
Adam masih setia memperhatikan wajah tegang Sisil, Adam jadi merasa bingung dibuatnya. Kenapa wajah Sisil berubah tegang, hanya karena melihat Sweter pemberian dari Pricilia.
"Tu--tuan belum menjawab pertanyaan aku, kenapa Tuan, membawa Sweter ini?" tanya Sisil tergagap.
Adam langsung tersenyum hangat, saat mendengar pertanyaan Sisil.
"Sweter ini adalah pemberian gadis kecilku, Pricilia Gunandari. Gadis kecil yang mampu mengembalikan keceriaan aku, padahal dia sendiri sedang bersedih. Gadis kuat, yang bisa dengan mudah memotivasi aku." Adam memejamkan matanya, mengingat wajah Pricilia kecil.
"Apa, gadis kecil itu sangat berarti untuk, Tuan?" tanya Sisil ragu.
"Tentu, dia sangat berarti untuk ku. Bahkan, aku tak melupakan janji yang pernah aku ucapkan padanya." Adam memandang wajah Sisil dengan lekat, hal itu membuat Sisil salah tingkah.
"Oiya, Tuan. Sudah setengah dua belas. Ayo, kita masak." Sisil terlihat mengalihkan pembicaraan, tapi Adam merasa tidak masalah.
Adam langsung bangun, lalu mengambil belanjaan yang Sisil bawa.
"Ayo," ajak Adam tanpa menoleh ke arah Sisil.
Sisil menurut, dia mengikuti langkah Adam menuju dapur. Dengan cekatan Adam mengeluarkan alat tempur di dapur, Sisil tinggal menanti saja apa yang sedang Adam lakukan.
Sisil bahkan berdecak kagum, karena Adam begitu lincah dalam memasak. Dia tak menyangka, jika Adam begitu pandai dalam mengolah makanan.
Bahkam, Adam terlihat seperti seorang chef handal di mata Sisil.
Adam memasak steak daging sapi, salad, kentang goreng dan juga sandwich. Setelah semuanya matang, Adam langsung menata semua makanannya di atas meja makan.
Adam juga langsung mengajak Sisil, untuk makan bersama. Mata Sisil menyapu setiap makanan, yang Adam buat.
Tapi, dahinya terlihat berkerut dalam. Dia terlihat bingung, dengan apa yang Adam hidangkan. Melihat wajah Sisil yang terlihat bingung, Adam pun langsung bersuara.
"Kenapa menatap makanannya seperti itu? Apakah makanan yang aku buat tidak enak?" tanya Adam.
Sisil pun dengan cepat mengibaskan kedua tangannya," bukan-bukan, bukan seperti itu."
Sisil terlihat kebingungan dalam menjelaskan, sedangkan Adam terlihat tak sabar dalam menunggu jawaban Sisil.
Sisil berucap dengan wajah tidak enak hati,"hanya saja ini tidak ada nasinya. Terus apa yang saya makan, kalau tidak ada nasinya? Saya ini orang Indonesia, kalau makan tanpa nasi, namanya bukan makan, Tuan."
Adam pun langsung tertawa terbahak-bahak, saat mendengar ucapan Sisil. Dia tidak menyangka, jika Sisil terdiam bukan karena melihat makanan yang tidak enak.
Tetapi, karena dia tidak bisa makan karena tidak ada nasi. Adam pun lalu mengusulkan agar Sisil membeli nasi, di resto yang ada di lantai dasar.
"Bagaimana kalau kamu beli nasi saja, di lantai dasar ada resto cepat saji. Setahuku, kita bisa membeli nasinya saja." Adam mencoba memberikan solusi.
"Boleh, Tuan. Kalau begitu, aku pergi dulu." Sisil langsung pergi meninggalkan Adam.
"Jangan lupa kalau masuk paswordnya 011005," teriak Adam.
Sisil langsung bergegas keluar dari apartemen milik Adam, saat Sisil membuka pintu. Nampak Mharta sedang berada tepat di hadapan Sisil.
Sisil langsung bertanya kepada Mharta, karena dia merasa bingung dengan tingkah Mharta yang terlihat gelisah.
" Apa ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Sisil sopan.
Martha yang sedari tadi mondar-mandir pun, langsung menghentikan langkahnya. Dia langsung menatap Sisil dengan Intens.
" Oh ya, aku ingin bertemu dengan Adam." Tanpa menunggu jawaban dari Sisil, Martha langsung masuk ke dalam apartemen Adam dan menutup pintunya.
Lagi pula Adam lelaki, pikirnya. Pasti akan lebih kuat dibanding Mharta, yang hanya seorang perempuan. Sisil pun segera turun ke lantai dasar, untuk membeli nasi yang dia inginkan.
15 menit kemudian, Sisil pun melangkahkan kakinya menuju lantai di mana apartemen Adam berada. Tapi saat dia baru keluar dari lift, alangkah terkejutnya saat melihat Adam sedang mendorong Martha keluar dari apartemennya Adam.
Adam terlihat sangat marah, bahkan Martha sampai tersungkur karena dorongan Adam yang begitu kuat. Martha terlihat memohon kepada Adam, tapi Adam tidak peduli dia langsung menutup pintunya dengan kasar.
Martha terlihat menangis, lalu kembali masuk kedalam apartemen miliknya. Sisil terlihat kebingungan tapi dia tetap melanjutkan langkahnya, dan masuk ke dalam apartemen Adam yang sudah dihapal passwordnya.
Saat Sisil masuk ke dalam apartemen Adam, Adam terlihat gelisah dia duduk di atas sofa dengan wajah yang terlihat memerah.
Dia terlihat menahan sesuatu, tapi apa, Sisil pun tak tahu. Saat melihat Sisil, Adam langsung bangun dan memeluk Sisil begitu saja.
Sisil terlihat kaget, bahkan diapun langsung memberontak. Nasi yang Sisil bawa langsung jatuh berserakan.
"Tu--tuan, kenapa? tolong jangan seperti ini, saya takut, Tuan." Sisil terus saja memberontak.
Bukannya melepaskan Sisil, Adam langsung menggendong Sisil seperti satu karung beras. Adampun langsung membawa Sisil ke dalam kamarnya.
Sampai di dalam kamarnya, Adam lalu menghempaskan tubuh Sisil ke atas ranjang King size miliknya.
Sisil terlihat begitu ketakutan, Adam terlihat seperti orang yang sedang kesetanan. Apalagi, saat Adam mulai membuka kaos yang dia pakai.
Membuat Sisil, langsung melompat dari kasur milik Adam. Matanya celingukan, dia mencari sesuatu yang bisa menolongnya.
Sayangnya, belum sempat Sisil menemukan apapun. Adam sudah kembali menariknya, hingga Sisil terjatuh di atas lantai.
Sisil begitu ketakutan, apalagi Adam langsung menyeret kakinya dengan kasar. Sisil langsung menangis histeris.
Bukannya kasihan, Adam malah langsung menggendong Sisil dan menghempaskan kembali tubuh Sisil ke atas ranjang.
Sisil pun berontak, dia mencari sesuatu yang bisa menolongnya. Dia melihat beberapa dasi yang berada di atas nakas, dengan cepat dia pun langsung mengambil dasi, lalu mendorong tubuh Adam hingga tersungkur di kasur.
Beruntung, Sisil pernah ikut kelas bela diri. Dengan gerakan cepat, dia berusaha mengikat tangan Adam dengan dasi tersebut. Walaupun dia harus beradu kekuatan dengan Adam, dia merasa bersyukur karena bisa mengikat tangan dan kaki Adam dengan dasi-dasi tersebut.
Akan tetapi Adam terus meronta, Sisil tak tinggal diam. Dia mengambil selimut dan membelit tubuh Adam dengan selimut, hingha dia terlihat susah untuk bergerak.
Keringat bercucuran dari dahinya, membuat Sisil tak tega. Tapi, dia tak berani mengambil resiko. Jika dia melepaskan Adam, sudah pasti dia akan kehilangan keperawanannya.
"To--tolong, tolong aku, Sil." Adam berucap seraya merintih kesakitan.
Sisil pun mendekat, lalu mengusap dahi Adam yang dipenuhi peluh.
"Maaf, Tuan. Saya belum siap, mengorbankan keperawanan saya. Apa lagi , Tuan, bukan suami saya." Sisil sebenarnya sangat takut, tapi dia harus memberanikan diri untuk bicara.
Adam terus meronta, seraya meminta tolong kepada Sisil. Sisil pun menjadi bingung dibuatnya, akhirnya Sisil pun memutuskan untuk menghubungi kedua orang tua Adam.
Sisil berlari kesana-kemari mencari ponsel Adam, dia sudah seperti orang gila saat ini. Setelah menemukannya, Sisil langsung menelepon Laila.
Dengan cepat Sisil pun memberitahukan keadaan Adam, Laila dan Arkana yang merasa khawatir pun langsung bergegas menuju apartemen milik Adam.
Setengah jam kemudian, mereka pun sudah datang di apartemen milik Adam. Saat melihat keadaan Adam, Laila langsung menangis dan menghampiri putranya.
Adam, masih terlihat memberontak dan meminta tolong. Hanya kata tolong, yang keluar dari mulutnya.