Who Is Adam?

Who Is Adam?
Barisan Masa Lalu



"Ah, kamu benar. Kamu terlihat sangat tampan sekarang, lalu, sedang apa di sini?" tanya Adisha.


"Kamu tahu Sha? Sekarang aku punya perusahaan sendiri, walaupun tidak besar, tapi perusahaan itu aku bangun dengan tangan ku sendiri." ucap Andri.


"Oh, Ya? Hebat kamu," ucap Adisha dengan wajah malasnya .


"Terimakasih atas pujiannya, kalau saja hari ini aku tidak akan bertemu dengan klien yang sangat penting. Aku pasti sudah mengajak mu untuk ngopi, kamu masih suka ngopi kan, Sha?" tanya Andri.


"Masih, tapi sudah jarang soalnya sekarang aku sudah--"


Ucapan Adisha terhenti, karena ternyata ponselnya Andri berdering dengan nyaring. Andri pun dengan cepat mengangkat panggilan masuk itu.


"Ah, iya baik." ucap Andri.


Andri langsung menutup panggilan teleponnya, kemudian dia pun memandang Adisha dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Aku tinggal ya, Sha. Soalnya aku ada meeting penting, ini, di Caffe sebelah sini. Nanti kalau ada waktu kamu bisa mampir ke sebelah," pamit Andri.


Adisha hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, setelah mendapat anggukan dari Adisha, Andri pun langsung pergi ke Caffe yang berada tepat di samping toko tas yang sedang Adisha, Laila dan juga Eliza sambangi.


Setelah kepergian Andri, Laila dan Eliza yang merasa penasaran pun langsung menarik tangan Adisha dan mengajaknya untuk duduk di sofa tunggu.


Adisha sudah yakin, bahwa dia pasti akan diinterogasi olah kedua wanita muda tersebut.


"Ada apa?" tanya Adisha.


"Jelaskan siapa lelaki tadi, Mom!" pinta Laila.


"Iya bener, Tan. Siapa lelaki tadi? Bukan nya apa-apa, tapi, Om Arley sudah menitipkan Tante pada kami." ucap Eliza.


Adisha nampak menghela nafas panjang, sebenarnya dia malas untuk menjelaskan siapa Andri. Karena dari dulu, dia memang tidak pernah menyukai lelaki yang bernama Andri itu.


"Andri, adalah lelaki yang selalu mengejar-ngejar aku waktu SMA." jawab Adisha.


"Terus, Apakah Mommy pernah berpacaran dengannya?" tanya Laila.


Adisha nampak membayangkan penampilan Andri saat SMA, lalu dia pun terlihat bergidig.


"No, jangankan menerimanya untuk menjadi pacar, deket-deket pun, OGAH." tegas Adisha.


Laila dan Eliza pun langsung tertawa terbahak-bahak, mereka merasa senang saat menggoda Adisha, apalagi saat Adisha terlihat kesal seperti itu.


"Memangnya, dulu dia kenapa, Tan?" tanya Eliza.


"Dari dulu dia itu memang selalu berpenampilan rapih, bahkan terkesan sangat rapih. Rambutnya saja, sampai rapih banget. Kayaknya itu minyak rambutnya, satu cup dia pake untuk satu kali pakai."


Adisha terlihat membayangkan penampilan rambut Andri saat SMA, yang selalu terlihat sangat klimis dan licin.


Eliza dan Laila kembali tertawa terbahak-bahak, mereka sangat suka melihat ekspresi Adisha yang terlihat jijik saat membayangkan sesuatu yang dia ceritakan.


"Sudah ah, ngga enak sama yang punya toko. Mendingan kita buruan pilih tasnya, habis itu kita ngopi. Mumpung ngga ada, Mas Arley." ucap Adisha.


"Memangnya kenapa, Mom? " tanya Laila.


"Kalau ada Mas Arley, aku ngga boleh ngopi. Ngga sehat, katanya." ucap Adisha.


"Ah, iya bener. Memang ngga sehat, apa lagi aku lagi hamil. Ngga boleh ngopi, tapi di Caffe sebelah aku lihat tidak hanya menawarkan kopi kok." ucap Laila.


"Ya udah, cus belanja.." ajak Eliza.


Dan pada akhirnya, Eliza, Laila dan juga Adisha. Nampak memilih-milih tas yang menurut mereka cantik, mereka tidak melihat dari harganya.


Setelah mendapatkan barang yang mereka inginkan, mereka pun langsung membayar ke kasir. Tentunya, menggunakan kartu yang diberikan oleh suaminya masing-masing.


Setelah selsai belanja, mereka pun langsung menuju Caffe yang ada di sebelah toko tas tersebut.


Saat tiba di Caffe, Eliza dan juga Adisha langsung memesan kopi, sedangkan Laila dia memilih memesan milk shake. Karena walaupun ingin, tapi dia tidak mau sampai Arkana marah. Alasannya, tentu saja karena Laila sedang hamil.


Setelah pesanan mereka tiba, Adisha langsung mengambil kopi latte hangat yang sudah disediakan oleh seorang pelayan.


"Sayang, sudah aku katakan. Kamu tidak boleh meminum kopi," ucap Tuan Arley yang ternyata sudah berada tepat di samping Adisha.


"Astagfirullah," kaget Adisha.


Segelas kopi yang sedang dia pegang, hampir saja terjatuh. Untung saja, Tuan Arley sangat sigap, dengan cepat dia menahan tangan Adisha.


"Mas!!!" panggil Adisha.


"Om," panggil Eliza.


"Dad," panggil Laila.


Tuan Arley nampak terkekeh melihat ekspresi ketiga wanita muda di hadapannya.


"Kenapa kalian kaget seperti itu?" tanya Tuan Arley.


"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya saja, aku kaget. Karena kamu tiba-tiba berada di samping ku." ucap Adisha.


"Aku habis meeting dengan klien," tunjuk Tuan Arley pada seseorang yang berada tak jauh dari mereka.


Eliza, Laila dan juga Adisha langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Tuan Arley. Dan mereka pun sangat kaget, karena yang di tunjukkan oleh Tuan Arley ternyata adalah Andri teman Adisha sendiri.


Andri juga terlihat sangat kaget, saat melihat Tuan Arley yang memperlakukan Adisha dengan sangat manis.


"Meeting nya sudah selesai, Yang?" tanya Adisha.


"Sudah, ayo gabung sama, Mas. Sekalian Mas kenalin sama klien, Mas." ucap Tuan Arley.


"Hehehe,,, aku di sini saja, Mas." ucap Adisha.


"No, kita ke sana saja." ajak Tuan Arley.


Tuan Arley langsung merangkul pundak Adisha, kemudian diapun menuntun Adisha menuju meja tempat dia melakukan meeting.


Laila dan Eliza pun mau tak mau langsung mengikuti mereka berdua.


"Tuan Andri, perkenalkan. Ini Adisha, Istri saya." ucap Tuan Arley.


Andri terlihat kaget, karena ternyata wanita incarannya sudah menikah. Padahal, dia sengaja membuka usaha sendiri dan berusaha menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar, agar bisa sukses dan segera menikahi Adisha.


Andri bahkan selalu mengikuti berita tentang Adisha, bahkan bulan kemarin, Andri baru saja mendapat kabar bahwa Adisha masih sendiri.


"Ehm, kenapa anda diam saja, Tuan Andri?" tanya Tuan Arley.


"Ehm, Sayang. Aku sudah mengenalnya, dia teman SMA ku." ucap Adisha.


"Oh, bagus kalau begitu. Tidak salah, aku menerima tawaran kerja sama darinya." ucap Tuan Arley sambil mengelus-elus tangan Adisha.


"Ya tuhan,,, Kalau boleh milih, mending ngga usah di terima. Pasti kedepannya kita akan sering ketemu, Kayaknya aku ngga sanggup kalau harus sering melihat mereka berduaan." batin Andri


Laila dan Eliza jadi merasa tak enak hati, saat melihat drama rumah tangga Adisha dan Tuan Arley. Apa lagi saat melihat wajah kecewa Andri, mereka merasa tak tega.