
Mharta terlihat sedang duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya, sebenarnya dia masih ketakutan karena mendapatkan perlakuan kasar dari Adam.
Akan tetapi, dia berusaha untuk menutupi kekalutan di dalam hatinya dengan berselancar dengan ponselnya.
Sebutlah Mharta begitu terobsesi saat melihat ketampanan Adam, apa lagi saat melihat tubuh Adam yang terlihat atletis dengan rahang tegas dan sedikit bulu-bulu halus yang menghiasi wajahnya.
Adam terlihat begitu menggoda di mata Mharta, apalagi Martha sudah sekitar 2 bulan tidak pernah merasakan lagi kehangatan seorang lelaki.
Dia rindu kegiatan panasnya di atas ranjang, dia rindu belaian seorang pria perkasa. Karena selama 2 bulan ini, Martha mulai dikekang oleh sang Ayah.
Bukan tanpa sebab, alasannya karena Mharta ketahuan sering berkencan dengan pejabat yang usianya lebih tua darinya.
Bahkan, dia juga sudah tertangkap basah oleh Ayahnya sendiri saat berhubungan badan dengan kekasihnya. Ayah Martha memang gila harta, dia selalu melakukan hal-hal yang licik demi mendapatkan proyek yang besar.
Akan tetapi, dia juga manusia biasa. Dia adalah orang tua, dia sangat menyayangi putrinya, Mharta. Sebisa mungkin, dia ingin menjaga putrinya.
Tetapi, karena kesibukannya dalam berbisnis. Membuat Martha kehilangan kasih sayangnya, karena memang Mharta tidak mempunyai Ibu semenjak kecil.
Sedangkan Ayahnya, begitu terobsesi dengan perusahaannya. Dia terlalu sibuk dalam menjalankan rencana liciknya, dalam mendapatkan harta.
" Ah, sial! Kenapa aku bisa gagal? padahal tinggal sedikit lagi, kenapa juga dia bisa tersadar kalau minuman yang aku berikan kepadanya ternyata mengandung obat perangsang?
Mharta bangun dari duduknya, dia terlihat mondar-mandir karena hatinya merasa tak tenang. Dia merasa gusar, dia merasa panik, jika mengingat akan obat perangsang yang dia tuang memanglah dalam dosis tinggi.
"Dasar pria tampan sialan! Kenapa dia begitu kasar padaku?!" kesal Martha.
Martha pun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, dia lelah berperang dengan pikirannya sendiri. Dia ingin memejamkan matanya sebentar, dia ingin tidur dan berharap saat bangun nanti, Mharta hanya sedang mengalami mimpi buruk.
Akan tetapi, baru saja matanya terpejam. Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu apartemennya. Dengan langkah malas, Martha pun membukakan pintu apartemennya.
Saat pintu sudah terbuka, terlihatlah dua orang laki-laki bertubuh tinggi tegap menghampiri Mharta.
" Maaf, Nona. Kami dari jasa pengiriman barang, ada yang mengirimkan paket untuk, Nona. Tetapi paketnya sangat besar, kami tidak bisa membawanya kemari. Apakah Nona bisa turun bersama kami ke bawah, untuk melihat paket tersebut?" tanya salah satu lelaki tersebut.
Awalnya Martha merasa ragu, saat melihat kedua pria tersebut. Akan tetapi, karena merasa penasaran, Mharta pun akhirnya setuju.
"Baiklah, Mari kita lihat paket apa yang dihadiahkan untukku," ucap Martha.
Setelah mendapatkan jawaban dari Mharta, Kedua lelaki tersebut pun langsung melangkahkan kakinya. Mharta pun mengekori kedua laki-laki tersebut, pada saat keluar loby apartemen, Mharta pun bertanya pada kedua lelaki tersebut.
"Di mana peketnya?" tanya Mharta.
"Mari, Nona. Biar kami tunjukan," ucap salah satu lelaki yang bertubuh tegap tersebut.
Lelaki itu menuntun Mharta pada sebuah mobil yang terparkir di depan loby hotel, tanpa Mharta duga lelaki tersebut langsung menempelkan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius ke wajah Martha.
Martha yang awalnya memberontak, tak bisa berkutik karena obat bius nya langsung bereaksi. Setelah Martha terkulai lemas, kedua pria tersebut pun langsung memasukkan Martha ke dalam mobil dan membawanya ke suatu tempat sesuai dengan arahan sang Master.
Setelah melakukan satu jam perjalanan, Mharta pun di bawa ke sebuah gudang di pinggir hutan. Salah satu dari lelaki tersebut pun langsung menggendong Martha dan membawanya ke dalam gudang tersebut.
"Selamat malam, Master." Sapa mereka bersamaan.
"Malam, kerja yang bagus Bastra, Idan. Bawakan aku air satu ember," titah Tuan Arley.
Dengan cepat, Basrta pun mengambil satu ember air dan memberikannya kepada Tuhan Arley. Tanpa ragu, Tuan Arley pun langsung mengguyur tubuh Mharta dengan air yang dibawakan oleh Bastra.
Byuuuurrr!!!
Mharta yang tadinya ada dalam pengaruh obat bius pun, langsung tersentak kaget ketika mendapatkan guyuran dari Tuan Arley.
Dia terlihat gelagapan, lalu dia pun mengerjapkan matanya berkali-kali. Setelah pandangannya terlihat jelas, dia pun menatap Tuan Arley dan juga Arkana dengan tatapan tajamnya.
"Apa yang kalian lakukan padaku, wahai orang tua gila?!" tanya Martha dengan wajah penuh emosi.
Tuan Arley dan juga Arkana, langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Mereka merasa sangat lucu, karena dalam keadaan terancam pun, Martha masih bisa berteriak dan memaki dengan kencang.
"Kamu itu sangat lucu, tentu saja kami ingin memberikan sedikit pelajaran sama kamu." Tuan Arley langsung menghampiri Mharta dan tersenyum devil.
"Apa maksudmu, Kakek tua?!" sentak Mharta.
" Cucuku hampir mati karena ulahmu, kalau saja kamu tidak memberikan obat perangsang dengan dosis tinggi kepada cucuku, pasti saat ini kondisi cucuku masih berada dalam keadaan baik-baik saja."
Tuan Arley berkata sambil mengeluarkan satu botol kecil obat ke depan Mharta.
Marta langsung tersentak kaget, saat melihat merek obat perangsang yang begitu sama dengan apa yang dia berikan kepada Adam.
Hatinya pun mulai bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan kakek tua itu kepada dirinya? Apakah kakek tua itu akan memakai obat perangsang lalu memperkosanya? itulah pikiran yang terlintas di otak pendek Mharta.
Martha terlihat ketakutan, sedangkan Tuan Arley langsung menyeringai saat melihat wajah Mharta yang tiba-tiba saja berubah pias.
"Karena kamu sudah bermain-main dengan keluargaku, maka sekarang giliran aku yang akan bermain-main dengan dirimu, wahai rubah kecil." Seru Tuhan Arley.
"Bastra, buka mulut rubah kecil itu!" titah Tuan Arley," Bastra menurut, dia langsung berusaha membuka mulut Mharta." Idah, masukan obat ini dalam mulutnya. Jangan sampai tersisa sedikitpun," titahnya lagi.
Idan menurut, dia mengambil obat perangsang yang ada di tangan Tuan Arley, membukanya dan langsung menuangkan satu botol penuh ke dalam mulut Mharta.
Mharta sempat memberontak, tapi dengan cepat Bastra mencekal rahang Mharta dan mendongakkan wajah Mharta.
Sehingga pada akhirnya, Mharta tidak bisa berkutik dan dengan secepat kilat dia menelan cairan obat perangsang itu
Tak lama, Mharta terlihat menggeliatkan tubuhnya. Dia terlihat kepanasan dan bahkan dia mulai meracau tidak jelas. Mharta bahkan menggesek-gesekkan bokongnya ke tiang yang di jadikan tempat mengikat tangannya.
Karena obat perangsang yang Mharta telan berdosis tinggi, Mharta terlihat hilang kendali. Matanya memerah, badannya terus saja ia liukan, dia juga merintih dam meminta tolong untuk di jamah.
*/*
Jangan lupa sisakan Vote'nya ya.. 😘😘😘