Who Is Adam?

Who Is Adam?
Iseng



Adisha, begitu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan untuk minum saja rasanya tidak ada waktu. Sesekali Adrian, akan datang dan mengggodanya.


Walaupun hatinya merasa kesal, tapi hal itu menjadi hiburan tersendiri untuknya. Adrian, pria yang lucu dan suka merayu. Tapi terkadang menyebalkan, karena suka datang secara tiba-tiba.


"Sha, tolong anterin berkas ini ke ruangan, Mister Arley. Saya harus ikut meeting," ucap Bu Hasni ketua Divici tempat Adisha bekerja.


"Saya, Bu?" Adisha menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, Kamu. Adrian harus ikut saya soalnya, sedangkan Mira sama Leli, sudah saya kasih tugas masing-masing." Bu Hasni memberikan berkas pada Adisha, Adisha pun langsung menanggapinya.


"Baik, Bu." ucap Adisha.


Bu Hasni, langsung keluar dari ruangan di ikuti oleh Adrian. Sebelum pintu tertutup sempurna, Adrian memberikan kecupan jauh untuk Adisha.


Hal itu membuat Adisha, merasa kesal. Sedangkan Mira dan Leli malah terkikik geli melihat kekonyolan temannya itu.


Setelah kepergian Bu Hasni, dan juga Adrian. Adisha langsung mematut wajahnya di depan cermin kecil, setelah itu, Adisha pun langsung pergi ke lantai tiga puluh untuk menemui atasannya tersebut.


Tiba di lantai tiga puluh, Adisha kang melangkahkan kakinya menuju ruangan Tuan Arley.


Baru saja Adisha, ingin mengetuk pintu ruangan CEO tersebut, tanpa dia tahu ternyata pintu ruangan sudah terbuka dari dalam.


Hingga tanpa sengaja, orang tersebut langsung menabrak Adisha. Adisha langsung terpental, tapi dengan cepat sebuah tangan kekar menarik Adisha ke dalam pelukannya.


Adisha sangat kaget, saat ada yang menariknya. Apa lagi saat tahu, jika Tuan Arley lah yang dengan sigap menariknya ke dalam pelukannya.


Adisha sangat malu, tapi saat wajahnya begitu menempel pada dada bidang milik Tuan Arley, aroma parfum yang dia pakai begitu maskulin, hidung Adisha seakan tergelitik oleh aroma parfum tersebut.


Tapi Adisha dengan cepat mengumpulkan kesadarannya, dia tak boleh terkena, dia harus sadar siapa yang saat ini sedang bersamanya.


Adisha langsung memundurkan tubuhnya dan berusaha untuk melerai pelukannya," Maaf, Mister."


Tuan Arley langsung menggelengkan kepalanya," Selalu saja seperti itu."


"Maaf, Mister. Saya tidak sengaja, jangan marahi saya. Ok?!" ucap nya dengan wajah memelas.


Tuan Arley langsung terkekeh," Tidak akan. Sekarang katakan padaku, apa kamu ada perlu dengan ku?"


"Ini, Mister. Berkas dari Bu Hasni, harus segera di periksa dan di tandatangani. Agar proses pemasarannya akan berjalan dengan cepat," ucap Adisha.


Tuan Arley langsung mengambil berkas dari tangan Adisha, kemudian Tuan Arley pun langsung masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.


"Duduklah, berkas yang kamu bawa lumayan banyak. Saya butuh sedikit waktu tambahan," ucap Tuan Arley.


Adisha pun langsung duduk tepat di depan Tuan Arley, Adisha terus saja menatap wajah tampan Tuan Arley.


Sedangkan Tuan Arley sangat serius dalam mengerjakan pekerjaannya, sesekali Adisha mengedip-ngedipkan matanya seraya menatap kagum pada atasannya itu.


"Ya tuhan, ini cowok kalau di lihat dari dekat ganteng banget. Super duper sempurna, padahal umur nya sudah setengah abad, tapi gantengnya keterlaluan."


Adisha terus saja memandang wajah tampan Tuan Arley, hingga tanpa dia sadari, ternyata Tuan Arley sudah selsai dengan pekerjaannya.


"Adisha..."


"Adisha... "


"Adisha... "


Sudah tidak kali Tuan Arley memanggil Adisha, namun Adisha masih saja asik dengan lamunannya. Tuan Arley pun tersenyum, dia langsung bangun dan membungkukan badannya.


Tuan Arley mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Adisha, "Mau sampai kapan kamu senyum-senyum seperti itu?"


Adisha langsung terlonjak kaget, apa lagi saat melihat wajah Tuan Arley yang sangat dekat dengan wajahnya. Adisha langsung memundurkan wajahnya, Tuan Arley ingin sekali tertawa saat melihat wajah polos Adisha.


"Ya tuhan... maaf, Tuan. Sudah selsai ya?" tanya Adisha sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Tanpa menjawab, Tuan Arley langsung mengambil berkasnya dan menyimpannya di pangkuan Adisha.


Adisha langsung mengerjapkan matanya beberapa kali, dia merasa sangat kaget karena wajah Tuan Arley makin dekat saja dengan wajahnya.


Tuan Arley langsung mengeluarkan senyumnya, senyum andalannya saat sedang merayu wanita. Adisha langsung terpana, dan tanpa sadar Adisha pun tersenyum dengan sangat lebar.


Tuan Arley, pun langsung mendekatkan bibirnya kembali ke dekat cuping telinganya Adisha.


"Mau tetap di sini untuk bermain dengan ku, atau kembali ke dalam ruangan kamu untuk bekerja?" Tuan Arley bertanya dengan tatapan nakalnya.


Adisha langsung bangun, dan tanpa sengaja keningnya menabrak hidung mancung Tuan Arley. Tuan Arley nampak meringis, Adisha pun dengan cepat mengelus lembut hidung mancung, Tuan Arley.


"Maaf ya, Tuan. Habisnya, Tuan ngagetin." Adisha berucap dengan tangan yang terus saja mengelus hidung Tuan Arley.


Karena merasa geli, Tuan Arley pun langsung menangkap tangan Adisha.


"Jangan terus seperti ini, nanti aku bisa khilaf." ucap Tuan Arley.


Adisha pun langsung menarik tangannya," Saya permisi, Tuan."


Dengan setengah berlari Adisha, keluar dari ruangan Tuan Arley. Tuan Arley, langsung tergelak saat melihat kelakuan Adisha.


Setelah kepergian Adisha, Tuan Arley langsung duduk kembali di kursi kebesarannya.


"Ya ampun, umurnya boleh tiga puluh dua tahun. Tapi kelakuannya, kaya remaja berusia tujuh belas tahun. Unik, rajin, pandai, lucu, ceroboh tapi menarik." ucap Tuan Arley dengan senyum seringai di bibirnya.


"Siapa yang menarik, Ar?"


Mendengar ada yang bertanya padanya, Tuan Arley langsung memalingkan wajahnya menuju pintu. Nampaklah Nona Laurent yang sedang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu, tangannya pun nampak terlipat di depan dada.


"Ada apa kamu ke mari?" tanya Tuan Arley.


Laurent langsung menghampiri Tuan Arley, dia langsung duduk di pangkuan Tuan Arley.


"Hentikan, Laurent!! Ini kantor, bukan tempat untuk bercinta!!" Tuan Arley, langsung mendorong tubuh Laurent.


Laurent pun dengan cepat bangun dari pangkuannya, dia langsung memandang sinis ke arah Tuan Arley.


"Kenapa sih, Ar? Kenapa kamu tidak pernah memandang ku? "


"Jangan mulai lagi, Laurent. Kita ini bersaudara, untuk kita bersama, rasanya itu adalah hal yang mustahil." ucap Tuan Arley.


"Tapi Ar, aku selalu mencintaimu sampai saat ini." ucap Laurent.


"Cih,, cinta? Cinta tapi kamu malah menikah dengan pria lain," cibir Tuan Arley.


"Aku hanya menuruti keinginan Daddy, Ar. Kalau kamu mau, aku akan langsung menceraikan suamiku." Laurent mendekati Tuan Arley, mengusap nakal rahangnya.


"Aku tidak tertarik, perawan masih banyak. Untuk apa aku menikahi wanita bekas pria lain, pria itu sahabat ku pula."


Wajah Nona Laurent nampak kesal, dari dulu Laurent selalu saja mengejar Tuan Arley. Tapi Tuan Arley, selalu menolaknya.


Bukan tanpa alasan, tapi memang mereka adalah sepupu. Padahal, Laurent adalah seorang wanita cantik dan berpendidikan. Bahkan di usianya yang hampir kepala empat, dia tak terlihat tua.


Dia selalu tampil modis, dan tentunya sangat cantik.


Laurent langsung duduk kembali di pangkuan Tuan Arley, kemudian dia menarik wajah Tuan Arley. Jarak mereka sangat dekat, bahkan hidung mancung mereka pun sampai bersentuhan.


"Cium aku, Ar. Buktikan kata-kata mu itu, aku tidak percaya jika kamu tidak tertarik sama sekali pada ku.