
Seorang pemuda tampan baru saja turun dari mobil. mewahnya, dia berjalan beriringan dengan Grandpa'nya.
Usianya memang baru menginjak dua puluh satu tahun, tapi, dia sudah lulus S2 dan mendapatkan gelar Magister Arsitektur (M. Ars).
Adam Putra Caldwell
Adam memang sudah mempunyai perusahaannya sendiri, semenjak lulus SMA, Adam langsung mengukuhkan perusahaan' nya APC Corp.
Sambil kuliah, Adam tetap menerima tawaran pekerjaan. Karena pekerjaan bukan sekedar untuk mencari uang, akan tetapi, memang hobi dan fashion Adam berada di situ.
Tapi, Tuan Arley sengaja meminta tolong kepada Adam untuk mengelola perusahaan milik'nya. Bukan tanpa alasan, dia sudah berumur enam puluh lima tahun. Sedangkan Haidar sang putra, baru berusia lima belas tahun.
Tak mungkin bukan, jika anak sekecil itu bisa mengelola perusahaan Daddynya?
Walaupun berat hati, Adam. menuruti perintah Grandpa 'nya, dia memilih memimpin perusahaan BAC Corp. Dengan catatan, jika Haidar sudah cukup umur Adam, akan memberikan perusahaan itu pada Haidar.
Karena Adam ingin fokus pada perusahaannya sendiri, sedangkan untuk perusahaan milik Adam. Dia serahkan pada Ferdinand, anak dari orang kepercayaan Tuan Arley Fernandez.
Bukan tanpa alsan Adam mempercayakan perusahaannya pada Ferdinand, karena memang saat mereka kuliah bersama di negeri A, Adam sangat tahu kemampuan Ferdinand yang mempuni.
Adam dan Tuan Arley nampak sudah masuk ke loby kantor, semua karyawan membungkuk hormat. Adam yang terlihat sangat tampan, membuat para kaum hawa memberhentikan aktivitasnya.
Mereka menyempatkan diri untuk mencuri pandang, menatap ketampanan generasi penerus dari Tuan Arley tersebut.
Adam dan Tuan Arley seakan tak menghiraukan tatapan para kaum hawa itu, mereka terus saja berjalan. Hingga akhirnya, mereka pun sampai di lantai tiga puluh.
Lantai di mana tempat kepemimpinan tertinggi perusahaan berada, tempat yang hanya di tempati oleh sang CEO, seorang sekretaris yang bernama Leo dan juga sang asiten kepercayaan bernama Mahendra.
Saat Tuan Arley dan Adam hendak masuk ke dalam ruangan Tuan Arley, yang sebentar lagi akan menjadi miliknya, pintunya sudah terbuka dari dalam.
Nampaklah seorang gadis cantik berseragam OB, dengan membawa kemoceng dan sapu di tangan kanan dan kirinya.
Untuk sesat mata Adam terpaut dengan gadis cantik itu, tapi, dengan cepat wanita itu menunduk dan membungkuk hormat pada Adam dan juga tuan Arley.
"Selamat pagi, Tuan. Maaf, saya baru selesai membersihkan ruangan, Tuan." Terlihat raut khawatir, dari wajah gadis tersebut.
"Tidak apa, sekarang kembalilah ke pantry." Titah Tuan Arley.
"Iya, Tuan." Gadis itu langsung berlalu, dari hadapan Adam dan Tuan Arley.
Adam sempat memperhatikan cara berjalan gadis tersebut, dia melangkah dengan sedikit menyeret kaki kirinya.
"Kenapa, Boy?" Tanya Tuan Arley.
"Tidak apa-apa, hanya saja, aku suka salut dengan orang yang kurang sempurna tapi dia masih semangat untuk bekerja." Adam memuji gadis berseragam OB, yang berpapasan dengannya.
Tuan Arley lalu tersenyum, dia tahu jika cucunya memang selalu perhatian dengan sekelilingnya.
"Namanya Sisil, dia baru dua bulan kerja di sini. Grandpa harap, kamu tidak akan menggoda gadis polos itu." Tuan Arley langsung tergelak, Setelah mengucapkan kalimat itu.
"Ck, tidak mungkin. Aku bukan tipe lelaki penggoda!" Adam melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan, yang sebentar lagi akan menjadi tempatnya bekerja.
Tuan Arley langsung mengikuti Adam, Sampai di dalam ruangan. Tuan Arley langsung mempersilahkan Adam, untuk di duduk di atas kursi kebesarannya.
"Ya, Grandpa tahu. Kamu bukan lah lelaki penggoda. Bahkan, kamu sama sekali belum pernah berpacaran." Tuan Arley kembali tergelak, karena mengingat Adam yang tak pernah dekat dengan wanita manapun.
Adam langsung mendelik sebal, bukannya Adam tak normal. Tapi, waktunya seakan habis untuk bekerja dan belajar.
"Kalah kamu, sama Al. Walaupun usianya baru lima belas tahun, tapi, dia sudah punya pacar." Terang Tuan Arley.
Al memang periang, supel dan gampang bergaul. Banyak perempuan yang selalu mendekatinya, bahkan banyak perempuan yang suka membawakan banyak makanan untuk nya.
Dan sialnya, Al begitu Welcome. Banyak wanita yang terjerat dengan bujuk rayuannya, bahkan Laila sampai pusing dibuatnya.
Karena setiap hari, selalu ada saja anak permpuan yang datang ke rumah. Entah sekedar untuk bertemu dengan Al, atau hendak mengajak nya jalan.
"Tentu, Grandpa. Dia begitu mirip dengan' mu saat muda, sang Casanova penebar jala. Semoga saja, Haidar tidak menuruni sikap Grandpa yang satu itu." Adam berkata dengan sinis, dia sangat kesal. kalau di singgung masalah perempuan.
Tuan Arley terlihat kesal, lalu duduk di sofa tunggu.
"Grandpa, aku mau mulai bekerja. Jadi, masih mau menemani ku atau segera pulang?" tanya Adam.
"Ah, Grandpa pulang saja. Oh iya, kamu mau minum apa? Biar sekalian Grandpa pesankan," tawar Tuan Arley.
"Kopi, jangan terlalu manis." Adam berucap sambil membuka laptop yang berada tepat di atas meja.
"Ok, bekerjalah dengan baik. Grandpa mengandalkanmu," tuan Arley memukul pelan pundak Adam.
"Kau bisa mengandalkan ku," ucap Adam.
Tuan Arley langsung keluar dari ruangan Adam, sedangkan Adam langsung berkutat dengan pekerjaan yang menunggu untuk di kerjakan.
Sepuluh menit kemudian, terdengar bunyi pintu yang di ketuk dari luar.
"Masuk!" titah Adam.
Munculah gadis yang tadi Adam lihat, dia membawa segelas kopi di atas nampan yang dia bawa.
"Ini kopinya, Tuan." Ucap Gadis itu sopan.
"Terima kasih--"
"Sisil, Tuan." Sambung Sisil.
"Oh iya, Sisil. Boleh aku bertanya?" Adam begitu penasaran dengan cara Sisil berjalan.
"Boleh, Tuan. Silahkan," Sisil pun dengan senang hati mempersilahkan Adam untuk bertanya padanya.
"Kaki kamu, kenapa?" tanya Adam hati-hati.
"Ah, karena kecelakaan, Tuan." Jawab Sisil.
"Oh, kenapa tidak melakukan pengobatan, terapi atau pengobatan lainnya?" tanya Adam.
"Saya tidak punya biayanya, Tuan. Sudah bisa bekerja, dan kembali berjalan saja saya sudah bersyukur." Ucap Sisil.
"Memangnya kemana kedua orang tuamu?" tanya Adam lagi.
"Ibu saya meninggal dua bulan yang lalu, Tuan." Sisil terlihat tak nyaman dengan apa yang di tanyakan oleh Adam.
"Oh, Lalu--"
"Maaf, Tuan. Saya harus bekerja kembali," Sisil langsung memotong ucapan Adam.
Adam pun terlihat tak enak hati, dia pun langsung meminta maaf pada Sisil.
"Ah, maaf. Aku hanya penasaran," ucap Adam.
Sisil tak menjawab ucapan Adam, dia hanya membungkuk hormat lalu pergi dari ruangan Adam.
Selepas kepergian Sisil, dia Adam langsung menyesap kopi yang di buat oleh Sisil.
"Emph,, Enak!" Satu kata keluar dari mulut Adam.
+
+
+
Selamat datang di kehidupan Adam yang sudah menuju dewasa ya,, Jangan bosen-bosen buat mantengin cerita receh aku yah...