
Suasana di ruangan Mahendra terlihat canggung, baik Mahendra ataupun Gracia hanya saling diam, walaupun mereka berdua duduk saling berhadapan.
Mahendra terlihat sibuk dengan berkas di tangannya, sedangkan tangan Gracia terlihat sibuk berselancar di atas keyboard
sesekali Gracia terlihat mencuri pandang kearah Mahendra, lalu dia pun terlihat membasahi bibirnya. Sedangkan Mahendra yang terlihat berwajah datar seperti biasanya.
Padahal belum lama Mahendra terlihat bersikap sangat hangat dan juga manis, namun sekarang Mahendra seakan kembali kepada wujud aslinya, datar dan dingin.
'Ya Tuhan, apakah tadi yang menciumku benar-benar Tuan Mahendra? Atau mungkin tadi dia sedang kesurupan?' tanya Gracia dalam hatinya.
Gracia kembali menatap layar laptopnya, kemudian dia pun mengerjakan tugasnya. Saat sedang asyik berkutat dengan pekerjaannya, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangannya.
Gracia pun dengan sigap langsung bangun dan membukakan pintu ruangan tersebut, nampaklah Sisil yang sedang tersenyum sambil memegangi perut besarnya.
"Maaf mengganggu, apa aku boleh masuk ke dalam ruanganmu?" tanya Sisil.
"Tentu saja boleh, Nyonya," jawab Gracia.
"Terima kasih, aku bosan menunggu suamiku di ruangan kerjanya. Karena dia sekarang sedang meeting," ucap Sisil seraya duduk di sofa tunggu.
Gracia tersenyum, lalu dia pun langsung duduk tepat di hadapan Sisil.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Gracia.
Mendengar pertanyaan dari Gracia, Sisil pun nampak memalingkan wajahnya ke arah Mahendra. Lalu, dia pun berkata.
"Kak Mahendra, bolehkah aku berbicara sebentar dengan Gracia? Aku butuh teman ngobrol," ucap Sisil.
Mahendra yang merasa namanya dipanggil pun langsung menghentikan pekerjaannya, lalu dia membalas tatapan mata Sisil.
"Tentu saja boleh," jawab Mahendra seraya tersenyum hangat.
'Ya Tuhan, kenapa dia manis sekali? Dari tadi dia hanya diam saja, bersikap dingin seperti biasanya. Tapi kepada Nyonya Sisil kenapa dia bisa tersenyum manis seperti itu?' tanya Gracia dalam hatinya.
"Terima kasih," jawab Sisil.
"Sama-sama," jawab Mahendra.
Setelah mengucapkan hal itu, Mahendra pun kembali mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan Sisil langsung tersenyum dan mengajak Gracia untuk mengobrol.
Sebenarnya lebih banyak Sisil yang berbicara ketimbang Gracia, Gracia hanya mengangguk, menggelengkan kepalanya, lalu berkata iya ataupun tidak.
Terkadang Gracia terlihat merespon dengan senyuman saja, rasanya dia tak enak hati kalau harus terlalu akrab dengan istri dari atasannya tersebut.
Saat sedang asyik berbicara dengan Gracia, tiba-tiba saja Sisil merasakan kontraksi. Dia langsung mengelus perutnya dengan lembut seraya meringis menahan sakit.
Melihat apa yang dilakukan oleh Sisil membuat Gracia langsung panik, dia segera menghampiri Sisil dan duduk tepat di sampingnya.
Lalu, dia pun mengelus lembut punggung istri dari atasannya tersebut.
"Nyonya kenapa?" tanya Gracia.
"Sakit, perut aku sakit banget. Sepertinya aku sudah mau melahirkan," kata Sisil.
Gracia dan juga Mahendra terlihat panik, Mahendra yang sedang mengerjakan pekerjaannya pun langsung bangun dan menghampiri Sisil.
"Tolong bantu aku," pinta Sisil.
"Baiklah," kata Mahendra.
Mahendra pun dengan sigap menggendong Sisil yang terlihat meringis menahan sakit, kemudian dia pun meminta Gracia untuk segera ke ruang meeting.
"Pergilah ke ruang meeting, bilang kepada tuan Adam, jika Nyonya Sisil akan melahirkan. Aku akan pergi ke Rumah Sakit terlebih dahulu," kata Mahendra.
"Baik, Tuan," jawab Gracia.
Setelah berkata demikian kepada Gracia, Mahendra pun langsung berlari seraya membawa tubuh Sisil.
Sampai di depan loby perusahaan, dia meminta security untuk membawakan mobil miliknya. Saat mobil milik Mahendra tiba, dia nampak mendudukkan Sisil di kursi samping kemudi.
Kemudian, dia pun dengan cepat masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut menuju Rumah Sakit terdekat.
Dalam hatinya, Mahendra benar-benar sangat panik dan juga takut. Namun, sebisa mungkin dia bersikap tenang dan wajar. Karena dia takut jika dia panik, maka Sisil pun akan lebih paniik lagi.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Sisil terlihat terus saja meringis kesakitan. Terkadang dia terlihat mencengkram kuat lengan Mahendra, saat dia merasakan kontraksi hebat.
'Sabar, Nyonya. Sebentar lagi kita akan tiba di Rumah Sakit," kata Mahendra.
Sisil tak mampu menjawab dengan kata-kata, dia hanya bisa menganggukan kepalanya.
Sampai di depan Rumah Sakit, Mahendra langsung menggendong Sisil menuju ruang persalinan. Dengan sigap dokter yang ada di sana pun langsung memeriksa kondisi Sisil.
"Saya permisi," kata Mahendra ketika melihat Dokter mulai membuka kain penutup bagian bawah milik Sisil.
"Apa Tuan tidak ingin menunggui istrinya melahirkan?" tanya Dokter perempuan itu.
"Maaf, Dok. Saya hanya bawahan dari suami Nyonya Sisil," kata Mahendra.
"Maaf kalau begitu," ucap Dokter tak enak hati.
"Tidak apa," jawab Mahendra.
Setelah berkata seperti itu, Mahendra nampak keluar dari ruang bersalin. Tak lama kemudian Adam nampak masuk dengan napas tersenggal.
Dia menghampiri Sisil dan langsung mengecupi setiap inci wajah istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Adam.
"Sudah siap untuk melahirkan, saya minta anda membantu memberikan semangat pada istri anda," ucap Dokter.
"I--iya, Dok," jawab Adam.
Adam terlihat menggenggam erat tangan Sisil, lalu dia pun membisikkan kata-kata cinta di telinga istrinya.
"Semangat, Sayang. Kamu pasti bisa, aku sayang kamu. Berjuanglah, demi anak kita," pinta Adam.
Sisil tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.