
"Leo," panggil Adam.
"Ya, Tuan," jawab Leo.
"Hari ini rasanya panas sekali, tolong beliin saya es Duren, ya?" pinta Adam.
"Hah?"
Melihat wajah Leo yang terlihat keheranan, membuat Tuan Arley langsung tertawa renyah.
"Jangan bengong seperti itu, sekarang pergilah ke Caffe M Di sana es Durennya sangat enak." Tuan Arley merogoh saku celananya, lalu mengambil dompetnya.
Dia langsung mengambil uang seratus ribuan sebanyak lima lembar dan menyerahkannya pada Leo.
"Banyak sekali, Mister." Leo memandang uang yang diserahkan oleh Tuan Arley.
"Beli sekalian untukku juga, untuk mu dan untuk--"
"Gracia, Mister." Gracia langsung memperkenalkan dirinya kala Tuan Arley menatap dirinya.
Tuan Arley pun langsung tersenyum kala melihat Gracia yang terlihat sigap dan gampang paham hanya dengan memperhatikan situasi saja.
"Okeh," ucap Leo.
Leo pun langsung pergi dari perusahaan BAC Corp menuju Caffe M, tentunya dengan wajah yang riang. Sedangkan Adam, Tuan Arley dan juga Gracia langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan mereka.
Leo menjalankan mobilnya sambil bersiul senang, karena uang yang diberikan oleh Tuan arley sangatlah banyak menurutnya. Sedangkan es duren yang harus dia beli hanya 4 porsi saja, dan satu porsinya hanya lima puluh ribu.
Sebenarnya Leo bukan orang yang kekurangan uang, karena selain Dia bekerja di BAC Corp, dia juga memiliki perusahaan peninggalan dari Dadnya. Hanya saja Mom Maura yang menjalankannya, dia bersikeras untuk bekerja di BAC Corp karena menurutnya bekerja di perusahaan sendiri itu tidak enak.
Tiba di Caffe M, dia melihat wanita cantik yang belum lama dia temui. Wanita itu terlihat sedang duduk di salah satu meja pengunjung bersama dengan seorang pria, dia terlihat sedih.
Leo yang penasaran pun langsung mencari tempat duduk yang dekat dengan wanita itu, agar dia bisa menguping pembicaraan mereka.
"Cin, aku sayang banget loh sama kamu. Terus, kamu mau mutusin aku gitu aja?" tanya pria di sampingnya.
"Maaf, Mas. Aku tidak menolak perjodohan ini, Bunda menjodohkan kami di saat kami masih kecil." Wanita yang tak lain adalah Cindy itu, langsung menunduk lesu.
"Tapi kan. kamu bisa nolak, Yang. Maw ngga mau hubungan yang udah kita jalin selama dua tahun berakhir begitu saja," ucap pria itu memelas.
"Maaf, tapi kehidupanku yang sekarang terasa sangat layak juga karena bantuan dari keluarga lelaki itu. Ini sebagai balas budi dari keluarga aku, jadi aku harus mau." Cindy terlihat memainkan sedotan dalam gelas minumannya.
"Ck! Kenapa harus ada acara balas budi segala?" tanya pria tersebut.
"Karena dulu keluarga aku hanyalah keluarga biasa, tapi kini bisa dipandang orang karena jasa dari keluarga lelaki yang kini telah dijodohkan itu dengan aku," jelas Cindy.
"Apa kamu pernah bertemu dengan lelaki itu?" tanya pria tersebut tersebut.
Cindy terlihat menggelengkan kepalanya, tentu saja dia belum pernah bertemu dengan lelaki tersebut. Karena selama ini Cindy hanya sibuk membantu mengurusi perusahaan ayahnya.
"Bagaimana kalau lelaki yang dijodohkan dengan kamu itu lelaki cacat atau bahkan lelaki yang buruk rupa?" tanya lelaki tersebut.
Cindy terdiam, lalu Cindy menatap wajah lelaki tersebut dengan Intens.
"Aku tidak peduli, mau dia jelek atau bagaimanapun. Karena ini sebagai bentuk balas jasa karena keluarga lelaki tersebut sudah sangat baik membantu kehidupan kami, sehingga kami bisa menjadi seperti sekarang ini," ucap Cindy menerangkan.
"Lalu, Kenapa dulu kamu menerima diriku Kalau kenyataannya kamu akan dijodohkan?" tanya lelaki tersebut.
"Aku tidak tahu kalau ternyata aku sudah dijodohkan, maaf..." ucap Cindy penuh rasa sesal.
"Terserah apapun katamu, namun satu hal yang harus kamu ingat. Aku tidak akan pernah merelakan dirimu jatuh ke pelukan lelaki lain," ucap pria tersebut.
Namun, Kenapa juga dia harus memikirkan orang lain, pikirnya. Lagi pula sendirinya juga sedang pusing memikirkan masalah perjodohan dirinya.
Tentunya yang membuat Leo sebal, sebentar lagi wanita yang dijodohkan dengan dia pun akan dia temui. Leo pun memilih bangun dan segera memesan es duren yang dipesan oleh Adam, setelah membeli 4 porsi es duren Leo pun kembali ke perusahaan BAC Corp .
Tentu saja tujuannya selain memberikan pesanan Adam, dia juga harus kembali bekerja di sana. Sampai di kantor Leo langsung berjalan menuju ruangan Adam, tak lupa sebelum masuk Leo pun mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam.
Leo pun langsung mendorong pintu ruangan Adam dengan perlahan, "ini, Tuan. Saya sudah membelikan es Duren pesanan anda."
Leo segera menyerahkan es Duren tersebut kepada Adam, tentunya dia juga menyerahkan es Duren tersebut kepada Tuan Arley.
"Terima kasih," ucap Adam.
"Sama-sama," jawab Leo.
Setelah memberikan dua porsi es Durian kepada Tuan Arley dan juga Adam, Leo pun kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
Saat dia masuk ke dalam ruangan tersebut, Gracia nampak sedang bergulat dengan pekerjaannya. Leo pun langsung duduk tepat di depan Gracia dan menyodorkan satu porsi es Duren kepadanya.
"Sepertinya sangat enak," ucap Gracia.
Leo hanya terkekeh mendengar penuturan dari Gracia, kemudian dia pun membuka satu porsi es Duren miliknya dan menancapkan sedotan ke dalam Cup es Durennya.
"Segera minum," ucap Leo.
Gracia pun terlihat menganggukkan kepalanya, lalu dia membereskan berkas yang sedang dia kerjakan agar tidak terkena es Duren tersebut.
"Enak," ucapnya setelah es Duren tersebut membasahi tenggorokannya.
"Hem," kata Leo.
Setelah menikmati es Durennya, baik Leo atau pun Gracia nampal kembali bekerja, mereka terlihat sangat serius. Bahkan, tak ada obrolan sama sekali antara Leo dan Gracia.
Hingga tanpa terasa sore pun menjelang, dengan langkah gontai Leo melajukan mobilnya ke Caffe tempat dia akan bertemu dengan wanita yang dijodohkan dengan dirinya.
Leo terlihat menarik nafas berat beberapa kali, rasanya dia masih tak rela jika harus dijodohkan di jaman modern seperti ini.
"Mom, benar-benar keterlaluan. Aku ini tampan, banyak wanita yang mau denganku. Kenapa pula harus dijodohkan?" keluh Leo.
Dua puluh menit kemudian, Leo pun sampai di Caffe yang dia tuju. Leo nampak memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobilnya tersebut, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang khusus yang sudah dipesan oleh Mom Maura.
Seorang pelayan nampak menghampiri Leo, lalu dia pun bertanya kepada Leo. "Maaf, Tuan. Apakah anda sudah mesan tempat?"
"Sudah, atas nama Leo." Leo langsung mengedarkan pandangannya, berharap tak ada kekasihnya di sana.
"Ah, di ruangan no. 5, Tuan," jawab pelayan itu sopan.
"Terima kasih," ucao Leo.
Leo lalu melangkahkan kakinya menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh pelayan tersebut, lalu Leo pun mendorong pelan pintu ruangan tersebut.
Alangkah kagetnya Leo, saat dia melihat seorang wanita yang dia kenali tengah duduk di ruangan tersebut.
"Kamu?"