Who Is Adam?

Who Is Adam?
Digodog



"Pagi, Sayang." Sapa Adam, "pagi semua." Sapa Adam pada semua anggota keluarganya.


"Pagi..." jawab Laila.


"Bagaimana?" tanya Tuan Arley.


Mendapatkan pertanyaan dari Tuan Arley, Adam langsung menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Tuan Arley langsung mengernyit heran, pasalnya saat melihat Sisil, dia melihat raut tak suka. Saat melihat Adam, malah terlihat seperti orang yang sangat bersalah.


Sarapan pagi ini terkesan kurang bersahabat antara Adam dan Sisil, Sisil terkesan mengabaikan Adam. Lelaki yang kemarin mengesahkan dirinya sebagai istri dan lelaki yang tadi malam membuat hatinya dongkol bukan kepalang.


Baru juga sepuluh menit, pikirnya. Sakitnya saja belum hilang, sudah disuguhi pelepasan yang membuat dinding kewanitaannya terasa semakin perih.


Kalau boleh memilih, Sisil lebih baik menghindar dari Adam. Atau perlu, dia ingin sekali pergi untuk menenangkan hatinya. Sisil adalah pecinta film drama korea, tentunya di film-flm korea Kaleyan tahu lah yah... tautan bibirnya saja sudah bikin sekujur tubuh terasa panas.


Sudah dapat dipastikan jika harapan Sisil begitu besar, dia ingin merasakan malam pertama yang terasa luar biasa. Sebenarnya ya... Sisil bukan hanya kesal karena perkara sepuluh menit, akan tetapi saat Akan mengadu pada Abigail, Sisil mendengarnya.


Sisil yang penasaran karena ditinggalkan oleh Adam begitu saja, tentu langsung mencari tahu. Kupingnya sangat panas kala mendengarkan penuturan Adam, dadanya bahkan terasa sesak.


Kenapa juga coba Adam bertanya pada orang lain? Apakah terasa sulit untuk membicarakan nya berdua saja?


Sisil yang masih uring-uringan, malah ikut ajakan Alicia, Airin dan juga Anggelica. Dia seolah tak ingin berduaan dulu dengan Adam, dia perlu merefreshkan hatinya.


Melihat Sisil yang hendak pergi dengan ketiga sepupunya, membuat Adam langsung mencekal lengan Sisil dengan cepat.


"Ayang... kamu mau kemana?" tanya Adam dengan tatapan sendunya.


Sisil langsung berbalik dan menatap netra Adam dengan lekat, " mau jalan-jalan, Mas. Ketiga gadis cantik ini mengajak aku untuk pergi, hanya sebentar."


Sisil menjawab dengan senyum manis yang terkesan dibuat-buat, Adam langsung tertunduk lesu mendengar ucapan Sisil. Berbeda dengan Al yang langsung tertawa dengan keras.


"Apa?" tanya Adam tak suka.


Al langsung menutup mulutnya, lalu menggeleng dengan perlahan.


"Aku ngga di ajak, Yang?" tanya Sisil.


"Ini urusan perempuan, Mas ngga usah ikut." Sisil melepaskan cekalan tangan Adam, lalu dia pun berpamitan pada semua yang ada di sana.


Adam hanya bisa memandang Sisil yang semakin menjauh bersama ketiga sepupunya dengan tatapan sendunya.


Laila dan Arkana yang sedari tadi penasaran pun langsung bertanya.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Laila.


"Pengantin baru kok ngga ada seneng-senengnya." Ungkap Arkana.


"Sepertinya Bang Adam belum bisa memperlakukan istrinya dengan baik," celetuk Al.


Semua yang ada di sana nampak memandang Al dengan raut penasaran.


"Maksudnya?" tanya Devano.


"Dia belum bisa mengajak istrinya bermain di ranjang dengan cara yang baik," jelas Al.


Semua orang langsung melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Al, Nyonya Alina dengan cepat menjewer kuping Al.


"Anak kecil ngga boleh ngomong gitu, belum waktunya kamu tuh." Kesal Nyonya Alina.


Tuan Seno langsung menatap Tuan Arley dengan tajam, pasti cucunya itu merupakan titisan besannya itu, pikirnya.


"Haidar, ajak Al ke dalam kamar." Ucap Tuan Arley yang mendapat tatapan tak bersahabat dari Tuan Seno.


"Siap, Dad." Jawabnya. "Mom, aku ke kamar dulu." Haidar berpamitan pada Adisha lalu mengecup kening Mom'nya.


Haidar pun langsung mengajak Al untuk pergi dari sana, Karena suasananya terasa mencekam. Apa lagi saat melihat Tuan Arley dan Tuan Seno yang saling tatap dengan raut wajah berbeda, membuat Haidar ingin cepat berlalu dari sana.


Waktu sudah dirasa aman, tak ada lagi manusia yang berusia di bawah umur di sana.


"Jelaskan Adam!" sentak Arkana.


Adam terlihat bingung, bagaimana cara dia berbicara coba? Rasanya itu adalah aib terbesar dalam hidupnya, tapi kalau tak diceritakan pasti keluarganya akan terus mencecar.


"Em, itu Grandpa. Anu.... "


"Anu apa? Burung kamu tidak bisa mengeluarkan bisa?" tanya Tuan Arley, Adam langsung menggelengkan.


"Apa mungkin burung kamu tidak mau bangun?" tanya Devano, Adam pun langsung menggeleng.


"Lalu apa? Karena biasanya wanita sewot itu karena dia tak puas di ranjang, kalau masalah uang masih bisa dikompromikan." Jelas Tuan Seno.


Adam langsung tertunduk lesu, dia seolah terdakwa yang sedang disidang terlihat sangat gugup. Bahkan tangannya, dia remat secara bergantian.


"Boy..." Arkana tak kalah penasaran.


"Aku,"-- Adam menghela napas panjang--"hanya kuat sepuluh menit." Celetuk Adam.


Awalnya semua yang ada di sana nampak saling pandang, kemudian mereka pun tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa lucu dengan apa yang diucapkan oleh Adam.


Apa katanya? Cuma kuat sepuluh menit?


"Hey, tubuhmu keren, terlihat atletis dan sangat maco. Yang benar saja cuma sepuluh menit? Grandpa saja bisa bermain lama, karena pria harus pintar mengulur waktu." Terang Tuan Arley.


"Ck, Opa juga masih kuat lama. Masa kamu yang masih muda hanya sepuluh menit? Pantas saja istri kamu dongkolnya kebangetan," celetuk Tuan Seno.


"Bermain dengan istri itu, bukan masalah bagaiaman cara agar kita bisa puas. Namun, bagaiamana cara membuat pasangan kita merasa puas dan bangga dengan apa yang kita lakukan padanya. Jika pasangan kita merasa puas, kita akan merasa jauh lebih puas." Arkana ikut menimpali.


"Intinya saling mengerti keinginan pasangan, Faktanya lelaki juga suka minta diperhatikan. Tak hanya perempuan saja," ucap Adisha.


Tentu saja Adisha langsung berkata seperti itu, karena diusianya yang sudah masuk enam puluh lima tahun. Tuan Arley masih saja perkasa, bahkan Adisha harus mengeluarkan tenaga ektra untuk menuruti keinginan suaminya itu.


Tentunya, dengan cara yang lain. Paham kan ya? Karena Othor ngga mungkin menjelaskannya, hihihi.


"Aku terlalu terburu-buru, aku akan mencobanya untuk lebih sabar lagi." Ucap Adam seraya tertunduk malu.


"Harus, Boy. Kita ini kaum laki-laki, harus bisa memanjakan istri di atas ranjang. Kita sudah sibuk menghabiskan waktu untuk bekerja, jangan sampai istri kita akan mencari kepuasan di tempat lain." Jelas Tuan Seno.


Adisha, Laila pun dan juga Nyonya Alina hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar curhatan para pria tua itu. Tentunya, walaupun tua jangan ragukan burungnya masih bisa berkicau atau tidak.


Karena mereka selain suka olah raga, tentu masih mengkonsumsi jamu tradisional bikinan mereka sendiri. Tentunya, mereka juga pandai memberikan kesempatan pada pasangan untuk memberikan waktu pada mereka dalam mencari kepuasan.


Pagi Ini adam benar-benar merasa digodog dalam air asmara yang menggelora, Adam diajari cara mengendalikan hasratnya, Adam juga dibekali ilmu tentang cara membuat wanita merasa puas dan merasa ketagihan dari para suhu.


Adam merasa senang, tapi juga malu. Karena ternyata, usia muda belum tentu bisa lebih baik dari yang berusia matang.