
Sampai di kantor, Adam langsung berjalan dengan tergesa. Hingga tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita yang sedang berjalan berlainan arah dengannya.
Brugh!
"Aww!" pekik wanita itu.
Wanita itu langsung jatuh duduk di lantai marmer yang dingin, dia terlihat meringis sambil memegangi bokongnya.
Adam yang menyadari kesalahannya, langsung menghampiri perempuan tersebut dan mengulurkan tangannya.
"Mari saya bantu, Nona." Permpuan itu langsung mendongakkan kepalanya, lalu menerima uluran tangan dari Adam.
"Terima kasih, Tuan." Permpuan itu melepaskan tautan tangannya, lalu tersenyum dengan sangat manis pada Adam.
Dahi Adam mengernyit dalam, pasalnya dia belum pernah melihat perempuan itu. Apakah dia tamu, pikirnya. Kalau iya, kenapa bertamu sepagi ini?
"Maaf, kamu siapa? Saya belum pernah melihat kamu sebelumnya," ucap tanya Adam.
"Saya Gracia, saya kemarin sudah interview. Hari ini, adalah hari pertama saya bekerja." Gracia nampak membenarkan roknya yang terlihat sedikit kusut.
Adam nampak mengangguk-anggukan kepalanya, tanda mengerti.
"Oh, siapa yang menerima kamu bekerja di Sini?" tanya Adam penasaran.
"Saya, Tuan." Kata Leo yang ternyata kini sudah berada tepat di samping Adam.
Adam terlihat kembali mengerutkan dahinya, pasalnya kemarin Leo mengadu jika di perusahaan sedang banyak pekerjaan dan dia tidak bisa menghandle'nya sendiri.
Lalu, ini apa? Kenapa dia menyuruh Adam masuk terburu-buru, jika dia sudah mencari orang untuk bekerja di sana?
"Bukankah kamu kemarin bilang, jika kamu kerepotan bekerja sendiri?" tanya Adam.
"Ya, Tuan. Saya mencari pekerja baru karena disuruh oleh Mister Arley, karena Kak Mahendra akan bertugas selama 1 bulan di negara Adidaya. Selain menemani Tuan Muda Al, dia juga harus mengajarkan Tuan Muda Al tentang berbisnis," kata Leo.
"Oh..." jawab Adam.
Dia tidak menyangka jika Al, akan langsung terjun ke dunia bisnis. Padahal, biasanya dia lebih senang bersantai dan merayu perempuan.
Ternyata, kejadian kemarin ada hikmahnya juga pikir Adam. Namun, Adam pun menjadi khawatir. Dia takut jika Aldo akan terlalu memporsir dirinya dalam mempelajari dunia bisnis.
"Ya, Tuan. Jadi Gracia akan bekerja satu ruangan dengan saya. Dia akan membantu segala pekerjaan yang berhubungan dengan anda, sedangkan saya mengerjakan tugas Kak Mahendra," jelas Leo.
"Oke," jawab Adam.
Adam langsung melangkahkan kakinya menuju ruangannya, begitupun dengan Leo dan juga Gracia. Mereka langsung mengekori langkah Adam dari belakang, sebenarnya Leo merasa bingung kenapa Adam sudah datang di kantor sepagi ini.
Padahal waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi, sedangkan Leo memang sengaja berangkat pagi-pagi karena dia sudah sepakat dengan Gracia jika dia akan datang pukul 7 pagi untuk mengajarkan Gracia terlebih dahulu.
Namun ternyata, Adam juga sudah sampai di sana dan terlihat sudah siap untuk bekerja. Setelah sampai di depan ruangannya, Adam langsung masuk.
Begitipun dengan Leo, dia langsung mengajak Gracia untuk masuk ke dalam ruangannya. Ternyata ruangan Leo sudah dirombak sejak kemarin, di sana sudah ada 2 meja kerja. Tentu saja untuk dirinya dan juga untuk Gracia bekerja.
"Silakan duduk, Nona Gracia."
Leo langsung melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya, kemudian dia mengambil beberapa berkas untuk dipelajari oleh Gracia.
Setelah mengambil beberapa berkas untuk Gracia, Leo pun langsung menghampiri Gracia yang sedang duduk anteng di meja kerjanya.
"Ini, Nona Gracia. Silahkan dipelajari terlebih dahulu, nanti kalau ada yang tidak dimengerti kamu boleh bertanya padaku," ucap Leo.
"Baik, Tuan. Saya akan mempelajarinya terlebih dahulu, mohon bimbingannya," ucap Gracia. "Tapi, manggilnya Gracia aja, Tuan. Jangan Nona, " pinta Gracia.
"Ya," kata Leo.
Ya, karana Adam meninggalkan perusahaan selama satu minggu dan juga Mahendra pergi mendampingi Al. Membuat banyak pekerjaan yang tertunda.
Hal itu membuat Leo keteteran, meskipun Tuan Arley sering membantunya. Namun ternyata usia tidak bisa bohong, Tuan Arley sudah tak cekatan seperti dulu lagi dalam menghandle pekerjaan.
Makanya dia begitu berharap pada Adam, tentunya sebelum Haidar cukup umur. Tuan Arley juga sadar jika Adam mempunyai banyak perusahaan yang harus dia pegang.
Gracia terlihat begitu serius dalam mempelajari semua berkas yang diberikan padanya, hal itu membuat Leo senang.
Terkadang Gadis itu juga bertanya jika ada yang tidak dia mengerti, namun dengan cepat dia bisa menangkap apa yang dijelaskan oleh Leo.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, sudah waktunya untuk istirahat makan siang. Leo pun meminta Gracia untuk beristirahat.
"Gracia, beristirahatlah, kamu bisa makan di kantin atau makan di luar. Terserah saja, yang penting pukul satu kamu sudah di sini lagi," kata Leo.
"Iya, Tuan." Gracia segera bangun dan hendak keluar dari ruangan Leo.
"Tunggu, Gracia. Tolong sekalian berikan berkas ini pada Tuan Adam," ucap Leo.
Gracia pun membalikan tubuhnya, lalu dia menghampiri Leo. Leo pun menyodorkan berkasnya, dengan cepat dia mengambil berkasnya dari tangan Leo.
"Siap, Tuan. Saya akan memberikan berkas ini kepada Tuan Adam," ucap Gracia.
"Hem, terima kasih," kata Leo.
Gracia pun langsung pergi dari sana, lalu dia pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Adam. Tentu saja sebagai pegawai yang baik, sebelum masuk dia pun mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," terdengar sahutan dari dalam.
Setelah mendapatkan sahutan, Gracia pun langsung mendorong pintunya dengan perlahan. Saat pintu terbuka, nampaklah Adam yang sedang duduk di sofa.
Dia terlihat sedang memainkan ponselnya, sesekali Adam terlihat tersenyum dengan sangat manis. Hal itu membuat Gracia terpana dibuatnya.
"Ya tuhan, kenapa dia tampan sekali? Astaga Gracia, dia bos kamu. Ngapain juga mikir yang aneh-aneh," Gumam Gracia dalam hati.
"Ehm... maaf, Tuan Muda. Ini ada berkas yang harus anda periksa," kata Gracia.
Adam langsung memalingkan wajahnya, dia menatap Gracia yang tengah berdiri di ambang pintu. Dia malah terlihat berdiri sambil menatap wajahnya.
Adam terlihat mengernyitkan dahinya, saat melihat Gracia yang terlihat memandangnya dengan tatapan penuh kekaguman.
"Gracia," panggil Adam.
Gracia pun langsung tersadar dari lamunannya, lalu dengan cepat dia berjalan untuk memberikan berkasnya pada Adam.
Sayangnya, karena Gracia berjalan dengan terburu-buru. Gracia pun tersandung karpet bulu yang ada di dekat Adam, sehingga membuat Gracia jatuh tepat di pangkuan Adam.
Detak jantung Gracia seakan terhenti, kala melihat wajah Adam yang begitu dekat. Adam terlihat sangat tampan dan juga wangi.
"Mas!" terdengar suara teriakan Sisil yang menggema di ruangan Adam.
+
+
+
Hayo Adam, siap-siap ya di amuk Sisil. Othor kabur dulu, takutnya kena semprot sama Adam. 💃💃💃💃💃💃