran, anda pergilah yang jauh. Dia sudah tak membutuhkan pertanggungjawaban dari siapa pun!" Pak Musa berucap dengan penuh penekanan.


Tanpa Pak Musa duga, Tuan Matiew langsung bersimpuh di kaki Pak Musa. Dia memohon ampun atas kesalahnya, dia mengaku jika dia memang salah.


"Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar telah jatuh cinta pada putri Bapak, saya memang berniat untuk menikahi putri Bapak. Namun istri saya karang sedang kritis, saya tak mungkin menikahi Bella saat ini. Tapi, saya janji akan menikahi putri Bapak." Ucap Matiew tulus.


"Tidak perlu, kamu sudah menghancurkan masa depan putriku. Aku tidak sudi menerima kamu sebagai menantu, kalau perlu semua yang kamu. kasih akan saya kembalikan!" ucap tegas Pak Musa.


"Tolong jangan pisahkan kami, justru rasa bersalah saya akan semakin besar jika anda memisahkan saya dengan Bella. Saya mohon, jangan pisahkan kami." Tuan Matiew memeluk kaki Pak Musa dengan erat, dia sungguh tak rela jika dia harus dipisahkan dengan wanita muda yang kini telah membuatnya jatuh hati.


Pak Musa hanya diam tak merespon, dia bisa melihat sendiri, jika Tuan Matiew terlihat begitu tulus dengan apa yang dia ucapkan.