Who Is Adam?

Who Is Adam?
Di Mana Adam?



"Kalau lagi kesel Adam memang suka gitu, dia akan menyibukan dirinya dengan bekerja. Karena dia takut akan mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya," ucap Laila.


"Jadi ibu tahu Mas Adam kemana kalau lagi ngambek?" tanya Sisil.


Laila langsung menganggukkan kepalanya, tentu saja dia tahu kemana Adam pergi. Jika dia sedang marah, Adam akan pergi ke rumah pribadinya.


Dia akan menghabiskan waktu untuk bekerja, setelah emosinya terasa reda Adam pasti akan tidur dengan sangat pulas.


Itulah kebiasaan Adam dari kecil, Adam memang selalu terlihat kuat, Adam selalu terlihat tegar, Adam yang begitu genius dengan pemikirannya selalu berusaha untuk menjaga perasaan orang disekitarnya.


Namun, dia hanya manusia biasa yang terkadang merasa lemah. Dia butuh menenangkan diri, dia butuh merefreshkan otaknya yang tak pernah ada hentinya untuk menuangkan ide-ide cemerlang.


"Bu, jawab Sisil. Apa Ibu tahu di mana Mas Adam sekarang?" tanya Sisil prustasi.


Dia ingin segera menemui suaminya, dia ingin segera meminta maaf. Dia ingin segera memberikan apa yang suaminya inginkan, karena hanya itu saja yang bisa dia berikan.


Karena Sisil sangat tahu, jika Adam tak membutuhkan apa pun lagi darinya. Hanya Sisil tetap setia berada di sampingnya, dalam suka maupun duka.


"Adam ada di rumah pribadinya, kata Laila.


Sisi langsung mengernyitkan dahinya, setahunnya Adam cuma mempunyai apartemen dan rumah di Amerika. Lalu, apa kata Laila tadi? Adam kini berada di rumah pribadinya?


"Jadi, Mas Adam punya rumah juga di sini dan di Amerika?" tanya Sisil.


"Ya, Adam mempunyai beberapa rumah mewah dan juga masih banyak aset yang Adam miliki. Karena Adam memang sudah bekerja dari umur empat tahun," ucap jelas Laila.


Sisil baru tahu, ternyata Adam merupakan pria muda kaya raya dengan talenta yang luar biasa.


Adam memang bukan hanya genius, dia juga begitu pandai menginvestasikan uang yang dia punya. Adam mempunyai banyak perusahaan dan juga banyak aset berharga yang dia miliki.


"Jangan bingung seperti itu, Adam memang sangat suka berinvestasi. Dia banyak membeli tanah dan juga rumah di mana-mana.


"Tapi, Bu. Dia tidak pernah berbicara kepada Sisil tentang rumah pribadinya," adu Sisil.


"Mungkin belum sempat, karena kalian baru menikah. Adam mempunyai rumah impian sedari kecil, rumah itu sudah dia bangun dari kecil. Dia yang mendesain sendiri interior rumah tersebut, rumah itu benar-benar rumah impian Adam, "kata Laila.


"Benarkah?" tanya Sisil.


"Tentu saja, mana mungkin Ibu berbohong," kata Laila.


"Bisakah Ibu mengantarkan Sisil ke sana?" tanya Sisil.


"Maaf, bukannya Ibu tidak mau. Tetapi sebaiknya kamu pergi sendiri saja, minta diantar oleh Sopir. Ibu takut mengganggu kalian, karena sepertinya kalian membutuhkan waktu untuk bicara berdua," kata Laila.


"Baiklah," kata Sisil tertunduk lesu.


Selepas makan malam, akhirnya Sisil pun langsung berangkat menuju rumah pribadi Adam. Tentunya diantar oleh supir pribadi Arkana.


Sampai di depan rumah pribadi Adam, Sisil langsung membulatkan matanya. Karena ternyata rumah pribadi milik Adam, tiga kali lipat lebih besar daripada rumah Arkana.


Dia pun jadi bertanya-tanya, untuk apa ada mempunyai rumah yang begitu besar dan sangat luas? Bahkan halamannya saja terlihat sangat luas dan bisa dijadikan lapangan bola.


Karena penasaran, Sisil pun langsung bertanya pada Pak Sopir.


"Pak, kenapa rumah Mas Adam gede banget?" tanya Sisil.


"Tuan muda selalu berkata, jika dari kecil dia selalu kesepian. Dia ingin mempunyai keluarga yang banyak, dia ingin mempunyai rumah yang besar agar rumahnya terasa lebih ramai," jelas Pak Sopir.


Mendengar ucapan Pak Sopir, Sisil pun jadi bertanya-tanya. "Seperti apakah masalah kecil Mas Adam? Kenapa dia bisa merasa kesepian?"


"Ya sudah, Pak. Kalau begitu saya masuk ya," pamit Sisil.


"Ya, masuk saja, Nona. Biasanya Tuan Adam ada di ruang kerjanya, kalau sudah lelah dia akan tidur di kamar utama." Kata Pak supir seraya membuka pintu mobilnya, dia masuk dan melajukan mobilnya.


Selepas kepergian Pak Sopir, Sisil tersenyum pada Security yang berada di sana. Lalu dia pun segera masuk ke dalam rumah milik Adam, karena dia ingin segera menemui suaminya itu.


Saat Sisil masuk, di sana begitu banyak ruangan. Hal itu membuat Sisil pusing, karena dia tak tahu harus ke ruangan yang mana.


Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari letak dimana dapur berada. Benar saja keputusan yang Sisil ambil, karena di sana Sisil melihat ada seorang perempuan paruh baya yang sedang merapikan cucian. piring.


Sisil yang melihatnya langsung tersenyum, dia segera menemui perempuan itu dan menyapanya.


"Selamat malam, Bi," sapa Sisil.


"Eh, kodok loncat." Bibi terlihat mengangkat kedua tangannya dengan piring di tangan kanannya.


Sisil langsung terkekeh, karena dia merasa lucu melihat tingkah Bibi.


"Maaf, Nona siapa ya? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Bibi.


"Saya Istrinya, Mas Adam. Mas Adanya mana, Bi?" tanya Sisil.


"Ah, maaf, Nona. Saya tidak tahu kalau Nona istrinya Tuan Muda," jawab Bibi tertunduk.


"Tidak apa, Bi. Mas Adamnya mana?" tanya Sisil.


"Tuan muda sedang tidur di kamar utama," jawabnya.


"Bibi... bisakah mengantarkanku ke kamar utama?" tanya Sisil pagi.


"Ya... tentu saja, Nona." Bibi langsung mengelap tangannya yang terlihat basah, karena habis mencuci piring.


Setelah itu Bibi pun melangkahkan kakinya menunu kamar utama, Sisil dengan setia mengekori langkahnya.


Dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan suaminya, dia sudah tak sabar ingin meminta maaf kepada suaminya itu.


Tepat di depan kamar utama, Bibi berhenti dan dia pun mengatakan jika inilah kamar utama yang ada di rumah itu.


"Terima kasih, karena sudah mengantarkan Sisil," kata Sisil.


"Sama-sama, Nona muda. Kalau begitu Bibi pergi dulu," kata Bibi.


Sisil hanya menganggukan kepalanya, lalu setelah kepergian Bibi, Sisil langsung memutar handle pintu yang berada di depannya.


Ternyata keberuntungan seolah memihak padanya, karena Adam tak mengunci pintu kamarnya. Sisil nampak mendorong pintu kamar itu dengan perlahan.


"Masya Allah, kamarnya indah sekali." Sisil terlihat menganga kala melihat keindahan yang tersaji.


Suaminya itu ternyata benar-benar pandai dalam mendesain rumah, Sisil langsung mengedarkan pandangannya, Dia mencari sosok lelaki yang dirindukannya.


Senyum Sisil langsung mengembang, kala melihat Adam yang sedang tertidur dengan sangat pulas di atas ranjang.


Sisil langsung melangkahkan kakinya menuju ranjang King size milik Adam, lalu dia merangkak naik dan langsung memeluk Adam.


Sisil menyusupkan wajahnya ke dada bidang milik suaminya, dia hirup dalam-dalam aroma maskulin yang selalu membuatnya candu.