Who Is Adam?

Who Is Adam?
Amerika



Pukul sepuluh malam Laila dan Arkana baru bisa merebahkan tubuh lelah nya, dari sore mereka begitu sibuk membuat bekal makanan untuk di Amerika.


Sedangkan Adam dari sore tadi begitu sibuk berlatih membuat desain ,Karna begitu lelah ini anak itu pun sudah terlelap dalam buaian mimpi indah nya.


"Cape ya sayang? "Tanya Arkana.


"Banget, tapi aku suka. Karna kita ngelakuin nya bersama sama, "Ucap Laila.


"Mas juga senang, karna setelah terpisah selama hampir enam tahun, akhirnya kita bisa hidup bersama."


"Besok kita akan berangkat ke Amerika, semoga saja selain mengantar kan Adam ikut lomba ,ini juga bisa menjadi ajang jalan jalan buat kita."


"Tapi kaya nya akan sangat susah untuk kita bisa berduaan sayang, "Ucap Arkana.


"Kenapa memang nya? "


"Kamu kan tahu sayang, si anak jenius itu pasti serba ingin tahu suasana di sana seperti apa. Apa lagi kita di sana nya hanya seminggu saja, di ambil masa perjalanan saja sudah hampir dua hari."


"Sabar sayang, nanti kalau sudah pulang kan bisa sering berduaan."


"Kok bisa?? "


"Kan Adam sudah mulai sekolah,"Jawab Laila.


"Kamu nakal,,"Ucap Arkana.


Laila pun terkekeh, sedangkan Arkana sudah mulai bangun dan mengungkung tubuh istri nya. Arkana sudah mulai bersiap untuk meminta vitamin pada Laila, karna seharian ini Arkana merasa sangat lelah dan cape.


"Mas,,"Panggil Laila.


"Diam dan nikmati, karna besok belum tentu kita bisa bermesraan seperti ini."Ucap Arkana.


Arkana pun sudah mulai melakukan apa yang dia inginkan, sedang kan Laila hanya bisa pasrah dengan kelakuan suami nya itu.


...****************...


Pagi hari nya Arkana, Laila dan juga Adam sudah bersiap. Pukul tujuh pagi mereka memutuskan untuk berangkat ke Bandara, karna mereka akan melakukan penerbangan pukul delapan.


Sampai di Bandara, mereka cuma menunggu sekitar lima belas menit sebelum pesawat yang mereka tumpangi lepas landas.


Selama dalam perjalanan, Adam terlihat begitu senang. Adam terus saja berceloteh sambil memandang indah nya pemandangan dari jendela pesawat.


Arkana pun tersenyum senang karna bisa melihat kebahagiaan putra nya, dia juga merasa sangat bangga karna di berikan anak yang begitu jenius.


Setelah delapan jam perjalanan , kini mereka pun transit di Abu Dhabi, mereka pun di instruksi kan untuk beristirahat selama dua jam di sana.


Arkana, Laila dan Adam pun menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat. Padahal masih sekitar empat belas jam lagi menuju Amerika, tapi Laila terlihat begitu lelah.


Berbeda dengan Adam, anak itu terlihat begitu antusias. Dia bahkan tak henti henti nya mengomentari apa pun yang dia lihat, Adam juga selalu bertanya pada Arkana tentang hal yang belum ia ketahui.


Setelah beristirahat selama dua jam, akhirnya mereka pun kembali menuju pesawat karna perjalanan akan segera di lanjut kan.


Perjalanan kali ini Adam lebih sering tidur, tak secerewet saat baru lepas landas dari Bandar udara internasional Soekarno Hatta .Laila pun sama, wanita yang sudah menjadi istri dari Arkana Fatwa Dijaya itu nampak tidur dengan pulas. Arkana pun ikut tidur, karna tak ada teman untuk bicara.


Empat belas jam kemudian, pesawat pun telah Landing di Bandar Udara New York, Adam langsung tersenyum seraya mengedarkan pandangan nya.


Ternyata saat mereka tiba, sudah ada jemputan yang menunggu. Memang pihak hotel sengaja menjemput para tamu penting yang akan melaksanakan lomba,karna itu memang sudah ketentuan dari pihak perusahaan yang mengadakan lomba tersebut.


Setelah setengah jam perjalanan mereka pun sampai di hotel mewah yang ada di New York, semua orang langsung memandang Arkana yang menggendong Adam dengan tangan kiri nya dan menggenggam tangan Laila dengan tangan kanan nya.


Mereka pun langsung berjalan menuju meja resepsionis, Arkana pun meminta id card atas nama Adam.


"Exuse me Miss, i wan to ask id card on behalf of Adam Putra Pratama." Ucap Arkana.


(Permisi, saya mau meminta id card atas nama Adam putra Pratama.)


Bukan nya menjawab resepsionis itu malah melihat wajah Arkana dan Adam secara bergantian, Arkana pun nampak bingung dengan tingkah wanita itu, Arkana pun melambaikan tangan nya tepat di depan wajah resepsionis wanita itu.


"Ah, i'm so sorry Mister. On behalf of Adam Putra Pratama, Child of Mister Arkana Sastra Dijaya and Mrs Laila Pratama ?"


(Saya minta maaf tuan, atas nama Adam Putra Pratama, anak dari Tuan Arkana Sastra Dijaya dan Nyonya Laila Pratama?)


"Yes Miss, "Jawab Arkana.


Dengan senyum nya yang ramah, resepsionis itu pun memberikan id card nya pada Arkana. Setelah itu mereka pun langsung bergegas menuju kamar yang sudah di siap kan untuk mereka.


Selama perjalanan menuju kamar nya, orang orang yang ada di sana terus saja melihat Adam dan Arkana secara bergantian.


Tatapan mereka terlihat mengintimidasi, bahkan dari mereka pun mulai ada yang berkomentar tentang Adam dan Arkana.


Tapi Arkana, terkesan cuek. Yang ada di pikiran Arkana saat ini, hanyalah mengantar putra nya untuk mengikuti lomba. Tak ada niatan lain nya, Arkana juga tak berniat mencari tahu tentang Ayah kandung nya.


Karna buat Arkana, Tuan Seno lah Ayah nya. Lelaki yang berani mengangkat seorang Alina yang mengandung anak hasil perkosaan dengan lapang dada, bahkan Tuan Seno mencurah kan kasih sayang nya terhadap Arkana dengan tulus.


Saat masuk ke dalam kamar, mereka terlihat sangat kagum dengan kemewahan kamar hotel tersebut. Terlihat sangat luas dan nyaman, bahkan kasur nya pun ada dua .


Hal itu membuat Arkana berdecak senang, ternyata pihak hotel begitu pengertian pikir Arkana. Arkana pun langsung merapikan barang bawaan mereka, karna mereka harus segera istirahat untuk menyambut hari esok.


Laila pun nampak membantu, sedangkan Adam kini sedang melihat suasana kota New York dari balik kaca besar di dalam kamar nya.


Adam terlihat sangat bahagia, dari mata nya pun begitu terpancar rona kebahagiaan yang tak terkira.


"Sayang, "Panggil Arkana.


"Apa Mas? "


"Kelonin Adam gih, biar cepet bobo."


Laila memicingkan mata nya, waktu memang menunjukan pukul sembilan malam. Tapi Laila merasa tak yakin jika Arkana tak mengingin kan sesuatu yang lain nya.


"Kenapa menatap ku seperti itu?"


"Tidak apa apa, ya sudah aku nyamperin Adam dulu."


Laila pun menghampiri Adam yang terlihat asik menikmati indah nya malam, dia mengusap lembut kepala putri nya.


"Bobo sayang, sudah malam. Besok pukul sembilan pagi kita harus ke perusahaan tempat di adakan nya lomba, kamu harus mengambil nomer peserta."Ucap Laila.


"Iya Bu, tapi sebelum tidur boleh kan aku video call Kakek sama Nenek ?"


"Boleh, "Jawab Laila.


"Kalau Om Devan? "


"Tentu boleh, "Jawab Laila lagi.


Dengan hati riang Adam pun mengambil ponsel nya dan langsung melakukan panggilan video call pada Kakek dan Nenek nya.


Tuan Seno dan Nyonya Alina begitu senang saat mendapat panggilan Video call dari cucu nya, setelah dua puluh menit, Adam pun mematikan sambungan video nya.


Kemudian Adam pun kembali melakukan video call pada Devano, Arkana sudah terlihat tak sabar. Karna putra jenius nya tak juga tidur, padahal dia sudah tak sabar ingin mencumbu istri nya.


Dan pada akhirnya pukul setengah sebelas malam, Adam pun langsung pulas dalam tidur nya. Arkana pun berdecak senang, dia pun langsung meminta jatah nya sebelum Laila ikut tertidur pulas dengan Adam.


+


+


+


TBC