
Setelah perbincangan singkat antara Adam dan Laila, Adam pun memutuskan untuk beristirahat. Dia begitu lelah, karena di Bali benar-benar tak bisa istirahat dengan benar.
Jika malam tiba mereka akan bergumul di bawah selimut, mencari titik kenikmatan yang selalu membuat mereka candu.
Adam hanya menggunakan waktu dua jam saja untuk tidurnya, karena jika siang tiba mereka akan berjalan-jalan mengelilingi kota Bali dan berkunjung ke tempat wisata.
Tentunya mereka juga berkeliling untuk mencari jajanan kuliner yang enak dan mencari minuman yang dirasa menyegarkan.
Jika masih ada sisa waktu, pasti akan mereka habiskan untuk kembali mencari titik kepuasan yang membuat mereka ingin dan ingin lagi.
Saat masuk ke dalam kamarnya, Adam melihat Sisil yang sudah terlelap dalam tidurnya. Sisil terlihat begitu lelah, bahkan dia tak sempat mengganti bajunya.
Sisil terlihat begitu cantik dan seksi, dress yang dia pakai terlihat tersingkap. Sampai memperlihatkan paha mulusnya, hal itu membuat Adam menelan salivanya dengan susah.
Karena hasrat Adam langsung terasa membara, hastagnya seakan terbakar dan tiba-tiba saja celananya terasa sesak.
Adam langsung mengunci pintu, berjalan menuju tempat tidur dan merangkak menaiki tempat tidurnya, lalu dia menarik Sisil ke dalam pelukannya.
Adam memeluk Sisil seperti bantal guling, sesekali bibirnya mengecupi puncak kepala istrinya. Rasa kantuk yang tadi menguasai entah menguap kemana, yang ada kini Adam malah menginginkan Sisil.
"Sayang," bisik Adam tepat di telinga Sisil.
Rasanya dia sudah tak sabar ingin bergulung dalam lembah kenikmatan, yang selalu membuatnya seakan tak menjejak bumi. Terbang melayang entah ke alam yang mana.
"Hem," hanya jawaban itu yang keluar dari bibir Sisil.
Walaupun bibirnya seakan menjawab, namun Sisil masih setia dalam tidurnya. Matanya masih setia terpejam, mungkin karena rasa lelah yang mendera.
"Sayang," kembali Adam memanggil istri tercintanya.
Dia berusaha menggoda Sisil dengan menggigit cuping telinga istrinya, bibirnya bahkan kini sudah mulai turun menyusuri garis leher istrinya.
Namun tetap saja Sisil begitu setia dalam lelapnya, Adam yang kesal pun langsung mensejajarkan wajahnya dengan dua benda yang sudan menjadi favoritnya. Bahkan boleh dikatakan seakan menjadi candu untuknya.
Perlahan namun pasti Adam langsung membuka resleting bagian belakang milik istrinya, lalu menurunkan dress bagian depan.
Hal itu membuat benda yang Adam cari menyembul dari pengamannya, membuat mata Adam berbinar senang.
"Maaf ya, Sayang. Mas haus," kata Adam sebelum melanjutkan aksinya.
Tanpa aba-aba Adam langsung menyesap puncak dada istrinya, hal itu membuat Sisil merasakan kaget, geli dan juga nikmat dalam waktu yang bersamaan.
"Mas!" pekik Sisil.
Dia sangat kaget kala matanya terbuka, yang pertama dia lihat adalah keisengan suaminya. Melihat istrinya terbangun, Adam malah meremat bokong istrinya.
Dia berusaha untuk mencari titik kelemahan istrinya, Adam menginginkannya dan dia harap Sisil mau dia ajak bermain kuda-kudaan saat ini.
Sayangnya, Sisil berada dalam mode lelah. Dia sedang tak ingin bermain apa pun saat ini, dia hanya ingin tidur. Apa lagi jika mengingat besok Adam sudah mulai bekerja, dia pun tak ingin mebuat suaminya itu kelelahan.
"Mas!" Sisil mendorong wajah Adam, membuat Adam langsung berdecak.
"Kenapa?" tanya Adam dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Besok Mas sudah mulai bekerja, sekarang kamu istirahat. Aku ngga mau besok kamu malah tidur di kantor, bisa-bisa aku diomelin sama Grandpa." Sisil bangun lalu membenarkan dressnya yang sudah terlihat acak-acakan.
"Yang, Mas mau itu." Adam menunjuk dada istrinya dengan ekor matanya, Sisil hanya bisa berdecak.
"Mas, harus istirahat. Besok biar seger," kata Sisil.
Adam hanya bisa menggerutu dalam hati, bisa-bisanya istrinya berkata jika dia harus istirahat. Padahal dia begitu menginginkan istrinya, dia menjadi sangat kesal, jika mengingat Sisil yang tidak tahu tempat dan tidak tahu waktu saat mengajak dirinya.
Jika dia memang sudah menginginkannya, maka harus dilakukan. Akan tetapi saat ini Adam begitu menginginkannya, namun Sisil seolah tidak mau melayaninya.
Padahal saat Sisil memintanya, Adam selalu berusaha untuk memenuhi keinginan istrinya itu. Walaupun Adam merasa sangat lelah dan merasa jika rasa kantuk begitu menderanya.
Tanpa banyak bicara, Adam langsung bangun dan dia pun langsung meninggalkan Sisil di dalam kamarnya. Dia takut akan berbicara kasar atau berbicara asal, jadi lebih baik dia pun menghindar.
Sisil terlihat kecewa saat melihat Adam yang pergi begitu saja, dia hanya berniat untuk tidak mengganggu waktu istirahat suaminya.
Karena selama di Bali, mereka selalu melakukannya siang dan malam. Sisil hanya takut jika Adam akan merasa kelelahan, karena besok dia sudah mulai melakukan rutinitas kerjanya.
"Mas Adam pasti marah," ucap Sisil lirih.
Sisil langsung beringsut dari tempat tidurnya, dia turun dan segera ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Rasa kantuk masih dia rasakan, mungkin dengan mencuci muka akan terasa lebih segar, pikirnya.
Benar saja, Sisil merasa lebih segar setelah mencuci mukanya. Kemudian dia keluar dari dalam kamarnya dan Sisil pun mencari Adam.
Sisil menyusuri rumah Arkana yang begitu besar, namun sayangnya dia tak menemukan Adam di mana pun. Sisil pun menjadi takut, karena Sisil baru kali ini melihat kekecewaan di wajah Adam.
"Kamu ngapain, Sayang?" tanya Laila.
"Eh, lagi cari Mas Adam, Bu." Sisil langsung menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Bukannya tadi dia masuk ke dalam kamar, ya?" tanya Laila.
"Iya, Bu. Tapi dia keluar lagi, aku ngga tahu dia kemana." Sisil langsung menundukan kepalanya, dia benar-benar merasa sangat bersalah.
"Tunggu saja di kamar, mungkin dia sedang mencari angin di luar." Laila berlalu dari hadapan Sisil, dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sisil menjadi resah, dengan cepat dia masuk ke dalam kamarnya. Dia mencari ponselnya, lalu dengan cepat menekan tombol panggil saat mendapatkan nomor My Husband di ponselnya.
Sayangnya, Adam tak jua mengangkat panggilan telpon darinya. Sisil pun berusaha menelpon Adam terus menerus, sayangnya Adam tetap tak mengangkatnya.
Sisil hanya bisa menangis, dia merasa jika Ada mungkin sangat marah padanya.
"Mas, maafin Sisil. Sisil tak bermaksud menolak Mas, hanya saja Sisil takut Mas akan kecapean." Sisil menyusut air matanya yang tiba-tiba saja mengalir dengan deras.
+
+
+
Selamat sore, terima kasih untuk yang sudah ngasih Vote, like koment dan juga Hadiahnya. Tanpamu apalah artinya aku, i Love you all.
Jangan lupa mampir juga di karya Othor yang lainnya ya, buat yang belum pernah mampir. Buat yang sudah, terima kasih banyak.