Who Is Adam?

Who Is Adam?
Ketakutan Ibunda Gracia



"Mom, belum siap?" tanya Leo saat masuk ke dalam kamar Mom Maura.


"sudah, Sayang. Hanya tinggal memoles bibir Mom dengan pewarna bibir," jawab Mom Maura.


"Kenapa perempuan suka sekali dandan? Menghabiskan waktu saja!" gerutu Leo.


Mom Maura lalu membalikkan badannya, dia menatap putranya dengan lekat.


"Jangan gerutu terus, sekarang kita berangkat." Mom Maura langsung bangun dan menggandeng tangan putranya.


Leo tak berkata apapun lagi, dia langsung mengikuti keinginan mom Maura. Setelah melakukan perjalanan selama 15 menit, mobil yang dikendarai oleh Leo pun sampai di depan rumah Cindy.


"Tunggu sebentar, Mom. Aku mau menjemput Cindy dulu," ucap Leo.


Leo lalu turun dari mobilnya, kemudian dia pun langsung masuk ke dalam rumah Cindy. Karena kebetulan Nyonya Meriana sedang menyiram tanaman di halaman depan.


Saat Leo hendak mengetuk pintu kamar Cindy, ternyata Cindy terlebih dahulu membuka pintu tersebut. Leo pun langsung tersenyum ketika melihat penampilan Cindy yang terlihat sangat cantik.


"Hai," sapa Leo.


"Hai juga, kamu udah sampe?" satu pertanyaan konyol keluar dari bibir Cindy.


Leo langsung tergelak, "tentu, kalau belum sampai aku tak ada di sini."


"Kamu benar," jawab Cindy.


"Ya Tuhan, dia tampan sekali. Apa aku sudah mulai menyukainya?" tanya Cindy dalam hati.


"Kenapa?" tanya Leo.


"Tak apa, ayo kita berangkat," ajak Cindy.


"Ayo," jawab Leo.


Tanpa Cindy duga, Leo langsung menautkan tangannya. Cindy sempat terdiam, dia memandang tangannya yang bertaut dengan tangan Leo.


"Kenapa? Ngga boleh, ya?" tanya Leo.


"Ehm, boleh." Cindy terlihat gugup, entah karena apa dia pun tak mengerti.


Leo hanya tersenyum melihat tingkah Cindy, dia yakin kalau Cidy sudah mulai menyukainya.


Percaya diri sekali memang Babang Leo ini, sampai tak sadar kalau dia sudah mengabaikan pacarnya karena terlalu sibuk pedekate dengan Cindy.


Ya, walaupun Leo akui kalau berdekatan dengan Cindy itu terasa sangat nyaman. Bahkan Cindy itu terkesan sangat kalem dan pengertian menurut Leo.


Tak seperti pacarnya yang selalu curigaan, bahkan terkesan labil dan emosian. Ya, walaupun pacarnya begitu lihai saat bergoyang di atas ranjang.


"Tante, aku bawa Cindy'ny, ya?" izin Leo.


"Ya, tolong anterin sampai kantor, ya? jangan dibungkus!" ucap Nyonya Meriana.


"Ya ampun, memangnya aku apaan?" protes Cindy.


"Canda, Sayang," jawab Nyonya Meriana.


Setelah berpamitan dengan Nyonya Meriana, Leo pun langsung menuntun Cindy agar masuk ke dalam mobilnya.


Saat dia membuka pintu belakang, Leo sangat kaget karena ternyata, Mom Maura sudah duduk anteng di sana.


"Mom pindah?" tanya Leo.


"Yes, Tampan. Kamu duduk anteng saja sama Cindy, yang tua ngalah," ucap Mom Maura.


"Ya ampun, Mom sangat pengertian." Leo kembali menutup pintu mobilnya.


Kemudian dia membuka pintu mobil depan dan menunggu Cindy sampai masuk dan duduk dengan nyaman.


"Terima kasih,'' ucap Cindy.


Leo tersenyum, setelah itu dia langsung masuk dan duduk di balik kemudi.


"Ngga apa-apa, kan, ke Rumah Sakit dulu?" tanya Leo.


Leo dan Cindy terlihat terlibat obrolan selama dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Mom Maura terlihat tersenyum senang melihat Leo yang cepat akrab dengan Cindy.


Sampai di Rumah Sakit, Leo dan Cindy langsung mengantarkan Mom Maura ke ruangan dokter yang biasa menangani cek kesehatan Mom'nya itu.


Sampai di depan ruangan dokter, dahi Leo langsung kengernyit kala melihat Gracia yang baru saja keluar dari ruangan tersebut bersama dengan Ibunya.


"Gracia!" panggil Leo.


"Tuan, kebetulan sekali bisa bertemu." Gracia terlihat tersenyum sambil memperhatikan dua wanita yang tengah berada di dekat Leo.


Begitupun dengan Mom Maura, dia menatap Gracia dan Ibunda Gracia dengan sangat lekat. Sedangkan Leo terlihat asik bercakap dengan Gracia, Leo juga sempat menanyakan perkembangan kesehatan dari Ibunda Gracia.


Setelah lama memandangi Bunda Gracia, Mom Maura yang terlihat penasaran pun langsung bertanya kepada Leo.


"Leo, apakah kamu mengenal perempuan itu?" tanya Mom Maura seraya menunjuk Ibunda Gracia.


"Tentu, Mom. Dia adalah Ibu dari Gracia," ucap Leo.


Ibu Gracia terlihat menggeser tubuhnya, dia malah terkesan tak mau berhadapan dengan Mom Maura. Entah takut atau apa, tak ada yang tahu.


Saat Mom Maura kembali menatapnya, Ibunda Gracia malah bersembunyi di balik punggung putrinya.


Hal itu membuat Leo dan juga Mom Maura merasa heran, Cindy pun sama herannya.


"Gracia, bisakah aku melihat wajah Ibu mu sebentar?" tanya Mom Maura.


Gracia terlihat bingung, namun dia pun perlahan menggeser tubuhnya. Tapi Ibunda Gracia seakan tak mau memperlihatkan wajahnya, dia malah semakin menenggelamkan wajahnya di balik punggung Gracia.


"Hanya sebentar saja, aku ingin memastikan sesuatu," ucap Mom Maura.


Namun tetap saja Ibunda Gracia itu tak mau memperlihatkan wajahnya, dia malah menggeleng lemah di balik punggungnya Gracia.


Cindy yang tidak tahu apa-apa pun, merasa bingung melihat kelakuan dari Ibunda Gracia tersebut. Namun, dia tak bisa ikut campur.


"Memangnya kenapa? Kenapa Mom ingin sekali melihat wajah Ibunda Gracia?" tanya Leo.


"Tidak apa-apa, aku bilang aku hanya ingin memastikan sesuatu," jawab Mom Maura.


Sayangnya ibunda Gracia malah berusaha untuk mendorong putrinya tersebut, agar bisa segera pergi dari sana.


Gracia sebenarnya merasa tak enak hati, namun dia tetap menuruti keinginan Ibunya. Namun sebelum pergi Gracia sempat membungkukkan tubuhnya beberapa kali.


Lalu, Gracia pun langsung berkata, "maaf Tuan, saya pergi terlebih dahulu."


"Iya," jawab Leo.


Sebenarnya Leo bertanya-tanya dalam hatinya saat melihat Ibunda Gracia yang merasa tidak nyaman saat bertemu dengan Momnya.


Leo pun hanya bisa melihat kepergian Gracia dan juga ibundanya dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


Setelah kepergian Gracia, Leo ingin sekali bertanya kepada Mom'nya. Namun dia harus segera berangkat ke kantor, karena takut terlambat.


"Mom, maaf. Aku harus berangkat sekarang, karena masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan," ucap Leo.


"Ya, Sayang. Pergilah, jangan lupa antarkan Cindy sampai ke kantornya," ucap Mom Maura.


"Ya," jawab Leo.


Setelah berpamitan, Leo langsung mengantarkan Cindy. Tentunya sampai ke kantornya, sesuai permintaan Mom'nya.


"Terima kasih," ucap Cindy saat hendak turun dari mobil Leo.


"Ya, sama-sama," jawab Leo


Cindy pun langsung turun dan masuk ke dalam perusahaan milik Tuan Bram yang kini dikelola oleh dirinya tersebut, sedangkan Leo langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan BAC Corp.


Sepanjang perjalanan menuju BAC Corp, Leo terlihat bertanya-tanya dalam hatinya. Sebenarnya ada hubungan apa antara Ibunda Gracia dengan Momnya? Kenapa mereka seperti ada hubungan di masa lalu?


Namun walaupun seperti itu, Leo tak berani menebak karena dia takut salah.