
Pagi-pagi sekali, Tuan Arley dan arkana sudah duduk berhadapan di ruang keluarga. Arkana sempat bingung kala Dad'nya sudah berada di rumahnya, padahal sebelumnya tak pernah seperti itu.
Laila tak menemani Dad dan putranya itu, Laila lebih memilih untuk mempersiapkan keperluan Al. Sebenarnya Laila sangat sedih dan tak tega membiarkan Al tinggal di negara Adidaya tersebut.
Karena sedari dulu Al selalu pergi kemana pun bersama dengannya, Al memang lebih manja dibandingkan dengan Adam.
Adam juga dulu pergi ke negara Adidaya diusianya yang ke enam belas tahun, untuk melanjutkan S1 dan S2 di sana. Bedanya Adam ke sana karena prestasi yang membanggakan kala itu, bahkan Adam melanjutkan kuliah karena beasiswa.
Sedangkan Al, pergi karena sebuah kesalahan. Tentu Laila merasa berat, untuk mengiyakan kepergian Al. Menurutnya, anak yang salah langkah seperti Al harus dirangkul dan dibimbing, bukan disuruh pergi untuk merenungkan kesalahannya.
Namun, Laila tak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan tetap ada di tangan Dad mertuanya. Laila hanya bisa pasrah, tak mungkin juga dia membantah.
Tuan Arley bangun dan duduk tepat di samping putranya, dia merangkul Arkana dan mengusap pundaknya dengan lembut.
"Boy," panggil Tuan Arley. "Dad punya permintaan, Dad harap kamu mau mengabulkannya." Tuan Arley menatap manik berwarna biru milik sang putra.
"Apa itu, Dad?" tanya Arkana begitu penasaran, pasalnya Dad'nya tak pernah meminta apa pun dari dirinya.
Tuan Arley sempat ragu untuk berucap, namun dia harus berbicara walaupun harus menutupi kesalahan Al.
"Dad mau Al pergi ke negara tempat Dad dilahirkan, dia akan jadi penerus perusahaan kamu, Nak. Dia akan lebih maksimal dalam mempelajari dunia bisnis jika berada di sana, karena dia bisa langsung terjun kedunia bisnis," kata Tuan Arley.
Arkana terlihat kaget saat mendengar permintaan dari Dad'nya, dia tak menyangka jika permintaannya dirasa sangat sulit. Menurut Arkana, Al terlalu muda, dia tak sama dengan Adam yang sudah terlihat dewasa walau usianya dulu baru lima tahun.
"Tapi, Dad?"
Arkana menatap Dad'nya dengan tatapan penuh protes, dia merasa berat jika harus berpisah dengan putra bungsunya yang manja itu.
"Dad mohon, Dad ingin yang terbaik untuk Al. Biar dia bisa lebih baik lagi," kata Tuan Arley.
"Dad...."
"Boy.... "
Arkana terlihat menghela napas berat, dia benar-benar merasa sangat berat untuk berpisah dengan putra keduanya itu. Walau bagaimanapun, Al putranya yang sangat manja, dia sangat khawatir jika Al berjauhan dengannya.
"Kalau kamu rindu, kamu bisa langsung berkunjung ke sana." Tuan Arley memeluk Arkana dan mengelus lembut punggungnya.
Dia berusaha untuk menenangkan putranya, Tuan Arley sangat paham jika Arkana merasa berat untuk berpisah dengan Al.
Namun, Tuan Arley merasa jika ini adalah yang terbaik untuk Al. Sebenarnya dia ingin berkata jujur pada putranya, namun dia takut ucapannya akan mengganggu kesehatan Arkana.
"Dad mohon, biarkan dia belajar dunia bisnis di sana." Tuan Arley melerai pelukannya, kemudian menatap Arkana dengan lekat.
"Baiklah, Dad." Arkana tertunduk lesu, dia sudah pasrah dengan apa pun kata Dad'nya.
"Good, Boy. Semuanya sudah Dad siapkan, Al akan berangkat pukul sepuluh," kata Tuan Arley.
"Secepat itu, Dad?" tanya Arkana.
"Hem," kata Tuan Arley.
Mendengar putranya yang akan diterbangkan hari ini juga ke negara Adidaya, membuat Arkana gelisah. Arkana langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju kamar Al.
Saat Arkana tiba di kamar Al, dia melihat putranya itu sedang menangis di pelukan ibunya. Al terlihat sangat sedih karena dia harus diberangkatkan ke negara Adidaya, begitupun dengan Laila.
Laila terus saja menangis sambil mendekap putra bungsunya, Arkana segera menghampiri istri dan anaknya tersebut. Lalu Arkana menarik mereka ke dalam pelukannya.
"Ayah tahu jika ini sangat berat untuk kamu, Al. Ayah pun sama, Ayah merasa sangat berat untuk melepaskan kamu. Namun, Ayah yakin jika ini memang lah yang terbaik untuk masa depan kamu," ucap Arkana.
Arkana lalu malarai pelukannya, kemudian dia pun mengecup kening putra bungsunya itu. Sungguh dia merasa tak rela jika harus berpisah dengan putranya itu, namun karena Tuan Arley yang meyakinkan dia pun mau tak mau harus merelakan putra keduanya itu.
"Maafkan aku, Ayah, Ibu. Maaf," ucap Al.
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Al, sebenarnya Al merasa sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Hanya karena ingin membuktikan jika dia tidak bersalah, dia malah menghilangkan satu nyawa yang sedang berkembang di dalam rahim Bella.
Seharusnya Al berkomunikasi terlebih dahulu dengan orang dewasa, tidak gegabah seperti itu. Namun nasi sudah menjadi bubur, Al tidak bisa berbuat apa-apa.
Beruntung Tuan Matiew dan Pak Musa mau memaafkannya, itu saja sudah lebih dari cukup untuk Al. Namun yang Al takutkan, saat Bella sadar dia akan marah padanya.
Karena Bella terlihat begitu menyayangi janin yang ada dalam rahimnya itu, Bahkan Al tak pernah mendengar Bella yang berniat untuk menggugurkan kandungannya.
Jika Arkana masih sempat memberikan wejangan untuk putranya, tidak dengan Laila. Laila terlihat sangat mendalami kesedihannya, dia bahkan sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Dia hanya bisa menangis sambil mengelus lembut punggung putranya, sesekali Laila terlihat mengecup kening AL dan juga memeluknya dengan erat.
Setelah semua siap, Tuan Arley, Laila dan juga Arkana mengantarkan Al menuju Bandara. Al pergi ke negara Adidaya diantar oleh Mahendra, karena tidak mungkin bukan jika Al harus pergi sendiri.
Tuan Arley juga memerintahkan Mahendra untuk menemani Al selama satu minggu di sana, agar Al bisa beradaptasi dulu dengan tempat barunya.
Tuan Arley bahkan meminta Fernandez dan juga istrinya untuk tinggal sementara di rumah Adam, agar Al tidak merasa kesepian.
Tentu saja Fernandez tidak keberatan, apalagi putranya Ferdinand sudah menikah dan mempunyai istri. Dia juga tidak keberatan sama sekali, justru dia merasa sangat senang karena mempunyai teman dalam hari-harinya.
"Jaga diri baik-baik, Sayang." Laila memeluk putranya, dia menangis dalam pelukan Al.
"Iya, Bu. Al akan belajar jadi anak yang lebih baik lagi, maaf," ucap Al.
Laila tak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya memeluk Al dengan erat. Tak lama Al meregangkan pelukannya, dia menatap Laila dan mengusap air matanya.
"Jangan bersedih, Al pergi untuk belajar. " ucap Al lalu memeluk Laila dan mengecupi puncak kepala ibunya.
Al juga memeluk Ayah dan juga Grandpanya, walaupun berat Al tetap pergi juga. Mahendra yang melihatnya pun sampai meneteskan air matanya.