
Devano pun kini sudah sampai di depan rumahnya Eliza, tapi saat dia turun dari mobilnya ,Devano sangat kaget karna dia melihat ke dua orang tua nya, Arkana, Laila dan juga Adam baru saja keluar dari rumah nya Eliza.
Devano pun segera menghampiri mereka, dan langsung menyapa mereka.
"Ma, Pah kalian kenapa bisa di sini? "Tanya Devano penasaran.
"Boy, kamu sudah pulang? "Tanya Tuan Seno.
"Sudah Pah, tadi aku ke rumah sakit. Tapi Eliza nya sudah pulang, makanya aku ke sini."Jawab Devano.
"Iya Kak, dia sudah pulang dari siang. Katanya dia engga betah dengan hawa rumah sakit,"Ucap Laila.
"Lalu kenapa kalian di sini? "
"Tentu saja kami menjenguk Aunty Eliza, Om aneh banget pertanyaannya. "Ucap Adam.
" Ya,, maksud Om aneh aja. Kenapa kalian bisa menjenguk Eliza?"
" Apa Om lupa saat kejadian itu kan ada aku di sana, aku khawatir terus sama Aunty Eliza . Jadi Adam mengajak Ayah sama ibu untuk menjenguk Aunty, dan ternyata Nenek sama Kakek ternyata mau ikut."Jelas Adam.
"Dari kapan kalian di sini? "
" Selepas Ashar tadi kami langsung ke sini ,sekarang kami mau pulang karena sudah selesai menjenguk Eliza nya. "Ucap Arkana.
Tak lama keluarlah kedua orang tua Eliza dari dalam rumahnya, Devano pun langsung menyapa Tuan Bram dan Nyonya Berlin.
''Selamat sore Tante, Om."Sapa Devano.
"Sore nak Devan,"Jawab mereka bersamaan.
Devano pun langsung mencium punggung tangan ke dua orang tua Eliza, kemudian dia pun menanyakan keadaan Eliza.
"Bagaimana dengan Eliza Om? Kenapa dia sudah pulang? Padahal kata Dokter Eliza masih membutuhkan perawatan selama satu minggu lagi,"Ucap Devano.
Tuan Bram pun langsung tersenyum,"Eliza merasa tak betah berlama-lama di sana,makanya minta pulang."
Tuan Seno yang melihat kekhawatiran di mata putra nya jadi tahu, jika anak nya kini sudah bisa membuka hati nya untuk seorang wanita.
"Tuan Bram, maaf kami harus pergi sekarang."Ucap Tuan Seno.
"Silahkan Tuan, terimakasih karna sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk putri kami."Ucap Tuan Bram.
"Sama-sama Tuan, saya titip anak saya yang tampan ini."Ucap Tuan Seno.
"Tentu, Nak Devan di sini di terima dengan sangat baik. Jadi anda tidak perlu khawatir,"Ucap Nyonya Berlin.
Setelah berpamitan Tuan Seno, Nyonya Alina ,Arkana, Laila dan juga Adam langsung pulang .Sedangkan Devano kini sedang meminta izin kepada kedua orang tua Eliza untuk bertemu dengannya.
"Om, tante,, boleh kan kalau saya ketemu sama Eliza?"
" Tentu saja boleh ,Om yakin dia pasti akan senang kalau tahu kamu datang menjenguknya."Ucap Tuan Bram.
" Terima kasih Om ,"Ucap Devano.
Tuan Bram dan Nyonya Berlin pun langsung masuk ke rumahnya, begitupun dengan Devano. Dia dengan setia mengekori langkah kedua orangtua Eliza tersebut. Hingga sampai di depan kamar Eliza,langkah mereka pun langsung terhenti.
"Coba kamu temuin dia di dalam, Om sama Tante mau ke belakang dulu."Ucap Tuan Bram.
"Terimakasih Om, "Ucap Devano.
Devano pun langsung mengetuk pintu kamar Eliza ,tak lama terdengar lah sahutan dari dalam kamar Eliza.
"Masuk aja Ma, pintunya tidak dikunci."Ucap Eliza.
Devano pun membuka pintunya dan langsung masuk kedalam kamar Eliza, saat melihat Devano yang datang Eliza sempat terkejut, dia pun langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
Devano pun langsung menghampiri Eliza dan duduk tepat disampingnya, Eliza sempat melihat ke arah Devano lalu kembali membuang muka.
"Za,, "Panggil Devano.
"Ko hem doang sih? Kenapa kamu udah pulang aja, bukan nya Dokter nyuruh kamu untuk di rawat selama satu minggu? "
"Hem, tapi aku ngga betah di sana."Jawab Eliza tanpa melihat ke arah Devano.
Devano pun meraih tangan Eliza, kemudian dia menggenggam tangan Eliza dengan erat.
" Kamu marah ya sama aku?"
"Ngga,"Jawab Eliza.
" Tapi kamu nggak mau natap aku,itu artinya kamu marah sama aku."
"Tapi aku ngga marah,,"Jawab Eliza lagi.
" Za,,, Lihat aku, jangan kayak gini."Ucap Devano resah.
"Kakak pulang aja, aku mau istirahat. "
Eliza pun menarik tangan nya dari tangan Devano, rasa nya hanya mendengar suara Devano saja dia sudah tak sanggup, apa lagi harus menatap wajah Devano.
Devano merasa kecewa, sedih dan merasa bersalah. Devano lalu memeluk Eliza dengan erat. Awal nya Eliza merasa sangat kaget, tapi dederuk kemudian Eliza memejamkan matanya.
Dia mencoba untuk menikmati sentuhan dari pria yang sejak lama ia sukai, pria yang sejak lama menghiasi hati nya.
"Maaf ya Za , Maafin aku. Kamu pasti marah sama aku, tapi aku mohon jangan diemin aku kaya gini. Aku ngga sanggup ,aku lebih suka kalau kamu bawel dan banyak mau nya. Aku ngga suka lihat kamu yang cuekin aku kaya gini,"Ucap Devano.
Eliza nampak menghela napas berat, dia jadi dilema saat ini. Tapi tekad nya sudah bulat, dia tidak akan mengemis cinta lagi sama Devano.
"Aku beneran ngga marah sama kakak, sekarang kakak pulang saja karna kakak pasti capek. Aku juga lelah, ingin istirahat."Jawab Eliza.
Devano menangkup kedua pipi Eliza dengan kedua tangan nya, "Tatap aku kalau kamu emang ngga marah sama Kakak,"Pinta Devano.
Eliza pun menatap Devano sejenak, kemudian dia segera memalingkan wajahnya.
"Sudah aku bilang kak, aku ngga marah. Kakak pulang saja, kakak bau."Ucap Eliza.
Eliza pun sebisa mungkin beralasan agar Devano cepat pergi, tak mungkin bukan jika dia harus berkata jujur dan mengatakan bahwa dia takut semakin mencintai Devano jika mereka terus bersama.
Devano pun langsung terkekeh," Baiklah,kalau kamu ngga mau dekat sama aku karna aku bau. Kalau begitu aku akan pulang dan mandi ,setelah itu aku akan kesini lagi untuk nemenin kamu."
Eliza pun dengan cepat menatap Devano,"Ngga usah, kakak ngga usah balik lagi. Kakak pasti cape karna sudah seharian bekerja, kakak juga harus istirahat. Lusa kakak harus pergi ke kota P, kakak harus cukup istirahat."
Devano pun tersenyum,"Kamu memang sangat perhatian, kalau begitu aku pulang dulu."Pamit Devano.
Devano pun mendekatkan wajah nya ke wajah Eliza, Eliza pun jadi gugup dan salah tingkah. Eliza pun segera menahan wajah Devano dengan telapak tangan nya.
"Kakak mau apa? "
"Tadi nya aku mau cium kening kamu, tapi malah di tahan kaya gini.."Ucap Devano.
"Ngga usah cium-cium kakak pulang aja, "Ucap Eliza dengan wajah yang sudah merona.
"Biasa nya kamu pengen banget aku cium, giliran aku nya mau kamu nya malah ngga mau."
Eliza nampak berdecak, dia jadi merasa kesal sekaligus malu.
"Yang lalu biar lah berlalu, ngga usah di bahas lagi."Ucap Eliza tanpa menatap Devano.
"Iya maaf, kalau begitu pulang."
Eliza pun langsung menganggukan kepalanya, Devano pun mengacak pelan puncak rambut Eliza. Setelah itu, di pun langsung keluar dari kamar Eliza.
+
+
+