
Cindy terlihat tersenyum-senyum si depan meja rias kala mengingat dirinya yang baru saja menyerahkan dirinya pada Leo, lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya.
Cindy dengan suka rela memberikan mahkotanya kepada suami tercintanya, lelaki yang dalam satu bulan ini telah mampu mencuri hatinya.
Sesekali dia terlihat menyisir rambutnya yang basah, sesekali dia juga terlihat memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya.
Ternyata benar kata pepatah, tak selamanya menikah karena perjodohan itu tidak bisa saling untuk mengenal dan saling memahami.
Buktinya Leo dan Cindy bisa saling mengenal dalam waktu yang singkat saja, mereka bisa saling memahami dalam waktu yang cepat.
Cindy dengan terbuka menceritakan tentang dirinya, begitu pun dengan Leo. Perjalanan hidup Cindy yang terkesan sangat baik membuat Leo tertarik untuk menikahinya.
Karena sejatinya, setiap orang menginginkan jodoh yang terbaik untuk menemaninya hingga ajal menjemput.
Leo pun dengan terbuka menceritakan semua tentang dirinya, bagaimana nakalnya dia dalam bermain wanita. Leo tak menceritakan kebaikannya, dia hanya berbicara ingin merubah hidupnya ke jalan yang lebih baik.
Justru hal itu yang membuat Cindy merasa tertarik, Leo mengakui kalau dia banyak melakukan kesalahan dan berjanji akan berubah untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Hal itu justru sangat baik menurut Cindy, dari pada berhubungan dengan orang yang merasa dirinya paling baik dan merasa jika dirinya paling benar.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" tanya Leo.
Leo terlihat memeluk Cindy dari belakang, tangan nakalnya mulai meremat dada istrinya. Hal itu membuat Cindy menahan napasnya.
"Mau lagi?" tanya Leo.
Cindy terlihat tersenyum malu-malu, lalu... tangannya menyentuh wajah suaminya dan mandangnya dengan tatapan penuh cinta dari pantulan cermin.
"Aku laper, dari kemarin sore belum sempat makan," ucapnya malu-malu.
Mereka berdua terlihat masih menggunakan kimono mandi saja, karena Leo baru saja meminta salah satu penjaga penginapan untuk membelikannya baju dan membelikan sarapan.
Walaupun sarannya sangat telat, karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.
"Sebentar lagi akan ada yang membawakan makanan untuk kita," kata Leo.
Bibir Leo terlihat mengecupi leher jenjang Cindy, tangannya pun memijat dada istrinya dengan lembut.
Mendapati perlakuan seperti itu dari suaminya, Cindy merasa tak yakin jika dia mampu mempertahankan dirinya untuk tidak melakukannya lagi.
"Mas! Nanti aku beneran pingsan, loh!" kata Cindy.
Mendengar ucapan Cindy, Leo langsung terkekeh.
"Ngga akan pingsan, Sayang. Yang ada kamu pasti akan menjerit minta lagi," kata Leo.
"Ish! Tapi kan, akunya lemes belum makan. Nanti lagi itunya kalau sudah makan," tawar Cindy kala tangan Leo sudah mengusap area intinya.
"Baiklah, kita akan melakukannya setelah kita makan. Tapi, izinkan aku untuk mencicipi menu pembukannya," kata Leo.
Dahi Cindy nampak mengernyit, dia bingung dengan menu pembuka yang dibicarakan oleh Leo.
Leo tehrlihat membalikkan tubuh istrinya, dia membuka tali kimono mandi milik istrinya. Cindy nampak malu dan menutupi dadanya, namun Leo dengan cepat menarik lembut tangan Cindy.
"Ini menu pembukanya," kata Leo.
Leo langsung mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Cindy, lalu mulai memijat dan mengulum puncak payudara istrinya.
Wajahnya terlihat menengadah, bibirnya terlihat terbuka. Suara-suara aneh pun mulai terdengar dari bibirnya, Leo sempat menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah istrinya.
Leo pun bersorak dalam hati karena bisa membuat Cindy terlihat begitu menikmati apa yang dia lakukan terhadap istrinya.
Cindy terlihat gelisah kala bibir Leo semakin turun mengecupi perut sampai area intinya.
"Mas! Jangan!" kata Cindy.
Bibirnya berkata jangan, namun tangannya terlihat menekan kepala Leo saat lelaki itu memainkan lidahnya di area terkecil dalam tubuh Cindy.
Apa lagi saat Leo menggigit lembut area intinya, membuat Cindy ingin berteriak. Namun, dengan cepat Cindy menutup mulutnya.
Leo tersenyum, lalu dia bangun dan mengangkat tubuh Cindy ke atas meja rias. Karena merasa milik istrinya sudah sangat siap, dia pun langsung membuka kimono mandinya dan mengarahkan miliknya pada kelembutan milik istrinya.
Cindy langsung mencengkram tangan Leo dengan erat, karena tiba-tiba saja kenikmatan itu datang menggelung tubuhnya.
Leo melihat jam di atas nakas, dia bisa memperkirakan jika orang suruhannya pasti akan datang sekitar tiga puluh menit lagi.
Leo pun mempercepat hentakkan pinggulnya, dia tak mau jika ada yang menganggunya sebelum dia mendapatkan pelepasannya.
Leo menatap wajah Cindy yang tampak begitu menikmati permainan yang Leo lakukan, berbeda dengan saat pertama Leo membenamkan miliknya.
Cindy nampak kesakitan, namun dia berusaha untuk menahannya. Dia seperti tidak ingin mengecewakan dirinya, dia seperti sangat ingin membuat Leo puas.
Bahkan setelah setengah jam permainan yang mereka lakukan berlangsung, Cindy berusaha untuk mengimbangi permainan Leo.
"Enak banget, Yang. Punya aku kaya kejepit," kata Leo.
Cindy terlihat tersipu malu, dia langsung memeluk Leo dan menggigit pundak Leo dengan gemas.
"Nakal!" seru Leo seraya meremat bokong istrinya.
Tiga puluh menit kemudian, Cindy dan Leo nampak menegang karena mendapatkan pelepasannya.
Leo tersenyum dengan permainan singkatnya, dia langsung mengecup kening istrinya dan merebahkannya di atas kasur. Dia tarik selimut dan dia tutupi tubuh polos istrinya sampai sebatas lehernya.
"Terima kasih, Sayang." Ciuman hangat dia labuhkan pada bibir istrinya.
"Sama-sama," jawab Cindy kala tautan bibir mereka terlepas.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar ada yang mengetuk pintu, Leo dan Cindy saling pandang. Kemudian Leo pun langsung memakai kimono mandinya dan membukakan pintunya.
Nampaklah dua orang pelayan yang membawkan makanan pesanan Leo dan satu orang penjaga penginapan yang membawa beberapa paper bag di tangannya.
"Masuklah!" kata Leo
Mereka pun masuk sesuai perintah Leo, saat ketiga orang itu masuk, Cindy nampk menenggelamkam tubuhnya di bawah selimut.
"Terima kasih," kata Leo.
Ketiga orang tersebut pun langsung terlihat keluar dari kamar tersebut, Leo nampak mengajak istrinya untuk makan. Karena dia tahu jika istrinya pasti akan lemas setelah dua kali dia ajak untuk bercinta.