Who Is Adam?

Who Is Adam?
Menikahlah Dengan Ku



Selepas kepergian Laila, Arkana dan juga Al. Sisil langsung membersihkan apartemen milik Adam, dari mulai ruang tamu ruang tengah, dapur hingga kamar Adam sendiri.


Awalnya, Sisil merasa takut karena harus menjaga Adam yang masih dalam keadaan kurang baik. Akan tetapi, setelah melihat ada beberapa bodyguard yang berjaga di luar dan juga di ruang tamu, Sisil merasa tenang.


Karena merasa lelah, Sisi langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang tak jauh dari tempat tidur milik Adam. Dengan begitu, Sisil bisa menjaga Adam dengan baik.


Jika terjadi sesuatu dengan Adam, Sisil pun bisa bertindak dengan cepat. Sebelum tidur, Sisil memperhatikan wajah Adam yang masih memucat.


Sisil sempat khawatir dengan penjelasan Dokter Bian yang menyatakan, jika tubuh Adam ternyata tidak kuat dengan asupan obat perangsang tersebut. Apa lagi dosis yang Mharta berikan, sangatlah tinggi.


"Kakak, kenapa kamu tega sekali berbuat seperti itu? Apa kehidupan kamu sudah berubah? Padahal, kamu selalu bersikap lembut saat kamu kecil." Gumam Sisil dalam hati.


Sisil benar-benar tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Mharta, padahal Setahunya Mharta adalah anak yang baik. Lalu, kenapa dia bisa berubah seperti itu?


Karena terlalu lelah dengan apa yang terjadi hari ini, Sisil pun langsung tertidur.


*/*


Waktu menunjukkan pukul empat pagi, Adam yang merasa tubuhnya terasa lebih baik pun langsung membuka matanya.


Wajah Adam terlihat berbinar, kala melihat wajah damai Sisil yang sedang terlelap di atas sofa. Dengan perlahan, Adam bangun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Adam mengguyur tubuhnya dengan air hangat, dari kemarin dia belum mandi. Badannya terasa lengket dan bau, apa lagi kemarin dia sempat mengeluarkan keringat yang banyak saat mengalami overdosis obat terkutuk yang diberikan oleh Mharta.


Selesai mandi, Adam langsung bersiap untuk melaksanakan kewajibannya terhadap sang khalik. Karena waktu memang sudah masuk waktu subuh.


Di saat Adam sedang berdzikir, Sisil mengerjapkan matanya. Saat dia akan bangun, dia merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Wajahnya seketika langsung berbinar, dia sangat senang karena wajah Adam sudah terlihat cerah seperti sedia kala. Yang lebih membuatnya senang, Adam ternyata merupakan seorang muslim yang sangat taat.


Dengan perlahan, Sisil masuk ke dalam kamar mandi. Dia tak mau mengganggu Adam, yang terlihat sedang khusyuk.


Sisil langsung mandi dengan cepat, karena dia harus memasak untuk sarapan dan juga bekerja di perusahaan milik Tuan Arley.


Selesai mandi, Sisil langsung mengambil mukenanya yang dia simpan di dalam tas kecil yang selalu dia bawa kemana-mana.


"Mau shalat?" tanya Adam.


"Iya, Tuan." Jawab Sisil yang langsung memakai mukenanya.


Adam langsung bangun, dia segera merapihkan perlengkapan shalatnya. Lalu dia pun keluar dari dalam kamarnya, Adam ingin memberikan waktu untuk Sisil melaksanakan ibadahnya.


Adam langsung melangkahkan kakinya menuju dapur, dia ingin memasak untuk sarapan pagi ini. Sarapan untuk dia dan juga Sisil.


Saat Adam hendak memasak, para Bodyguard pun menghampiri Adam. Mereka kurang setuju, jika Adam yang baru saja pulih dari sakitnya harus memasak untuk sarapan paginya.


"Maaf, Tuan. Kalau bisa anda beristirahat saja, kami takut jika Master, akan marah." Salah satu Bodyguard diantara mereka, memberanikan diri untuk berbicara kepada Adam.


Mendengar penuturan Bodyguard tersebut, Adam pun langsung terkekeh.


" Ya ampun, kalian terlalu berlebihan. Aku sudah sehat, Aku baik-baik saja, kalian lihatkan. Lihatlah aku dari ujung kaki sampai ujung rambut, aku sehat!" jawab Adam tegas.


Adam lalu tertawa, dia merasa sangat lucu dengan tawaran para Bodyguard dari Tuan Arley tersebut. Mereka terlihat tampan, gagah, badannya begitu atletis.


Tapi, jika melihat mereka untuk memasak, rasanya Adam merasa sangat lucu.


" Tidak usah, tidak usah. Biar saya saja, saya hanya ingin membuat sandwich buat sarapan pagi ini dan segelas susu. Kalian duduk lagi saja," titah Adam.


Para Bodyguard yang disuruh menjaga Adam pun, tak bisa berkutik. Karena ternyata, Tuan mudanya benar-benar keras kepala.


Mereka pun memutuskan untuk meninggalkan Adam, di dapur. Adam pun mulai berkutat dengan peralatan dapur, sedangkan Sisil yang sudah kelar dengan kewajibannya pun segera menghampiri Adam.


Dia juga langsung membantu Adam, karena Sisil takut jika Adam akan pingsan lagi. Dia takut jika pengaruh obatnya masih ada di dalam tubuh Adam.


Setengah jam kemudian, sandwich buatan Adam pun sudah terhidang di atas meja makan. Dengan segera, Sisil dan Adam pun langsung menikmati sarapan mereka.


Awalnya, Sisil merasa enggan. Akan tetapi, Adam terus saja mengajak Sisil agar mau makan sandwich buatannya.


Adam beralasan jika dia tidak biasa sarapan sendiri, kalau sarapan dia harus ada yang menemani. Mau tak mau, Sisil pun segera menghabiskan sarapannya dan setelah sarapan habis. Sisil pun berpamitan kepada Adam.


"Maaf Tuan muda, sebentar lagi waktu bekerja sudah akan tiba saya harus bekerja hari ini tidak apa-apa jika anda saya tinggal sendiri?" tanya Sisil dengan ragu.


Setelah itu, Sisil membersihkan sisa-sisa makanan mereka. Adam langsung menghentikan aktivitas Sisil, dia menggenggam tangan Sisil dengan sangat erat.


Lalu, dia mendudukannya kembali Sisil di kursi meja makan tersebut.


" Jangan bekerja," pinta Adam.


"Tidak bisa, Tuan. Saya membutuhkan uang untuk kehidupan sehari-hari saya," jawab Sisil.


"Aku yang akan membiayai seluruh keperluan dirimu." Terang Adam.


Alis Sisil nampak terangkat 1, dia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Adam. Karena penasaran, Sisil pun lalu bertanya.


"Maksud Tuan apa?" tanya Sisil.


Adam kembali menggenggam tangan Sisil, lalu mengusap punggung tangan Sisil dengan ibu jarinya.


"Menikahlah denganku dan setelah itu tidak akan ada lagi penderitaan yang menghampiri kamu. Aku berjanji akan membahagiakan dirimu," Adam berucap dengan penuh keyakinan.


Bahkan, tatapan matanya pun tak lepas dari mata indah Sisil. Sedangkan Sisil langsung tersentak kaget dengan apa yang diucapkan Adam.


Maksudnya apa? Apakah dia sedang bercanda? Apakah memang benar itu yang ada di dalam hatinya?


" Tapi, Tuan. Saya hanya orang miskin, kenapa Tuan mengajak saya untuk menikah? masih banyak di luar sana wanita yang normal dan juga cantik. Tentunya berpendidikan tinggi, serta mempunyai harta yang banyak." Ucap Sisil.


Adam malah terkekeh mendengar penuturan dari Sisil, kemudian Adam pun berkata.


" Aku sudah mencintaimu semenjak 15 tahun yang lalu, aku selalu berusaha untuk belajar dengan baik, aku selalu berusaha untuk bekerja dengan baik. Bahkan, aku membangun sebuah perusahaan di negara adidaya agar aku bisa melamarmu." Kata Adam