Who Is Adam?

Who Is Adam?
Siapa Dia?



Selepas shalat dzuhur, Adam mengajak Sisil untuk berburu kuliner di kota kembang tersebut.


Lidah dan mata Sisil benar-benar dimanjakan oleh makanan dan tempat-tempat yang terlihat bagus dan memanjakan mata.


Bahkan Sisil pun begitu ceria kala makanan yang dia sangat inginkan sudah dia dapatkan. Ternyata tak ada Caffe yang menyediakan makanan yang bernama colenak tersebut.


Sisil justru mendapatkan makanan khas Bandung tersebut di pinggir jalan, di kedai kecil dengan gerobak sederhana.


Di dekat taman kota, tempat biasa anak muda nongkrong di saat weekend tiba.


"Sudah kenyang?" tanya Adam.


"Sudah," jawab Sisil singkat.


"Kalau begitu kita mampir ke Caffe dulu, Mas haus. Ngantuk juga, pengen ngopi," ucap Adam.


"Boleh, Mas. Aku juga mau minum jus buah," ucap Sisil.


Akhirnya Adam dan Sisil pun pergi ke sebuah Caffe yang tak jauh dari taman kota tersebut, Sampai di Caffefe Adam langsung memesan kopi Hitam.


Sisil pun ikut memesan, dia memesan segelas jus mangga untuk dia minum. Sisil juga memesan cake dengan rasa strawberry, dengan taburan kacang mede di atasnya.


"Silakan dinikmati, Tuan, Nyonya." Seorang pelayan menyodorkan pesanan Adam dan Sisil.


"Terima kasih," jawab Sisil dengan senyum hangatnya.


Adam langsung menikmati secangkir kopi hitam yang dia pesan, sedangkan Sisil langsung melahap cake yang dia pesan.


Padahal dia berkata sudah kenyang, namun cake itu dia makan dengan lahap. Adam hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Adam, kamu di sini juga?" seorang wanita cantik dan juga seksi nampak menepuk pundak Adam sambil menatapnya dengan tatapan penuh rindu.


Sisil langsung menghentikan kunyahannya, dia menatap wanita itu dengan lekat. Dia dapat melihat, jika wanita itu begitu menyukai suaminya.


"Rei, kamu di sini juga?" Adam terlihat bangun dan tersenyum hangat pada wanita tersebut.


Adam terlihat mengulurkan tangannya, tapi wanita itu malah memeluk Adam dan berjinjit untuk mengecup pipi Adam.


Melihat akan hal itu, Sisil langsung melongo tak percaya dibuatnya. Dia bahkan sampai tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa diam menatap suaminya bersama perempuan lain.


"Aku benar-benar ngga percaya busa bertemu lagi sama kamu sejak kita wisuda dan kamu me--"


Wanita itu terlihat tak meneruskan ucapannya, wajahnya terlihat berubah sendu. Sisil jadi bingung dibuatnya.


"Duduklah dulu, kita ngopi bareng. Kamu masih suka ngopi, kan?" tanya Adam.


"Masih, sama seperti dulu kita sering bersama. Kopi hitam," ucapnya seraya tertawa pilu.


"Kamu hari ini cantik sekali, pakai baju resmi pula. Ngga jadi desainer?" tanya Adam.


"Aku tetap menjalankan butik, namun karena Daddy tiada aku pun terpaksa mengambil alih perusahaannya." Wanita itu terlihat berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku turut berduka cita, semoga kamu bisa bersabar menghadapi semua cobaan ini." Adam mengelus punggung wanita itu lembut sekali.


"Terima kasih, aku mau ketemu klien. Bagaimana kalau setelah bertemu klien kita jalan bareng?" tanya wanita itu.


"Ekhm!" Sisil berdehem dengan sangat keras, membuat dua manusia yang sedang asik bercengkrama itu langsung menoleh.


"Dia siapa? Jangan bilang kalau wanita ini adalah Pricilia?" tanya permpuan itu.


"Oh Tuhan, kamu tahu Pricilia? Setiap hari hanya nama kamu yang selalu dia bahas, rasanya itu membuatku jenuh." Reina terlihat mekutar bola matanya dengan bibir yang mengkrucut.


Sisil jadi bingung harus menanggapinya seperti apa, dia hanya diam sambil tersenyum kaku. Dia juga memperhatikan wajah Reina yang terlihat begitu tak menyukai dirinya.


"Nona Rei, maaf mengganggu. Klien yang kita tunggu sudah hadir," kata seorang pria muda yang tiba-tiba saja datang.


Reina terlihat menganggukkan kepalanya, kemudian dia bangun dan langsung mengecup pipi Adam.


"Aku pergi dulu, lain kali kita akan bertemu lagi," kata wanita itu.


Adam terlihat mengangguk sopan, Sisil hanya bisa memperhatikan wanita itu yang terlihat menjauh dan duduk di meja yang terlihat berada di dekat pintu keluar.


Sebenarnya Sisil sangat ingin marah, tapi tak bisa. Karena dia tak tahu apa hubungan Adam dengan wanita itu.


Lagi pula ini di tempat umum, tak mungkin pikirnya untuk marah-marah tidak jelas.


"Mas, aku sudah lelah. Pulang sekarang ya?" pinta Sisil.


"Boleh, Mas ke kasir dulu. Mau nunggu sini apa nunggu di mobil?" tanya Adam.


"Aku tunggu di mobil saja," jawab Sisil.


Adam mengangguk setuju lalu berjalan ke arah kasir, sedangkan Sisil nampak berjalan keluar dari Caffe tersebut.


Saat Sisil hendak keluar dari Caffe, matanya sempat bersibobrok dengan tatapan mata Reina. Reina terlihat menatap Sisil dengan tataan tak suka, Sisil hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Tiba di luar Caffe, Sisil langsung menyandarkan tubuhnya pada mobil. Karena dia lupa meminta kunci mobilnya pada Adam.


Untuk sesaat matanya memindai pergerakan suaminya, Adam terlihat hendak keluar dari dalam Caffe tersebut.


Namun Reina sempat memanggil Adam dan memeluk Adam sejenak, hati Sisil terasa sangat panas.


Namun dia tidak bisa marah begitu saja, dia ingin Adam bercerita terlebih dahulu kepada dirinya tentang siapa wanita tersebut.


Dia tak ingin gegabah dan tak ingin menyimpulkan sesuatu hal yang belum tentu terjadi, siapa tahu wanita itu merupakan saudara dari Adam yang belum Sisil tahu.


"Maaf ya, Sayang. Aku lupa memberikan kunci mobilnya," ucap Adam.


Dia menghampiri Sisil dan mengecup keningnya, Adam juga membukakan pintu mobil untuk Sisil.


"Silakan, permaisuri hatiku." Adam terlihat membungkukkan tubuhnya, Sisil tersenyum lalu mengecup bibir Adam sebelum dia masuk ke dalam mobil mewah milik Adam.


Ya, Adam memutuskan untuk jalan-jalan berdua tanpa mengajak sang sopir. Dia meminta sopirnya untuk beristirahat, karena mereka akan pulang malam ini.


Selama perjalanan menuju hotel, baik Sisil atau pun Adam terlihat saling diam. Adam terlihat fakus dengan menyetir mobil, sedangkan Sisil terlihat sedang menunggu Adam untuk bercerita.


Sampai di hotel, Adam langsung mengajak Sisil untuk masuk ke dalam kamar hotel mereka. Adam langsung memutuskan untuk mandi, karena hari sudah menjelang sore.


Berbeda dengan Sisil yang malah terlihat merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia terlihat sedang berpikir keras.


Memikirkan wanita yang terlihat begitu dekat dengan suaminya, Adam.


"Tanya engga ya, siapa wanita itu? Tapi malu, kalau ngga nanya akunya penasaran." Sisil terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.


Dia begitu penasaran, kesal dan juga cemburu. Namun dia juga merasa takut kalau Adam akan ilfeel kalau dia asal bicara dan asal bertanya.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" tanya Sisil lirih.