
Usia kehamilan Sisil sudah memasuki bulan kesembilan, dia sudah terlihat kesusahan saat berjalan. Namun, dia selalu menyempatkan diri untuk melakukan aktivitas.
Karena dia ingin sekali melahirkan secara normal, sayangnya Sisil memang tidak bisa mengontrol pola makannya.
Bahkan tubuh Sisil yang mungil kini terlihat bulat, karena berat badannya kini sudah mencapai angka tujuh puluh lima kilo.
Padahal tinggi badannya saja hanya seratus lima puluh senti, seharusnya berat badan idealnya hanya empat puluh lima kilo saja.
"Adam," panggil Laila.
"Ya, Bunda." Adam terlihat menghentikan kunyahannya.
"Ini hari sabtu, Sayang. Ajaklah Sisil ke taman untuk berolah raga," kata Laila.
"Ya, Bun. Selepas sarapan aku akan mengajak istriku untuk pergi," jawab Adam.
Sisil yang sedang sibuk mengunyah makanannya, hanya bisa memperhatikan obrolan antara suami dan mertuanya tersebut.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Adam, selesai sarapan Adam langsung mengajak Sisil untuk pergi ke taman.
Awalnya Adam ingin sekali membonceng Sisil memakai sepeda menuju taman, itung-itung mengenang masa pacaran dia dulu bersama dengan Sisil, pikirnya. Namun mengingat berat badan Sisil yang bertambah, Adam pun mengurungkan niatnya.
Dia mengajak Sisil pergi ke taman menggunakan mobil, setibanya di taman barulah Adam mengajak Sisil untuk berjalan santai mengelilingi taman.
Sisil menurut, mereka berjalan santai sambil mengobrol. Tak lama kemudian, Sisil nampak berhenti, Adam pun ikut berhenti.
"Ada apa?" tanya Ada.
"Coba deh Mas perhatiin orang itu," kata Sisil seraya menunjuk seorang pria yang tak jauh dari mereka.
"Orang yang mana?" tanya Adam.
"Yang itu, Mas. Yang pakai training item, hoodie item, topi item, terus maskernya juga item." Sisil terlihat menunjuk seorang pria yang sedang melakukan lari pagi dengan memakai pakaian serba hitam.
"Kenapa? Apak kamu mencurigainya?" tanya Adam.
Sisil menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu menunjuk orang itu?" tanya Adam.
"Aku seperti mengenalnya, tapi siapa ya, Mas?" tanya Sisil.
"Entah, tapi kalau dilihat dari pakaian yang dia pakai, dia sepertinya orang ada. Soalnya baju yang dipakainya, baju bermerek semua," kata Adam.
Tak lama kemudian, pria yang berpakaian serba hitam tersebut terlihat membagikan uang pecahan Rp50.000-an dari saku hoodienya.
Dia nampak memberikan uang tersebut kepada para pedagang asongan dan juga kepada anak-anak kecil yang terlihat kurang mampu.
Sisil tersenyum, dia jadi teringat akan dirinya yang sering membagikan kue. Dia selalu membuat kue lebih banyak di hari minggu.
Tujuannya agar bisa berbagi dengan orang yang kurang mampu, tentunya sebelum dia menikah dengan Adam.
Sisil sempat beradu pandang dengan pria yang berpakaian serba hitam tersebut, lalu Sisil pun tersenyum.
"Kenapa tersenyum?" tanya Adam.
"Sepertinya aku tahu dia siapa, Mas," ucap Sisil.
"Siapa?" tanya Adam.
Adam terlihat memicingkan matanya, lalu kemudian dia berkata.
"Mahendra, kah? tanya Adam.
"He' em, jawab Sisil.
Sisil nampak ingin membuktikan ucapannya, dia pun bangun dan hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri pria yang diduga Mahendra.
Sayangnya pria itu terlihat berjalan dengan cepat dan tak lama kemudian, pria itu pun tak terlihat di matanya.
"Ah, dia benar-benar menyebalkan!" ucap Sisil.
"Sudah, jangan kesel seperti itu. Mending kita lanjut lagi olah raga paginya," kata Adam.
"Iya, Mas." Sisil menurut.
Sisil dan Adam pun kembali melanjutkan acara olah raga paginya, sedangkan pria yang berpakaian serba hitam itu nampak pergi keluar dari taman dengan tergesa.
Dia seperti tidak ingin bertemu dengan Adam dan juga Sisil, maka dari itu dia memeprcepat langkahnya. Hingga Akhirnya.
Brugh!
"Aduh, sakit!" rengek seorang wanita yang tertabrak oleh lelaki berpakaian serba hitam itu.
Ternyata dia menabrak seorang perempuan muda yang tak lain adalah Gracia, dia jatuh tersungkur sampai kedua lutut dan kedua telapak tangannya berdarah.
Gracia yang hendak menikmati udara pagi hari di taman, kini harus merasakan sakit karena pria itu. Dengan cepat pria itu pun membangunkan Gracia, lalu mengajaknya untuk duduk di sebuah bangku yang ada di pinggir jalan.
"Tunggu sebentar," ucapnya.
Setelah mengatakan hal itu, pria itu nampak berlari. Tak lama kemudian, dia datang dengan membawa sebotol air mineral, tisu dan kotak P3K.
"Biar aku bersihkan lukanya," ucapnya.
Gracia hanya terdiam sambil menahan rasa sakit di kedua lutut dan kedua telapak tangannya.
Pria itu dengan telaten membersihkan luka di telapak tangan dan lutut Gracia dengan alkohol, setelah itu dia pun memakaikan salep luka.
"Aduh, sakit!" Gracia terlihat meringis menahan tangis.
"Sudah, lukanya sudah diobati. Lain kali jangan suka memakai pakaian terbuka seperti itu," kata pria itu.
Gracia terlihat memindai penampilannya, dia memakai celana hot pants berwarna biru dipadupadankan dengan kaos pendek berwarna putih.
Dia pun jadi berpikir, kalau dia memakai celana panjang mungkin dia tidak akan terluka walaupun jatuh.
Namun beberapa saat kemudian, dia nampak melayangkan protesnya.
"Ish! Suka-suka aku dong, mau pakai baju apa kek! Lagian kalau kamu ngga jalan tergesa kaya tadi, kamu ngga mungkin nabrak aku. Kalau aku ngga kamu tabrak, aku ngga bakalan bungsrut kaya gini!" kesal Gracia.
"Ya, terserah. Sekarang pulanglah," ucapnya seraya membawa kotak P3K miliknya dan pergi dari sana.
"Ish, dasar cowok gila. Minta maaf kek," kesal Gracia seraya menghentakkan kakinya.
"Aww! Lupa kalau lututnya sakit," keluhnya.