
Hari sudah sore, Adam masih ingin menemani Eliza di Rumah Sakit. Tetapi, Laila bukannya tak mengijinkan karena memang, anak kecil tak boleh terlalu lama berada di Rumah Sakit.
Adisha pun sama, dia masih ingin berlama-lama di Rumah Sakit. Tapi, karena Adisha sedang hamil muda, Tuan Arley tak mengizinkan.
Dengan wajah yang di tekuk, Adisha langsung berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang, kamu cepet sembuh. Nanti, kalau kamu sembuh, Kita shoping bareng." Adisha berucap sambil mengelus lembut tangan Eliza.
"Oke, Tan. Terima kasih sudah sempetin waktu buat jenguk," ucap Eliza.
Melihat Nini'Nya berpamitan, Adam' pun langsung menghampiri Eliza.
"Aunty, Adam, harus pulang. Ini bunga untuk Aunty, sebagai pengganti Adam yang akan menemani Aunty dengan setia." Adam memberikan sebuket bunga pada Eliza.
"Terimakasih, Tampan." ucap Eliza.
Dengan senang hati ,Eliza, langsung menerima bunga dari Adam. Lalu, dia pun meminta Devano untuk menyimpan bunga tersebut.
"Mas, tolong simpan bunga' nya di atas nakas." ucap Eliza.
"Iya, Sayang." ucap Devano.
Begitupun dengan Arkana, Laila dan juga Tuan Arley, mereka semua berpamitan kepada Eliza dan juga Devano. Karena hari, memang sudah sore.
Devano dan Eliza pun mengucapkan banyak terima kasih, karena mereka sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk Eliza.
*/*
Seminggu pasca operasi, Eliza sudah di perbolehkan pulang. Devano, pun dengan semangat langsung mengajak Eliza, untuk pulang ke rumahnya.
Devano sudah merasa tidak betah berada di Rumah Sakit, dia ingin beristirahat di dalam kamar kesayangannya.
Sampai di rumah, ternyata Nyonya Berlin dan juga Tuan Bram sudah ada di sana. Mereka menyambut kedatangan Eliza di sana, Nyonya Berlin malah sengaja memasak banyak makanan sehat untuk Eliza.
Eliza begitu senang, karena mempunyai orang tua yang sangat perhatian. Devano juga merasa bersyukur, karena kedua mertuanya benar-benar perhatian.
"Mamah, titip Eliza. Jaga anak Mamah baik-baik," pinta Nyonya Berlin.
"Iya, Mah. Devan pasti jaga Eliza dengan baik," ucap Devano.
"Kamu juga jaga kesehatan, jangan karena terlalu lelah menjaga istrimu, kamu malah jatuh sakit." Tuan Bram berpesan.
"Iya, Pah. Terima kasih karena kalian begitu perhatian terhadap kami." Devano berucap dengan tulus.
Setelah menitipkan Eliza pada Devano, Nyonya Berlin dan Tuan Bram pun memutuskan untuk pulang.
*/*
Malam pun telah tiba, Eliza merasa tidak bisa tidur karena kegerahan. Padahal kamar mereka memakai AC, tapi hawanya terasa panas.
Eliza ingin mandi, tapi, Devano tak mengizinkan. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Karena kasihan, akhirnya, Devano pun memutuskan untuk mengelap tubuh istrinya agar terasa lebih segar.
Saat Devano membuka baju Eliza, dia dengan susah payah menahan hasratnya. Apa lagi, saat tangannya mulai mengelap tubuh polos istrinya.
Devano merasa susah sekali untuk bernapas, kalau saja tak ingat akan kondisi istrinya, Devano pasti sudah menancapkan miliknya di dalam kelembutan milik istrinya.
Eliza yang melihat wajah Devano, berusaha untuk tidak tersenyum. Wajah Devano benar-benar terlihat memerah, terlihat sekali jika dia sedang berusaha untuk menahan hasratnya.
Selsai mengelap tubuh istrinya, Devano langsung memakaikan Eliza piyama panjang.
Dia tak mau jika harus tersiksa lebih lama lagi, sebenarnya, selama di rumah sakit, Eliza suka menonton video 'cara memuaskan suami tanpa berhubungan badan'.
Karena Eliza sadar, jika enam minggu bukan waktu yang singkat.
"Mas," panggil Eliza.
Eliza memanggil Devano dengan tatapan penuh cinta, dia begitu mencintai suaminya itu.
"Apa, Sayang?" tanya Devano.
Eliza memang bisa berjalan dengan normal, tapi untuk sekarang ini, dia ingin di manjakan oleh suaminya.
"Mau apa?" tanya Devano.
Devano merasa heran dengan permintaan istrinya, dia jadi merasa heran.
"Pokoknya anterin aku dulu, nanti Mas, juga tahu." Sahut Eliza seraya merentangkan kedua tangannya.
Devano langsung tersenyum, dengan perlahan Devano pun mengangkat tubuh istrinya. Dia membawa Eliza menuju kamar mandi. Setelah itu, Devano pun mendudukkan Eliza di atas closet.
"Kamu mau apa? Ada yang bisa, Mas, bantu?" tanya Devano.
Eliza nampak tersenyum, dan tanpa Devano duga. Eliza langsung menurunkan celana Devano, dia mengusap burung Devano yang masih tertutup oleh pembungkus' nya.
Devano tersentak kaget, "mau apa, kamu?" tanya Devano.
Tanpa banyak bicara, Eliza langsung mengeluarkan milik Devano yang terlihat sudah sangat siap tempur. Devano langsung mengerang, karena Eliza langsung mencengkram milik Devano dan memaju mundurkannya dengan tempo yang lambat, tapi membuat nikmat
Bahkan, Devano langsung berpegangan pada dinding kamar mandi. Karena Eliza, langsung mengulum milik Devano dengan kelembutan bibirnya.
Devano merasa benar-benar melayang dibuatnya, Dia bahkan bertanya-tanya dalam hatinya, sejak kapan, Eliza belajar akan hal itu?
"Ssh,,,Aaah,, Sayang... Ini, enak banget. Kamu kapan belajarnya?" tanya Devano dengan mata terpejam.
Devano, sangat suka dengan sensasi yang diciptakan oleh kelembutan mulut istrinya.
Eliza tak menjawab, dia hanya berusaha untuk memuaskan suaminya. Eliza ingin berusaha menjadi istri yang baik, Eliza tak mau kalau Devano sampai berpaling darinya.
Saking enaknya, Devano terus mengerang. Tanganya terus saja mengusap rambut Eliza yang nampak menutupi wajahnya.
Tak lama kemudian..
"Aduh.. " Devano langsung menarik miliknya yang langsung menyemburkan cairan Vanilla di wajah Eliza.
Eliza nampak mencebik kesal, karena wajahnya kini tengah kebanjiran.
"Mas!" kesal Eliza.
Eliza langsung memukul paha Devano, sedangkan Devanolangsung mengambil tisu basah dan berjongkok untuk mengelap wajah Eliza.
"Maaf, Sayang. Kamunya pinter banget Mas'nya sampe keenakan, jadinya kamu langsung kebanjiran." Devano mengusap wajah Eliza dengan lembut.
"Tapi, bau. Maunya cuci muka aja," ucap Eliza.
"Iya, Sayang. Iya," ucap Devano.
Devano langsung menuntun Eliza menuju wastafle, kemudian, Eliza pun langsung mencuci wajahnya. Saat Eliza mencuci wajahnya, Devano langsung memakai celananya kembali.
Setelah selsai, Devano langsung memeluk Eliza dari belakang. Devano menciumi leher jenjang istrinya, lalu mengecup pipinya dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang. Untuk yang tadi, kamu belajar di mana?" tanya Devano.
"Dari chanel Yuyu, Sayang." Eliza nampak mengelap. wajahnya dengan handuk.
Devano langsung menggendong Eliza dan merebahkan tubuh Eliza di atas kasur.
"Kamu nakal, tapi, Mas, suka. Nanti, Mas, mau lagi.." Devano langsung menunduk dan mencium bibir Eliza dengan lembut.
Eliza yang rindu pun, langsung membalas ciuman Devano yang selalu memabukan baginya.
Setelah puas berciuman dengan istrinya, Devano langsung mengusap bibir Eliza yang nampak basah karena ulahnya.
"Kamu cantik, Mas cinta banget sama kamu. Kalau ngga lagi masa puasa, Mas, pasti udah--"
"Suutt! Sini baring, peluk aku. Kita bobo, udah malem. Mas jangan mikirin mulu main kuda-kudaan," ucap Eliza.
Devano langsung terkekeh," hem. "