Who Is Adam?

Who Is Adam?
Jangan Pakai Rok



Sore pun telah menjelang, kini waktunya para pekerja pulang ke rumah untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah setelah seharian bekerja.


Adam terlihat keluar dari ruangannya bersama dengan Sisil, karena Sisil memang sengaja menemui Adam untuk mengajaknya pergi menuju Rumah Sakit.


Dia ingin memeriksakan kandungannya yang kini sudah masuk usia sembilan bulan.


Adisha pun sama, dia terlihat keluar dari ruangannya bersama dengan Tuan Arley. Tuan Arley memang sengaja menjemput Adisha, istrinya.


Karena, dia tak ingin terjadi sesuatu apa pun terhadap istrinya tersebut. Walaupun usianya semakin tua, namun kasih sayangnya, perhatiannya dan juga cara memperlakukan Adisha dari semenjak pertama mereka menikah tak pernah berubah, Tuan Arley tetap romantis.


Saat melihat Adam, Tuan Arley nampak menghampirinya dan berbincang dengan Adam.


Adisha pun nampak menghampiri Sisil dan mengelus lembut perut buncit Sisil, tak lama langkah mereka terhenti kala Mahendra dan juga Gracia keluar dari dalam ruangannya.


Melihat Gracia yang nampak keluar dengan menggunakan kemeja yang menenggelamkan tubuhnya, membuat Tuan Arley, Adisha, Adam dan juga Sisil langsung tertawa.


Mereka benar-benar merasa lucu saat melihat tubuh mungil Gracia yang hampir tenggelam karena kemeja yang dia pakai.


Gracia terlihat menunduk malu karena ditertawakan oleh atasannya, berbeda dengan Mahendra yang terlihat biasa saja.


"Gracia Kenapa kamu memakai kemeja seperti itu?" tanya Sisil penasaran.


"Itu, Nona Muda. Anu," ucap Gracia seraya melirik kearah Mahendra.


Dia begitu bingung harus menjawab apa, dia seolah meminta pertolongan pada Mahendra. Namun sayangnya, Mahendra hanya diam saja.


Tuan Arley seolah paham dengan tatapan dari Gracia, dia pun lalu melihat Mahendra dan bertanya kepadanya.


"Ada apa? kenapa dia memakai kemeja milikmu?" tanya Tuan Arley.


"Karena bajunya basah, jadi aku pinjamkan kemejaku," kata Mahendra.


"Oh, ya sudah. Sekarang kalian pulanglah," kata Tuan Arley.


"Baik, Mister." Gracia dan juga Mahendra terlihat menunduk hormat, lalu mereka pun langsung melangkahkan kaki mereka untuk segera pulang.


Tiba di parkiran, Gracia pun langsung menaiki motornya, memakai helmnya dan hendak pergi dari sana.


Namun, sebelum itu Mahendra nampak menghampirinya. Dia terlihat menatap Gracia dengan raut wajah datar.


"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Gracia.


"Aku hanya ingin bilang, mukai besok pakailah celana panjang. Jangan memakai rok sependek itu, karena kamu terlihat kesusahan saat menaiki motor," ucap Mahendra.


Setelah mengatakan hal itu, Mahendra langsung meninggalkan Gracia dan masuk ke dalam mobilnya.


Tak lama kemudian, Mahendra pun nampak pergi meninggalkan Gracia. Setelah kepergian Mahendra, Gracia terlihat mengepalkan kedua tangannya, lalu memukul setang motornya.


"Kenapa dia menyebalkan sekali? Aku sudah terbiasa dengan memakai rok, kenapa dia yang sewot?" ucap Gracia kesal.


Akan tetapi, sebuah tepukan di pundaknya membuat dia kaget sampai memegangi dadanya.


"Astagfirullah!" kaget Gracia.


Melihat Gracia yang begitu kaget, Tuan Arley nampak tertawa.


"Makanya jangan mengumpat terus," kata Tuan Arley.


"Mister mengagetkan saya," kata Gracia.


"Saya cuma mau bilang, jangan galak-galak. Jangan terlalu benci, jangan terlalu kesal. Nanti kalau dia jodohmu, kamu malu sendiri," kata Tuan Arley.


Mendengar ucapan Tuan Arley, Gracia terlihat bergidik. Dia pun jadi membayangkan kala dirinya menjadi pacar Mahendra, dia mungkin hanya akan diam saja tanpa adanya kemesraan.


Mana mungkin pikirnya dia bisa berpacaran dengan lelaki dingin seperti Mahendra, yang ada tidak akan ada kehangatan, namun membeku karena aura dingin dari tubuh Mahendra.


"Saya ngga mau pacaran sama dia, Mister. Dia itu terlalu dingin, nanti saya jadi beku," ucap Gracia seraya tersenyum canggung.


Mendengar ucapan dari Gracia, Tuan Arley langsung tergelak. Dia merasa lucu mendengar ucapannya, apa lagi ketika melihat ekspresi wajah Gracia.


Adisha hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya, kemudian dia pun memeluk lengan Tuan Arley.


"Sudahlah, Sayang. Jangan suka meledek orang lain, sebaiknya kita cepat pulang. Kasihan Haidar," ucap Adisha.


"Ya, kamu benar," kata Tuan Arley.


Tuan Arley dan Adisha pun nampak pergi meninggalkan Gracia, setelah kepergian sang Big Boss, Gracia pun langsung melajukan motornya menuju kediamannya.


Sepanjang perjalanan pulang, dia terus saja mengumpat karena dia merasa tak suka dengan kelakuan Mahendra yang terkesan begitu dingin namun selalu terlihat ingin mengatur kepribadiannya.


"Memangnya dia siapa? Kenapa dia selalu mengatur hidupku?" tanya Gracia.


Sampai di rumahnya, Gracia langsung masuk ke dalam kamarnya dan melemparkan jas milik Mahendra.


Dia juga langsung membuka kemeja milik Mahendra yang dia pakai dan melemparkannya ke sembarangan arah.


Setelah itu, Gracia nampak menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Dia menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


Dia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya dari emosi yang seakan siap meledak kapan saja.


Tak lama kemudian, dia pun mengingat jas dan kemeja Mahendra yang dia lempar secara sembarang.


Gracia langsung bangun dan segera memunguti kemeja dan jas milik Mahendra tersebut.


"Ya Tuhan! Aku harus segera mencucinya biar besok aku bisa mengembalikannya kepada si es batu itu," ucap Gracia seraya berlalu menuju kamar mandi.