
"Ck,, jangan asal bicara!! Umurku sudah setengah abad, mana mungkin gadis muda sepertinya mau pada ku." tutur Tuan Arley.
Mendengar ucapan Tuan Arley, Haidar nampak menganggukan kepalanya. Tapi, Haidar pun kemudian berucap.
"Tapi, Tuan. Walaupun umur Tuan, sudah setengah abad, tapi Tuan masih terlihat muda dan tampan." Haidar memuji, Adisha nampak menganggukkan kepalanya.
"Jangan berlebihan, tetap saja aku sudah tua." ucap Tuan Arley.
"Lalu, ada perlu apa Tuan kemari?" tanya Haidar.
Tuan Arley, langsung menepuk jidatnya. Karena dia, sudah melupakan tujuan utamanya untuk datang ke hotel tersebut.
"Aku, sedang menghadiri acara pertunangan Devano, apa kamu mau ikut, Adisha? " tanya Tuan Arley, tanpa melihat ke arah Haidar.
Adisha langsung menggelengkan kepalanya," tidak, Tuan."
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Kalau kamu sempat, mampir lah ke rumah utama." tutur Tuan Arley.
"Iya, Tuan. Pasti," jawab Haidar.
Setelah berpamitan, Tuan Arley, langsung pergi dari sana menuju ballroom hotel.
Saat tiba di sana, Devano nampak sedang memasangkan cincin di jari manis Eliza. Setelah itu, Eliza nampak memasangkan cincin pertunangan di jari manis Devano.
Para tamu undangan langsung bertepuk tangan, dan mendo'akan yang terbaik untuk Eliza dan Devano.
''Terimakasih, Eliza.'' Devano menggenggam tangan Eliza, kemudian Devano, mengecup tangan Eliza dengan penuh cinta.
Eliza, nampak tertunduk malu. Sedangkan para tamu undangan, langsung bersorak sorai melihat keromantisan mereka berdua.
"Ya ampun,, mereka terlihat sangat bahagia sekali. Huuh,, andai saja aku tak menyia-nyiakan masa muda ku.. " Tuan Arley nampak membuang nafas kasar, dia merasa menyesal atas ulahnya.
Tuan Seno nampak tersenyum saat melihat Tuan Arley, kemudian dia pun menghampiri Tuan Arley.
"Penyesalan memang selalu datang belakangan, tapi, jika kamu mau berubah, selalu saja ada jalannya." ucap Tuan Seno.
"Kamu benar, aku sangat menyesal karena tak pernah menggunakan kesempatan yang Tuhan berikan dengan baik. Aku selalu saja memikirkan nikmat sesaat," sesal Tuan Seno.
"Grandpa, " panggil Adam.
"Oh, Boy. Sejak kapan kamu di sini?"
"Baru saja," ucap Adam.
Tuan Arley langsung menggendong Adam, dia melabuhkan kecupan hangat pada kening Adam.
" Grandpa, masih terlihat sangat tampan. Kalau Grandpa mau, Grandpa, bida mendapatkan seorang gadis yang cantik." Adam berucap sambil mengerling genit.
"Ck,, bocah kecil seperti mu tahu apa?"
Tuan Arley dan tuan Seno, nampak menggelengkan kepala mereka saat mendengar penuturan Adam.
"Cucu ku memang sangat pandai," ucap Tuan Seno.
"Hey,, dia juga Cucu ku." ucap Tuan Seno.
"Cucu, kita." Nyonya Alina menyelak, tangannya sudah bergelayut manja di tangan kekar Tuan Seno.
"Kalian membuatku Cemburu," tutur Tuan Arley.
"Carilah wanita yang tulus dan bersedia menjadi istri mu, aku yakin kamu masih laku." ujar Tuan Seno.
"Ck,, kau terlalu menghina ku." ucap Tuan Arley.
Nyonya Alina, Tuan Seno dan Adam nampak menertawakan Tuan Arley. Arkana dan Laila, yang melihat kebersamaan mereka pun langsung ikut bergabung.
"Sepertinya kami melewatkan sebuah keseruan," ucap Arkana.
"Bukan sebuah keseruan, tapi mereka sedang menertawakan ku." adu Tuan Seno.
Arkana nampak terkekeh," Sabar, Dad."
"Aku memang paling sabar," ucap Tuan Arley.
Laila langsung terkekeh, sambil mengusap tangan kanan mertuanya.
Sedangkan Devano dan Eliza, nampak sedang berbahagia. Dan para tamu undangan pun, nampak menghampiri Devano dan memberinya ucapan selamat.
*
*
Tuan Arley, nampak sedang melamun di kursi kebesarannya. Segala bentuk penyesalan, nampak terlintas di benaknya.
Andai saja waktu bisa di putar, rasanya dia ingin sekali memperbaiki hidupnya. Menata kembali alur cerita percintaannya, ingin rasanya, dia hidup normal dengan menghabiskan waktu bersama satu perempuan.
Memiliki anak banyak, keluarga utuh, saling mencintai dan saling melengkapi.
"Ya Tuhan, apa kah masih ada kesempatan kedua untuk pendosa seperti ku?" Gumam Tuan Arley.
Tuan Arley begitu asik dengan lamunannya, ke dua tangan nya saling bertumpang dan di jadikan penopang dagunya .
"Ar, sepuluh menit lagi meeting akan di mulai." ucap Laurent yang kini sudah berada tepat di samping Tuan Arley.
Tuan Arley nampak terlonjak kaget, dia langsung bangun dari kursi kebesarannya , kemudian merapikan bajunya yang tak kusut.
"Sejak kapan kamu di sini, Laurent?"
"Sudah sepuluh menit yang lalu, dan kamu masih saja asik dengan lamunan kamu." jawab Laurent.
Tuan Arley, nampak enggan berlama-lama dengan Laurent. Dia pun segera keluar dari ruangannya, menuju ruang meeting.
Laurent nampak tersenyum sinis, ternyata Tuan Arley, masih saja tidak mau melihat kesempurnaan nya.
*
Di ruangan Divici pemasaran, Adrian nampak sedang menggoda Adisha. Dia sangat suka melihat Adisha yang cemberut, karena kesal padanya.
"Sha, kenapa kemarin elu ngga ikut gue aja sih?! Kenapa elu, malah milih jalan dan pria tua itu?" tanya Adrian.
"Iih,, elu nyebelin. Gue, lagi gawe. Jangan gangguin terus," ucap Adisha pelan tapi penuh penekanan.
"Oke, gue ngga bakal ganggu elu lagi. Tapi, elu harus mau jadi pacar gue." ucap Adrian.
Mata Adisha langsung membulat sempurna, dia tahu jika Adrian sangat suka bercanda. Tapi kali ini, dia merasa jika Adrian sudah keterlaluan.
"Adrian, gue mohon sama elu. Elu mesti jaga jarak sama gue, gue bisa setres kalau deket elu terus." pinta Adisha.
Tanpa Adisha duga, Adrian langsung menggenggam tangan Adisha.
"Gue, suka sama elu. Gue ngga bercanda kalau soal hati," ucap Adrian.
Adisha langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Adrian.
"Maaf, tapi kita baru kenal. Lagian gue lebih tua dari elu, harusnya elu nyari pasangan yang lebih muda dari elu." ucap Adisha.
"Tapi, Sha."
"Sudahlah, Adrian. Gue mau gawe, oke?! "
"Oke, gue balik ke meja gue." ucap Adrian.
Dengan wajah lesu, Adrian langsung meninggalkan Adisha. Adrian langsung duduk di meja kerjanya, sedangkan Mira dan Leli nampak mengatupkan mulut mereka menahan tawa.
Mira dan Leli sebenarnya merasa kasihan pada Adrian, tapi, tidak ada yang bisa memaksakan perasaan seseorang.
Adrian memang tipe cowok yang susah jatuh cinta, sejatinya melihat Adisha, dia langsung jatuh hati. Padahal usia mereka terpaut empat tahun, tapi sepertinya Adrian memang menyukai wanita matang.
+
+
+
Akhir-akhir ini Othor akan sangat sibuk di dunia nyata, mohon maaf kalau Up nya telat atau bahkan tidak Up sama sekali. 🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa komentar kalau ada typo, semoga kalian sehat selalu..