Who Is Adam?

Who Is Adam?
End



Hari hari yang dijalani oleh Adam dan juga Sisil semakin berwarna setelah kehadiran baby Noah, baby tampan itu terlihat begitu tampan dengan badan yang terlihat begitu besar dari baby yang lainnya.


Jika pagi tiba, Adam seakan enggan untuk meninggalkan baby tampannya untuk bekerja. Kalau saja perusahaan Callweld tak membutuhkan Adam, rasanya dia ingin di rumah saja untuk sementara. Menemani dan melihat tumbuh kembang putra tersayangnya.


Karena tanpa bekerja pun, uang terus saja mengalir ke rekening Adam. Tentu saja dari perusahaan miliknya yang dikelola oleh Ferdinand.


"Kenapa kamu menggemaskan sekali, Boy? Ayah jadi malas untuk bekerja," kata Adam seraya mengelus pipi gembil baby Noah.


Satu pukulan di tangan langsung Adam dapatkan dari sang istri tercinta.


"Sakit, Sayang," keluh Adam.


"Lagian Mas itu aneh, seharusnya Mas lebih semangat lagi dalam bekerja. Karena sekarang ada baby Noah yang harus kamu biayai selain aku," ucap Sisil.


Adam terkekeh mendengar penuturan dari Sisil, dia menegakkan tubuhnya lalu menatap wajah Sisil dengan penuh kasih.


"Baiklah, Mas akan semangat dalam bekerja. Sekarang kasih penyemangat untuk Mas," kata Adam seraya memonyongkan bibirnya.


Sudah dua minggu ini Adam tidak mendapatkan haknya, tentu saja karena Sisil baru saja melahirkan seorang putra untuk dirinya.


Dia memang selalu menginginkan istrinya, namun sekuat tenaga Adam berusaha untuk menahan hasratnya. Itu semua bukan hanya untuk kebaikan Sisil, namun untuk kebaikan dirinya juga.


"Baiklah, satu ciuman penyemangat akan segera Mas dapatkan," kata Sisil.


Sisi langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Adam, tak lama kemudian Sisil terlihat menautkan bibirnya dengan lembut ke bibir suaminya.


Adam langsung menyambut tautan bibir tersebut dengan antusias, bahkan tangan kanannya terlihat menekan tengkuk leher Sisil dan tangan kirinya terlihat mengusap punggung istrinya dengan sangat lembut.


Beruntung baby Noah sedang tertidur dengan pulas, sehingga mereka bisa menikmati pergulatan bibir yang sudah menjadi pavorit Adam setiap paginya.


"Ehm, sepertinya ada yang lagi minta jatah."


Adam pangsung melepaskan tautan bibirnya, kala mendengar suara Tuan Arley.


"Grandpa tidak sopan, main masuk saja ke kamar aku," ucap Adam dengan wajah yang sudah ditekuk.


Tuan Arley langsung terkekeh mendengar penuturan dari cucunya.


"Cepatlah berangkat, pagi ini ada meeting penting." Tuan Arley terlihat menghampiri Adam, lalu dia menepuk pundak cucunya dengan lembut.


"Baiklah, aku akan berangkat. Lalu, untuk apa Grandpa kemari?" tanya Adam heran.


Tuan Arley langsung tertawa mendengar pertanyaan dari cucunya tersebut.


"Tentu saja aku ingin bertemu dengan cicitku, aku sangat merindukannya. Apa kamu tidak lihat betapa dia sangat lucu dan menggemaskan?" tanya Tuan Arley.


"Ya ampun, suruh Haidar memberimu cucu," kata Adam seraya tergelak.


Tuan Arley langsung memukul pundak Adam cukup keras, hal itu membuat Adam terlihat meringis.


"Jangan ngaco! Haidar baru berusia delapan belas tahun, dia baru saja masuk perguruan tinggi. Apa kau tahu? Al masuk perguruan ternama, jalur beasiswa. Sama seperti kamu," kata Tuan Arley bangga.


Adam langsung tersenyum, dia tahu di balik sikapnya yang selengean, Al memang sangat pandai.


"Sudah kuduga, dia memang pandai," kata Adam.


Adam setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Arley, namun Adam menyayangkan karena sikap Al sekarang benar-benar dingin.


Tidak ada Al yang ceria seperti dulu, tidak ada Al yang selalu bercanda dan menghibur hati setiap orang.


Hati Al seolah benar-benar seperti sudah beku, bahkan saat Arkana dan juga Laila mengunjungi Al, Laila berkata jika Al begitu bersikap hangat dan lembut ketika bersama dengan Arkana dan juga Laila, namun jika di luar rumah, Al benar-benar bersikap dingin.


"Ya, aku berangkat dulu. Nanti aku akan menelpon Al," ucap Adam seraya memeluk Tuan Arley.


Tak lupa sebelum Adam berangkat dia pun mengecup kening baby Noah, lalu mengecup bibir Sisil dengan lembut.


Sisil terlihat tersipu atas kelakuan Adam terhadap dirinya, sedangkan Tuan Arley terlihat menggelengkan kepalanya. Ternyata sifat Adam sama saja seperti dirinya, pikirnya.


Lima tahun kemudian.


Adam terlihat menggendong Noah yang kini sudah berusia 5 tahun, sedangkan Sisil terlihat memangku baby perempuan berusia 2 tahun. Baby cantik bernama Viana Callweld.


Suasana siang itu terlihat begitu riuh di rumah Arkana, karena sebentar lagi mereka akan menyambut kedatangan Altezza Reiky Callweld.


Pria itu kini sudah lulus S2 dari universitas ternama dengan jurusan manajemen bisnis, hal itu dia lakukan sengaja untuk menggantikan posisi Arkana di perusahaannya.


Keputusan pulang putra kedua dari Arkana dan Laila itu, benar-benar membuat mereka benar-benar merasa bahagia. Karena akhirnya mereka bisa bertemu dengan Al.


Di sana juga ada Devano beserta anak istrinya, bahkan Tuan Seno dan Nyonya Alina pun nampak hadir.


Tuan Arley bersama dengan Adisha dan juga Haidar pun sudah menunggu kedatangan Al. Mereka benar-benar merasa rindu.


Tak lama kemudian, datanglah sosok pria tampan, muda dan masuk ke dalam rumah Arkana dengan tersenyum hangat.


"Assalamualaikum," sapanya.


Semua orang nampk mengalihkan pandangan ke arah pintu utama.


"Al!" ucap Laila memekik.


Laila yang sudah begitu rindu terhadap putranya langsung berlari dan memeluknya, dia bahkan sampai menangis karena begitu rindunya terhadap putranya.


Padahal, setiap enam bulan sekali dia akan pergi untuk mengunjungi putranya. Namun, tetap saja dia merasa rindu.


Setelah penyambutan yang dilakukan oleh Laila, semua orang nampak menghampiri Al dan memeluknya secara bergantian.


*/*


Satu minggu kemudian, Al resmi menggantikan posisi Arkana di perusahaannya. Haidar juga resmi menjadi pemimpin di perusahaan Callweld.


Lalu, bagaimana dengan Adam?


Adam memutuskan untuk tinggal di negara A, dia ingin mengelola perusahaan miliknya yang ada di sana.


Awalnya Laila dan juga Arkana merasa sangat berat hati, namun dia tidak bisa mencegah keinginan putarannya. Dia tahu jika Adam memiliki potensi yang luar biasa dalam berbisnis, akhirnya mereka pun mengizinkan.


Tentunya dengan syarat setiap enam bulan sekali Adam harus pulang untuk mengunjungi mereka, Adam pun setuju.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹TAMAT🌹🌹🌹🌹🌹🌹