
"Kamu kenapa melamun terus?" tanya Leo.
"Tidak apa-apa, Tuan. Aku cuma menghawatirkan keadaan Ibuku, semoga dia baik-baik saja." Gracia terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian, dia sungguh menghawatirkan keadaan Ibunya.
"Semoga saja hari ini pekerjaan kita cepat selesai, supaya nanti sore bisa pulang." Leo menpuk lembut pundak Gracia.
Gracia hanya bisa tersenyum canggung, semoga saja demikian. Semoga saja hari ini semua masalah yang ada di kantor cabang cepat teratasi, karena dia sudah sangat rindu akan ibunya.
"Ayo bersiap, sebenar lagi kita harus berangkat." Leo berdiri dan mengulurkan tangannya, Gracia pun langsung menerima uluran tangan Leo.
"Terima kasih," ucapnya.
Ada rasa tenang saat menggenggam tangan Leo, namun bukan sebagai rasa suka terhadap lawan jenis. Entahlah, Gracia pun tak tahu.
Adam yang melihat interaksi antara Leo dan Gracia hanya bisa tersenyum, Adam lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sisil.
Namun, tak kunjung di angkat. Akhirnya, Adam pun mengirimkan pesan chat untuk istrinya.
"Sayang, Mas. Lagi sibuk banget, Mas usahain hari ini akan menyelsaikan semuanya. Kamu baik-baik saja Ibu," pesan Adam.
Setelah mengirim pesan, Adam langsung melangkahkan kakinya menuju kamar hotel yang dia tempati. Dia harus segera bersiap untuk memberantas hewan pengerat yang menggerogoti dana perusahaan.
Setengah jam kemudian, Adam, Leo dan juga Gracia sudah siap dengan setelan kerjanya. Mereka pun langsung melesat menuju kantor cabang.
Jika bagi Leo dan Adam ini merupakan hal yang biasa, berbeda dengan Gracia yang terlihat gugup. Menurutnya hari ini merupakan hari yang sangat berat, dimana dia akan berurusan dengan hal besar.
Tiba di kantor cabang, Adam langsung melangkahkan kakinya menuju ruang meeting. Tentu saja Leo dan juga Gracia dengan setia mengekori langkah Tuannya.
Mereka sudah menyelidiki semuanya, bahkan Tuan Lee orang kepercayaannya Tuan Arley pun ikut membantu. Mereka meneliti pengeluaran dana menyisakan; yang selama satu tahun terakhir, ternyata kepala cabangnya pun ikut terlibat.
Adam terlihat sangat geram, karena dana yang dia gelapkan tak tanggung-tanggung. Bila saja tak segera diberantas, sudah dapat dipastikan jika satu tahun lagi kantor itu akan gulung tikar.
Adam bahkan sudah merencanakan semuanya dengan matang, sebelum dia berangkat ke kantor cabang. Adam sudah terlebih dahulu menelpon polisi, sehingga Adam bisa dengan mudah nantinya membekuk hewan pengerat yang bersarang di perusahaan Caldwell.
"Selamat pagi," sapa semua petinggi perusahaan yang sudah berkumpul di ruang meeting.
"Pagi," jawab Adam.
Adam langsung duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Leo dan Gracia duduk tepat di samping kanan dan kiri Adam.
Semua orang nampak mencari muka, mereka belum sadar dengan apa yang akan dilakukan oleh Adam kali ini. Mereka nampak tersenyum hangat sambil sesekali melemparkan omongan yang begitu manis.
"Dasar penjilat!" umpat Adam dalam hati.
Senangnya Tuan Arley, tak mau melibatkan polisi. Dia berpesan pada Adam agar langsung membawa para penjilat ke penangkaran Buaya saja, biarkan para buaya milik'nya kenyang dengan daging hewan pengerat itu.
Namun Adam masih memikirkan keluarga mereka, biarlah kepolisian yang mengurusnya, pikir Adam. Tuan Arley pun pasrah, dia menyerahkan semuanya kepada Adam.
"Selamat pagi semuanya, maaf kalau saya datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Saya hanya ingin memberikan kejutan," ucap Adam.
Seketika ruangan meeting pun menjadi riuh, wajah-wajah para penjilat itu pun langsung terlihat sumringah. Mereka terlihat bahagia mendengar kata kejutan, tanpa tahu apa yang akan mereka terima.
"Waah... anda ternyata benar-benar sangat pengertian," ucap Pak Handoyo si kepala cabang.
Adam hanya bisa menggelengkan kepalanya, ternyata mereka benar-benar tak tahu diri pikirnya, apakah mereka tak berpikir? Bagaimanapun juga orang yang menggoreng ikan asin itu, baunya akan tercium sampai jaraknya yang sangat jauh.
"Tuan Lee!" panggil Adam.
"Ya, Tuan Muda." Tuan Lee langsung bangun dan menghampiri Adam.
"Berkas yang sudah kita kerjakan tadi malam, mana?" tanya Adam.
Tuan Lee langsung menyerahkan semua berkas yang sudah sedari tadi dia pegang, Adam pun dengan senang hati menerima setumpuk berkas dari Tuan Lee.
"Maaf sebelumnya Tuan-Tuan, di sini saya menemukan banyak kecurangan, banyak penyimpanan dan banyak penyelewengan dana." Adam membuka lembaran-lembaran berkas yang diberikan oleh Tuan Lee.
Seketika ruangan meeting itu pun langsung sepi, tak ada satu pun yang bersuara. Wajah-wajah yang tadi terlihat begitu riang, kini terlihat sangat tegang.
"Tuan Handoyo, di sini tercatat selama tiga tahun anda menjabat sebagai kepala cabang. Anda sudah mengalirkan dana sebanyak tiga triliun ke rekening pribadi anda, bisa anda jelaskan?" tanya Adam dengan tatapan dinginnya.
Seketika wajah Tuan Handoyo berubah pias, dia tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya seketika seperti terkunci, Tuan Lee hanya menyunggingkan senyuman mengejek padanya.
Selama ini dia sudah memperingatkan dirinya, namun dia seolah tak perduli. Karena menurutnya, dia sudah bermain cantik. Tak akan mungkin bila ketahuan, pikirnya.
"Tuan Adinata, di sini juga tercatat. Saat pembangunan jembatan di daerah pelosok, anda menggantinya dengan bahan yang tidak berkualitas. Setengah dari dana yang dikucurkan perusahaan, langsung masuk ke dalam saku pribadi anda. Bisa anda jelaskan?" tanya Adam.
Tuan Adinata langsung memegang dada kirinya, wajahnya terlihat memerah. Entah menahan malu, kesal atau merasa bersalah.
Saat Adam hendak menyebut salah satu nama pengerat di dalam kantor tersebut, pintu ruang meeting ada yang mengetuk dari luar.
Leo pun dengan sigap langsung bangun dan membukakan pintu. Semua orang yang ada di sana langsung bangun dan hendak berlari, saat mengetahui ada serombongan polisi yang datang.
Beruntung para polisi itu sangat sigap, mereka langsung membekuk orang-orang yang ada di sana.
"Pak, Ini adalah nama-nama orang yang sudah menyelewengkan dana di perusahaan saya, ada buktinya juga di sana." Adam langsung menyerahkan berkas yang sedari tadi dia pegang.
"Oke, saya akan segera tindak lanjuti." Kata Pak Polisi.
Setelah berkata seperti itu, Adam, Leo, Gracia dan juga Tuan Lee langsung keluar dari ruangan tersebut.
Ada rasa lega, ada juga rasa takut. Itulah yang Gracia rasakan saat ini, ini adalah pengalaman pertamanya dalam menangani kasus dalam sebuah perusahaan.
+
+
Selamat pagi kesayangan, semoga kalian sehat selalu. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih juga buat yang selalu setia membaca karya Othor ini.
Kalau sempat, jangan lupa mampir di karya Othor yang lainnya, ya.. beri jejak dukungan.