
"Kenapa belum pulang? Apa kamu belum sampai?" tanya Mommy Maura.
"Sudah, Mom. Tapi, ibunya temen aku lagi sakit. Jadi aku mengantarkannya dulu ke Rumah Sakit," jawab Leo.
"Oh, good. Sejak kapan kamu perduli terhadap orang lain? Biasanya kamu hanya perduli terhadap koleksi cewek-cewek kamu itu," ucap Mommy Maura.
"Ck, Mom!" pekik Leo.
"Mom tidak mau dengar lagi, sekarang kamu pulang. Karena ada yang Mom ingin bicarakan," ucap Mom Maura.
Mau tak mau Leo pun menurut, dengan berat hati dia pun menganggukkan kepalanya seakan Mom'nya melihat apa yang tengah dia lakukan.
"Yes, Mom." Setelah mendengar jawaban dari putranya, Mom Maura langsung memutuskan panggilannya.
Leo hanya bisa berdecak sebal, karena Mom'nya memang selalu semaunya, Gracia yang melihat kekesalan di wajah Leo langsung menghampirinya.
" Tuan, lebih baik anda pulang saja. Saya tidak enak hati dengan Mom'nya, Tuan," kata Gracia.
"Ya, seharusnya aku emang pulang sekarang juga," jawab Leo.
Leo langsung bangun dan meninggalkan Gracia, Gracia sempat bingung kenapa Leo meninggalkannya begitu saja.
Gracia langsung mengikuti langkah Leo dan ternyata langkah Leo berhenti tepat di depan ruang kasir, tanpa banyak bicara pada Gracia, Leo langsung membayar semua uang administrasi yang diperlukan oleh Ibunya Gracia.
Gracia merasa sangat senang dan juga tak enak hati, karena ternyata dibalik wajah Leo yang slengean dan terkadang mengeluarkan kata yang tak enak didengar, ternyata dia mempunyai hati yang sangat baik.
"Terima kasih, Tuan. Karena anda sudah peduli, nanti kalau saya sudah gajian pasti uangnya saya ganti," ucap Gracia.
"Tidak usah, tidak perlu kamu ganti juga," kata Leo.
Setelah mengucapkan hal itu Leo langsung meninggalkan Gracia yang masih berdiri dengan gunungnya, Gracia merasa bingung saat ini.
Namun, dia sudah bertekad jika gajian nanti pasti dia akan segera mengganti uang yang sudah Leo keluarkan.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih atas bantuanmu, engkau telah memberikan pertolongan lewat Tuan Leo," ucap Gracia lirih.
Sampai di parkiran, Leo langsung masuk ke dalam mobilnya dan Leo pun langsung melajukan mobilnya menuju kediamannya.
Pukul tujuh malam dia baru tiba di sana dan Leo langsung disambut oleh ocehan Mom Maura, namun Leo seolah tak peduli dia langsung tutup kuping dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Mom Maura hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan putra semata wayangnya. Sampai di dalam kamarnya, Leo langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Lelah?
Ya, itulah yang dia rasakan setelah pergi dari luar kota dan dia juga harus mengurus ibunya Gracia. Tentu saja dia sangat merasa lelah dan yang ingin dia lakukan saat ini adalah mandi dan langsung tidur.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Leo langsung merebahkan tubuhnya. Namun, baru saja Leo memejamkan matanya gangguan pun datang kembali.
Mom Maura tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya Leo, Mom Maura langsung duduk di samping Leo dan mengguncang bahu Leo dengan lembut.
"Leo, Sayang. Kamu belum makan, bangunlah dan makanlah dulu. Baru setelah itu kamu tidur," ucap Mom Maura penuh dengan nada perintah.
"Tapi, Mom. Aku sangat lelah," kata Leo.
Leo kembali memejamkan matanya, namun dengan sekuat tenaga Mom Maura membangunkan Leo. Dia ingin berbicara dengan putranya, dan harus malam ini juga, pikirnya.
"Leo, Sayang. Ayolah, Mom ingin bicara, Leo." Mom Maura berusaha untuk membangunkannya dan menuntun Leo agar keluar dari dalam kamarnya.
Leo pun pasrah, dia mengikuti Mom'nya. Dia berjalan menuju ruang makan, dan langsung duduk di salah satu kursi yang berada di sana.
Mom Maura pun langsung duduk tepat di samping Leo, lalu dia mengelus lembut punggung Leo dengan lembut.
"Hem," jawab Leo.
Walaupun malas, Leo tetap makan. Dia tak mungkin mengecewakan Mom'nya, karena walau bagaimanapun dia begitu menyayangi Mom'nya dan tak mungkin mengecewakannya.
"Sudah, Mom." Leo mendorong piring bekas makannya.
Leo hendak bangun dan pergi ke dalam kamarnya, namun dengan cepat Mom Maura menahan tangan Leo.
"Duduklah sebentar, Mom ingin bicara." Mom Maura kembali mengelus lembut punggung Leo.
"Ada apa, Mom?" tanya Leo.
"Kamu masih ingat Cindy, Sayang?" tanya Mom Maura.
Leo terlihat mengernyitkan dahinya, "Cindy siapa, Mom?" tanya Leo.
"Teman masa kecil kamu, sekarang dia sangat cantik. Dia sekarang koki," kata Mom Maura.
"Terus hubungannya sama aku apa, Mom?" tanya Leo.
"Mom berniat untuk menjodohkan kamu dengannya," jawab Mom Maura.
"Mom, ini bukan jaman Siti Nurbaya, Mom. Aku ngga mau dijodohkan," kata Leo.
"Jadi, Kamu masih ingin bermain-main dengan wanita-wanita yang ngga bener itu?!" tanya Mom Maura.
"Mom! Aku ingin menentukan pilihanmu sendiri," kata Leo.
"Pikirkanlah baik-baik, besok sepulang kerja kamu datanglah ke Resto Melati." Mom Maura nampak bangun dan langsung pergi meninggalkan Leo.
Leo terlihat sangat kesal dengan apa yang diucapkan oleh Mom Maura, dia merasa harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya.
Lelaki yang biasanya dengan mudah mendapatkan banyak perempuan harus dijodohkan, apa nanti kata teman-temannya? Mau ditaruh di mana mukanya?
"Mom benar-benar keterlaluan," Leo langsung melangkahkan kakinya menuju kamarny, kepalanya menjadi sangat sakit setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Mom Maura.
Jika Leo sedang kesal karena rencana perjodohan yang akan dilakukan oleh Mom'nya, kini Adam sedang dibuat pusing oleh istrinya Sisil. Karena tiba-tiba saja dia tidak mau di sentuh oleh Adam.
Padahal biasanya dia selalu saja meminta dipuaskan sebelum dia tidur, bahkan walaupun Adam sangat lelah. Pasti Sisil meminta nafkah batinnya, entah itu di atas ranjang, di atas meja rias di depan jendela atau di manapun yang Sisil mau.
"Sayang, Mas pengen banget. Kamu ngga lihat punya Mas udah berdiri tegak?" tanya Adam.
"Aku lihat, tegang banget itu." Sisil langsung menelusupkan tangannya lalu mengelus dan meremat milik Adam, ''tapi aku lagi ngga pengen." Sisil kembali menarik tangannya.
"Ya ampun, Sayang. Mas bisa puyeng kalau dia ngga muntah dulu sebelum tidur," ucap Adam memelas.
"Mas! Akunya lagi ngga pengen, beneran. Besok aja ya?" tawar Sisil.
"Yang!" pekik Adam.
Adam yang tak segera mendapatkan keinginannya pun langsung memeluk Sisil dari belakang, lali dia meremat dada Sisil.
Dia mencoba membuat Sisil terangsangg, namun sayangnya Sisil hanya diam saja. Adam pun makin prustasi dibuatnya.
"Yang, Mas pengen ini." Adam langsung mengangkat tubuh mungil Sisil ke atas pangkuannya.
Dia langsung menautkan bibirnya, tanganya juga dengan aktif mencari titik lemah istrinya. Sayangnya, Sisil masih tetap Diam saja.