
Hari yang ditunggu pun telah tiba, pagi-pagi sekali Adam dan Sisil sudah bersiap. Tentu saja mereka hari ini akan berangkat ke Bali sesuai dengan keinginan Sisil, berbulan madu di pulau dewata.
Tuan Arley bahkan membebaskan Adam untuk berbulan madu selama satu minggu, Al merengek ingin ikut pergi ke Bali.
Akan tetapi, Laila beralasan jika Al sedang mengikuti mata pelajaran. Tidak mungkin dia harus bolos hanya demi liburan, Al terlihat memberengut kesal.
Akan tetapi, setelah diberi rayuan maut oleh Tuan Arley, Al pun akhirnya luluh. Entah apa yang di bisikan oleh Tuan Arley sehingga Al tak lagi ingin pergi ke Bali.
Malahan matanya terlihat berbinar, dia benar-benar terlihat senang. Sepertinya dia mendapatkan hal yang sudah dia dambakan.
Sebelum Adam pergi ke Bali dengan Sisil, Tuan Arley mengajak Adam untuk berbicara di taman belakang. Adam pun menurut, kini mereka berdua sedang duduk di bangku yang sama.
"Ada apa, Grandpa?" tanya Adam.
Tuan Arley terlihat merogoh sakunya, kemudian dia menyerahkan sebuah botol kecil berisi 10 pil ke tangan Adam.
Adam nampak mengernyit heran dengan apa yang diberikan oleh Grandpanya, sebenarnya benda apakah itu? Kenapa terlihat seperti obat?
Namun, Adam merasa tidak sedang sakit. Dia merasa jika dirinya sedang baik-baik saja. Kenapa dia harus mendapatkan obat dari Tuan Arley?
"Jangan bingung seperti itu, Grandpa sengaja memberikan ini untukmu. Ini obat penambah stamina, minumlah 1 hari atau pil untuk menjaga kebugaran tubuhmu." Adam pun menerima botol kecil berisi obat penambahan stamina tersebut.
"Kenapa Grandpa memberikan ini padaku?" tanya Adam.
Tuan Arley memandang lekat wajah Adam, kemudian dia pun langsung tersenyum.
"Selama ini Grandpa sudah menemui banyak wanita dengan banyak tipenya, Grandpa bisa melihat jika istrimu mempunyai gairah sexx yang tinggi. Kamu harus minum obat penambah stamina, agar kondisi tubuh kamu tidak drop. Tidak lucu bukan, jika pengantin baru ambruk karena kewalahan menggauli istrinya?" Tuan Arley langsung terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
Adam terlihat meringis, mendengar ucapan Tuan Arley. Grandpa'nya memang benar-benar mantan Casanova, pikirnya. Wajah jika dia tahu betul tentang makhluk yang bernama wanita.
"Tank's, Grandpa." Kata Adam.
"Sama-sama, Boy. Semoga kalian cepat diberi momongan," do'a tulus Tuan Arley.
"Aamiin..." Jawab Adam.
Setelah melakukan perjalanan selama 1 jam 50 menit, akhirnya Adam dan Sisil pun sampai dengan selamat di Bali. Saat sampai di Bali, Sisil langsung berdecak senang.
Karena ternyata, Tuan Arley sudah menyewa sebuah Villa untuk tempat mereka tinggal selama seminggu. Bahkan yang membuat Sisil senang, kamar Sisil dan juga Adam terlihat sangat mewah.
Saat Sisil membuka jendelanya, pemandangan indah langsung tersuguhkan. Sisil langsung bisa melihat hamparan air yang luas, jika di lihat dari sana terlihat begitu indah dan menyejukkan mata.
Sisil benar-benar tidak salah jika mengatakan dia ingin ke Bali, karena suasananya benar-benar sesuai dengan impian Sisil.
Berbeda dengan Adam, dia langsung merebahkan tubuh lelahnya. Dia memejamkan matanya karena ingin beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaganya. Sedangkan Sisil terlihat berjalan-jalan mengelilingi Villa tersebut.
Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari Adam, Sisil langsung pergi ke pinggir pantai. Dia begitu menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, kakinya pun dia rendam di air yang terasa dingin.
Panasnya Matahari pun terasa tidak ada artinya, Karena semilir angin yang berhembus dengan kencang dan juga karena kakinya yang terendam air.
Awalnya Sisil ingin sekali mengajak Adam untuk berjalan-jalan namun Sisil pun sadar jika sudah 2 hari ini Sisil memaksakan kehendaknya kepada Adam.
Dia pun merasa tak tega untuk membangunkan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Akhirnya dia pun memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri, tentunya ada seorang penjaga yang dengan setia mengikuti Sisil kemanapun.
Karena itu tentunya sudah perintah dari Tuan Arley yang tidak akan bisa dibantah. Sisil terlihat begitu lincah berjalan ke sana-kemari, dia begitu senang bisa melihat hamparan air yang begitu luas. Seakan tiada awal dan akhirnya.
"Hai, selamat siang." Sapa seorang pria tampan yang sepertinya berkebangsaan asing.
"Selamat siang, Tuan." Jawab sapa Sisil.
"Wanita cantik tak baik berjalan sendiri tanpa ada yang mendampingi," tukasnya.
"Siapa sih nih orang? Sok kenal banget, ganteng sih. Sayangnya terlihat nyebelin," keluh Sisil dalam hati.
Sisil mendongakkan kepalanya, dia menatap wajah pria jangkung yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Pria itu menatap Sisil dengan tatapan penuh harap, dia seolah ingin mengenal Sisil lebih dekat.
"Maaf, saya tidak sedang sendiri." Kata Sisil.
Bodyguard yang sedari tadi menjaga Sisil pun langsung menghampirinya, dia merasa tak nyaman saat Nona mudanya ada yang mendekati.
"Maaf Nona, sudah waktunya Nona kembali." Sisil pun menganggukkan kepalanya.
Tanpa menoleh ke arah pria tersebut, Sisil langsung pergi menuju Villa tempat dia akan tinggal selama satu minggu dengan Adam.
Pria jangkung nan tampan itu hanya tersenyum kecut sambil terus menatap Sisil yang semakin menjauh.
Saat masuk ke dalam kamar, Adam masih terlihat pulas dengan tidurnya. Terlihat dengan jelas gurat lelah di wajahnya, Sisil jadi merasa bersalah padanya.
Karena dia begitu tak bisa menahan hasratnya, dan Sisil pun mulai berpikir. Sepertinya dia harus mempunyai kesibukan setelah pulang bulan. madu nanti.
Agar dia bisa melupakan keinginannya untuk terus bercinta dengan suaminya itu, entah kenapa setiap mengingat Adam dalam keadaan tanpa busana membuat pikiran Sisil berselancar entah kemana. Membuat miliknya terasa berdenyut dan ingin segera dimasuki.
Seperti saat ini, hanya dengan melihat Adam tertidur membuat pikiran Sisil menggila. Rasanya dia ingin. segera menaiki tubuh Adam dan segera memimpin permainan.
Bersyukur pikiran warasnya masih berpungsi, dia menggelengkan kepalanya. Berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran liar dari otaknya.
"Mending aku ke dapur aja, lagian Sesikit pagi waktu makan siang, mending masak. Nyari kesibukan, biar ngga mikirin mulu pisang yang terlihat begitu menggoda." Gumam Sisil.
Sisi langsung melangkahkan kakinya menuju dapur, di sana dia melihat bahan-bahan yang berada di dalam lemari pendingin.
Ternyata di sana isinya benar-benar komplit, apa pun tersedia. Dari mulai sayuran ikan, ayam, daging dan juga buah-buahan.
Sisil pun langsung mengeluarkan bahan-bahan untuk segera memasak, saat Sisil hendak memotong sayuran tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang menghampirinya.
"Selamat siang, Nona muda. Kenapa anda malah berkutat di dapur?"tanya wanita paruh baya tersebut.
"Saya hendak masak, Bi. Biar makan siang nanti, Mas Adam makan masakan saya aja." Jawab Sisil.
"Biar saya aja, Nona. Nona pasti capek," Tawar Bibi.
" Enggak usah, biar saya saja." Jawab Sisil.